Volume ejakulasi cairan sperma (semen) yang normal bervariasi, namun umumnya berada di kisaran 1,5 hingga 5 mililiter per ejakulasi. Jika Anda secara konsisten memperhatikan bahwa volume ejakulasi Anda jauh lebih rendah dari kisaran normal tersebut, hal ini bisa menjadi sumber kekhawatiran. Meskipun penurunan volume seringkali tidak selalu berarti masalah kesuburan yang serius, penting untuk memahami potensi penyebabnya.
Banyak faktor yang terkait dengan gaya hidup sehari-hari dapat memengaruhi seberapa banyak cairan yang dihasilkan tubuh selama ejakulasi. Volume semen sangat bergantung pada hidrasi dan kesehatan secara umum.
Beberapa kondisi kesehatan yang mendasari atau masalah pada sistem reproduksi pria dapat menjadi penyebab utama volume semen yang berkurang.
Saluran yang membawa cairan dari kelenjar prostat dan vesikula seminalis ke uretra bisa mengalami penyumbatan (obstruksi). Penyumbatan ini dapat disebabkan oleh:
Ketika obstruksi terjadi, meskipun produksi cairan mungkin normal, alirannya terhambat, mengakibatkan volume yang keluar menjadi minim.
Hormon testosteron memainkan peran vital dalam produksi cairan reproduksi. Kadar testosteron yang rendah (hipogonadisme) dapat mengurangi volume semen. Kondisi ini sering dikaitkan dengan masalah pada testis atau kelenjar pituitari.
Dua kelenjar ini bertanggung jawab memproduksi sebagian besar volume cairan semen. Masalah kesehatan pada organ ini secara langsung memengaruhi output:
Beberapa jenis obat dan intervensi medis juga dikenal memiliki efek samping yang mengurangi volume ejakulasi. Ini termasuk beberapa obat yang digunakan untuk mengelola tekanan darah tinggi (terutama penghambat beta) atau obat yang memengaruhi sistem saraf pusat.
Selain itu, operasi pada daerah panggul, seperti operasi prostat yang luas (misalnya, untuk kanker prostat), dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan yang memproduksi atau menyalurkan cairan semen, mengakibatkan ejakulasi retrograde (semen masuk kembali ke kandung kemih) atau penurunan produksi yang signifikan.
Memahami penyebab adalah langkah pertama. Mengatasi masalah hidrasi, mengatur frekuensi hubungan intim, serta mengelola stres seringkali dapat memulihkan volume normal. Jika langkah-langkah sederhana ini tidak berhasil, pemeriksaan medis lebih lanjut diperlukan untuk mengidentifikasi dan mengatasi akar masalah yang mungkin lebih kompleks.