Dalam konteks moralitas dan etika dalam masyarakat Indonesia, dua istilah seringkali digunakan secara bergantian, yaitu budi pekerti dan akhlak. Meskipun keduanya merujuk pada perilaku baik dan nilai-nilai luhur, terdapat perbedaan mendasar dalam cakupan, sumber, dan orientasi kedua konsep tersebut. Memahami perbedaan ini penting untuk mengaplikasikan standar moral yang tepat dalam kehidupan sehari-hari.
Definisi dan Lingkup Budi Pekerti
Budi pekerti merupakan istilah yang sangat kental dengan budaya Indonesia, khususnya dalam tradisi Jawa dan kebudayaan Nusantara secara umum. Secara harfiah, "budi" merujuk pada akal, kesadaran, atau kebajikan, sementara "pekerti" adalah perbuatan atau tingkah laku yang muncul dari budi tersebut. Budi pekerti menekankan pada kesopanan, tata krama, menghormati orang yang lebih tua, keramahan, dan kepekaan sosial.
Fokus utama budi pekerti adalah pada aspek interaksi sosial dan bagaimana seseorang menampilkan dirinya di tengah masyarakat. Ini adalah tentang bagaimana bersikap yang dianggap pantas, santun, dan sesuai dengan norma-norma adat istiadat setempat. Seseorang yang memiliki budi pekerti luhur biasanya dikenal sebagai orang yang baik tutur katanya, tidak menyakiti perasaan orang lain, dan pandai menempatkan diri. Sumber utamanya seringkali bersifat kultural dan kontekstual, yaitu dipelajari melalui lingkungan, pendidikan formal (seperti pendidikan karakter di sekolah), dan tradisi.
Memahami Konsep Akhlak
Sebaliknya, akhlak (serapan dari bahasa Arab) memiliki cakupan yang lebih luas dan mendalam, seringkali berakar pada dimensi spiritual atau religius. Akhlak merujuk pada karakter batiniah seseorang, yaitu watak, tabiat, dan disposisi moral yang menentukan kualitas spiritual dan perilaku seseorang.
Jika budi pekerti lebih menekankan pada penampilan luar yang sopan (etika sosial), akhlak menelusuri hingga ke niat dan motivasi di balik tindakan tersebut (moralitas sejati). Dalam banyak tradisi agama, akhlak yang baik diukur dari kesesuaian perilaku dengan ajaran ilahi atau prinsip universal tentang benar dan salah yang bersifat transenden. Misalnya, kejujuran (siddiq) atau amanah adalah inti dari akhlak, di mana tindakan tersebut harus dilakukan tulus bukan hanya karena dilihat orang lain, tetapi karena keyakinan internal.
Secara sederhana, budi pekerti adalah bagaimana kita bertingkah di depan umum, sedangkan akhlak adalah bagaimana kita berpikir dan merasa tentang kebenaran dan keburukan tindakan kita, terlepas dari pengawasan orang lain.
Perbedaan Kunci: Sumber dan Orientasi
Perbedaan mendasar antara keduanya terletak pada sumber dan orientasi nilai tersebut:
- Sumber Nilai: Budi pekerti sangat dipengaruhi oleh norma dan adat istiadat sosial serta budaya lokal yang bersifat relatif. Sementara itu, akhlak seringkali bersumber dari prinsip moral universal atau ajaran agama yang cenderung absolut dan tidak terikat pada konteks sosial tertentu.
- Fokus Penerapan: Budi pekerti fokus pada interaksi horizontal (antar sesama manusia dalam masyarakat), menekankan pada kesopanan dan adab. Akhlak fokus pada hubungan vertikal (kepada Tuhan/prinsip kebenaran) yang kemudian termanifestasi dalam hubungan horizontal.
- Kedalaman: Akhlak mencakup ranah hati, niat, dan keyakinan batiniah. Budi pekerti lebih menekankan pada ekspresi perilaku yang terlihat dan diterima secara sosial. Seseorang bisa saja tampak berbudi pekerti luhur karena terpaksa mengikuti aturan, namun akhlaknya belum tentu sejalan jika niatnya hanya untuk pujian.
Sinergi dalam Pembentukan Karakter
Meskipun berbeda, budi pekerti dan akhlak tidak seharusnya dipandang sebagai entitas yang bertentangan, melainkan sebagai dua sisi mata uang karakter yang saling melengkapi. Idealnya, individu yang berkarakter utuh adalah mereka yang memiliki akhlak yang mulia (niat murni dan prinsip kuat) yang kemudian diejawantahkan dalam budi pekerti yang luhur (perilaku sopan dan santun dalam interaksi sosial).
Pendidikan karakter modern seringkali mencoba mengintegrasikan kedua aspek ini. Seseorang yang hanya fokus pada akhlak namun mengabaikan budi pekerti mungkin akan menjadi pribadi yang kaku, kurang peka terhadap dinamika sosial. Sebaliknya, seseorang yang hanya mengandalkan budi pekerti tanpa landasan akhlak yang kokoh rentan menjadi munafik atau hanya sekadar "jaga penampilan."
Oleh karena itu, pemahaman yang jelas mengenai perbedaan ini membantu kita dalam menilai dan mengembangkan diri. Kita didorong untuk menata perilaku agar sesuai dengan tuntutan sosial (budi pekerti), sambil terus mengasah kejujuran batin dan ketulusan hati berdasarkan nilai-nilai hakiki (akhlak). Kedua hal ini adalah pilar penting dalam membangun masyarakat yang tidak hanya tertib secara lahiriah, tetapi juga damai dan beretika secara batiniah.