Memahami Hakikat Akhlak: Terpuji dan Tercela

Baik Jelek PILIHAN AKHLAK

Ilustrasi visual keseimbangan pilihan moral.

Dalam kajian etika dan moralitas, terutama dalam perspektif Islam, akhlak memegang peranan sentral dalam menentukan kualitas diri seorang individu. Akhlak, yang secara harfiah berarti perilaku atau tabiat, adalah manifestasi nyata dari nilai-nilai yang dipegang teguh seseorang. Pemahaman yang mendalam mengenai **pengertian akhlak terpuji dan tercela** sangat penting karena keduanya membentuk fondasi interaksi sosial dan hubungan spiritual seseorang.

Apa Itu Akhlak?

Akhlak merujuk pada sifat batin dan kebiasaan yang tertanam dalam jiwa seseorang, yang kemudian mendorongnya untuk melakukan perbuatan tertentu tanpa perlu banyak pertimbangan atau paksaan. Jika kebiasaan tersebut baik dan disenangi secara syariat maupun akal sehat, ia disebut akhlak mulia atau terpuji. Sebaliknya, jika kebiasaan tersebut buruk dan menyebabkan kerugian atau dosa, ia disebut akhlak mazmumah atau tercela.

Pengertian Akhlak Terpuji (Mahmudah)

Akhlak terpuji (Mahmudah) adalah segala perilaku, ucapan, dan watak yang dianggap baik, positif, dan sesuai dengan prinsip moralitas luhur. Memiliki akhlak terpuji adalah tujuan utama setiap individu yang beriman, karena ia mencerminkan kebersihan hati dan kedekatan kepada Tuhan.

Contoh utama dari akhlak terpuji meliputi:

  • Jujur (Shiddiq): Selalu berkata benar dan menepati janji, baik dalam perkataan maupun perbuatan.
  • Sabar (Shabr): Mampu menahan diri dari keluh kesah ketika menghadapi kesulitan, cobaan, atau musibah.
  • Pemurah (Kariim): Bersikap dermawan, ringan tangan dalam memberi pertolongan atau harta tanpa mengharapkan imbalan.
  • Rendah Hati (Tawadhu'): Tidak merasa lebih unggul dari orang lain, menghargai sesama, dan jauh dari kesombongan.
  • Syukur (Syukur): Mengakui dan menghargai nikmat yang diterima, serta menampakkannya dalam perilaku positif.

Mengembangkan akhlak terpuji membutuhkan usaha berkelanjutan (mujahadah), lingkungan yang mendukung, dan refleksi diri yang jujur.

Pengertian Akhlak Tercela (Mazmumah)

Sebaliknya, akhlak tercela (Mazmumah) adalah sifat-sifat batin yang buruk, kebiasaan yang merusak diri sendiri, dan perilaku yang menyimpang dari norma-norma kebajikan. Akhlak ini sering kali bersumber dari hawa nafsu yang tidak terkendali, ketidaktahuan, atau kelemahan iman.

Dampak dari akhlak tercela tidak hanya merugikan orang lain tetapi juga merusak citra diri dan mengurangi nilai spiritual seseorang di hadapan Tuhannya.

Beberapa contoh akhlak tercela yang umum ditemukan:

  • Pembohong (Kadzdzab): Senang berdusta dan menipu, yang akan menghilangkan kepercayaan orang lain.
  • Sombong (Kibr): Merasa diri lebih baik, meremehkan orang lain, dan menolak kebenaran.
  • Hasad (Dengki): Merasa tidak senang atas kebahagiaan orang lain dan menginginkan hilangnya nikmat tersebut.
  • Kikir (Bakhil): Enggan mengeluarkan harta atau tenaga untuk kebaikan, meskipun ia mampu.
  • Ghibah (Menggunjing): Membicarakan keburukan orang lain di belakang mereka, sebuah tindakan yang sangat dilarang.

Perbedaan mendasar antara kedua jenis akhlak ini terletak pada dampaknya: akhlak terpuji membangun harmoni sosial dan kedekatan spiritual, sedangkan akhlak tercela justru menciptakan perpecahan, konflik, dan kehancuran batin.

Mengapa Pemilahan Akhlak Penting?

Pemilahan antara yang terpuji dan tercela adalah langkah awal menuju perbaikan diri yang signifikan. Dalam konteks kehidupan sehari-hari, akhlak adalah 'wajah' sesungguhnya dari ajaran yang kita yakini. Seseorang mungkin tampak saleh dari luar karena melaksanakan ritual ibadah, namun jika perilakunya sehari-hari didominasi oleh sifat iri atau bohong, maka kualitas spiritualnya patut dipertanyakan.

Intinya, akhlak terpuji adalah jalan menuju kedamaian batin dan penerimaan sosial, menjadikannya investasi jangka panjang bagi kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sebaliknya, menjauhi akhlak tercela adalah bentuk upaya membersihkan hati dari karat yang dapat menghalangi cahaya kebenaran masuk.

🏠 Homepage