Ilustrasi visual keseimbangan pilihan moral.
Dalam kajian etika dan moralitas, terutama dalam perspektif Islam, akhlak memegang peranan sentral dalam menentukan kualitas diri seorang individu. Akhlak, yang secara harfiah berarti perilaku atau tabiat, adalah manifestasi nyata dari nilai-nilai yang dipegang teguh seseorang. Pemahaman yang mendalam mengenai **pengertian akhlak terpuji dan tercela** sangat penting karena keduanya membentuk fondasi interaksi sosial dan hubungan spiritual seseorang.
Akhlak merujuk pada sifat batin dan kebiasaan yang tertanam dalam jiwa seseorang, yang kemudian mendorongnya untuk melakukan perbuatan tertentu tanpa perlu banyak pertimbangan atau paksaan. Jika kebiasaan tersebut baik dan disenangi secara syariat maupun akal sehat, ia disebut akhlak mulia atau terpuji. Sebaliknya, jika kebiasaan tersebut buruk dan menyebabkan kerugian atau dosa, ia disebut akhlak mazmumah atau tercela.
Akhlak terpuji (Mahmudah) adalah segala perilaku, ucapan, dan watak yang dianggap baik, positif, dan sesuai dengan prinsip moralitas luhur. Memiliki akhlak terpuji adalah tujuan utama setiap individu yang beriman, karena ia mencerminkan kebersihan hati dan kedekatan kepada Tuhan.
Contoh utama dari akhlak terpuji meliputi:
Mengembangkan akhlak terpuji membutuhkan usaha berkelanjutan (mujahadah), lingkungan yang mendukung, dan refleksi diri yang jujur.
Sebaliknya, akhlak tercela (Mazmumah) adalah sifat-sifat batin yang buruk, kebiasaan yang merusak diri sendiri, dan perilaku yang menyimpang dari norma-norma kebajikan. Akhlak ini sering kali bersumber dari hawa nafsu yang tidak terkendali, ketidaktahuan, atau kelemahan iman.
Dampak dari akhlak tercela tidak hanya merugikan orang lain tetapi juga merusak citra diri dan mengurangi nilai spiritual seseorang di hadapan Tuhannya.
Beberapa contoh akhlak tercela yang umum ditemukan:
Perbedaan mendasar antara kedua jenis akhlak ini terletak pada dampaknya: akhlak terpuji membangun harmoni sosial dan kedekatan spiritual, sedangkan akhlak tercela justru menciptakan perpecahan, konflik, dan kehancuran batin.
Pemilahan antara yang terpuji dan tercela adalah langkah awal menuju perbaikan diri yang signifikan. Dalam konteks kehidupan sehari-hari, akhlak adalah 'wajah' sesungguhnya dari ajaran yang kita yakini. Seseorang mungkin tampak saleh dari luar karena melaksanakan ritual ibadah, namun jika perilakunya sehari-hari didominasi oleh sifat iri atau bohong, maka kualitas spiritualnya patut dipertanyakan.
Intinya, akhlak terpuji adalah jalan menuju kedamaian batin dan penerimaan sosial, menjadikannya investasi jangka panjang bagi kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sebaliknya, menjauhi akhlak tercela adalah bentuk upaya membersihkan hati dari karat yang dapat menghalangi cahaya kebenaran masuk.