Menelisik Nurani: Pertanyaan Kritis Mahasiswa tentang Akhlak Tasawuf
Dunia modern seringkali menempatkan praktik spiritual di pinggiran diskursus akademis. Namun, di ruang-ruang perkuliahan, terutama pada mata kuliah yang mengkaji Tasawuf dan Akhlak, muncul gelombang pertanyaan mendalam dari mahasiswa. Mereka tidak hanya mencari definisi tekstual, tetapi juga relevansi praktis dan tantangan kontemporer dalam menginternalisasi nilai-nilai luhur ini. Berikut adalah rangkuman beberapa pertanyaan fundamental yang sering muncul, beserta perspektif jawabannya.
1. Apa perbedaan mendasar antara "akhlak mulia" (etika Islam umum) dan "akhlak tasawuf"? Apakah keduanya tumpang tindih?
Jawaban: Akhlak umum (fiqh al-akhlaq) menekankan pada perilaku lahiriah yang sesuai syariat, seperti jujur dan amanah. Sementara itu, akhlak tasawuf (atau akhlak al-suluk) fokus pada pembersihan hati (tazkiyatun nafs) sebagai akar dari perilaku tersebut. Jika akhlak umum adalah buahnya, maka akhlak tasawuf adalah proses penyiraman akarnya. Misalnya, jujur lahiriah adalah akhlak umum; menghilangkan hasrat menipu dari dalam hati adalah dimensi tasawufnya. Keduanya esensial, namun tasawuf memberikan kedalaman spiritualnya.
2. Di era digital dan kecepatan informasi, bagaimana seorang mahasiswa bisa menerapkan konsep 'Muraqabah' (merasa selalu diawasi Tuhan) tanpa menjadi cemas atau paranoid?
Jawaban: Muraqabah yang benar adalah kesadaran akan kehadiran ilahi yang menenangkan, bukan menakutkan. Kunci penerapannya adalah membedakan antara pengawasan yang menuntut pertanggungjawaban (taqwim) dan kehadiran yang penuh kasih sayang (mahabbah). Mahasiswa dapat memulainya dengan latihan refleksi singkat setelah setiap tugas atau interaksi. Jika rasa cemas muncul, itu pertanda fokusnya masih pada 'ancaman hukuman'. Arahkan kembali niat menjadi 'ingin menyenangkan Sang Kekasih', yang membawa ketenangan batin.
3. Bagaimana menyikapi pandangan bahwa Tasawuf hanyalah urusan mistik dan tidak relevan dengan disiplin ilmu umum seperti sains atau ekonomi?
Jawaban: Ini adalah miskonsepsi besar. Tasawuf, pada intinya, adalah metodologi pengembangan karakter. Seorang ilmuwan yang bermoral tinggi, tidak korup dalam penelitiannya, dan berdedikasi pada kebenaran objektif, sedang mengamalkan akhlak tasawuf. Ilmuwan yang dilandasi tasawuf (misalnya, prinsip Ihsan dalam bekerja) akan menghindari plagiarisme karena takut pada ketidakjujuran batin, bukan hanya takut sanksi akademik. Tasawuf menyediakan fondasi etika yang kuat bagi pencapaian ilmu apa pun.
4. Dalam konteks pergaulan sosial, di mana batas antara sikap tawadhu (rendah hati) dengan kurangnya percaya diri atau mudah dimanfaatkan orang lain?
Jawaban: Tawadhu sejati berasal dari kesadaran diri yang jujur (ma'rifatun nafs). Orang yang tawadhu tahu batas kemampuannya dan tidak menyombongkan diri, namun ia tetap memiliki harga diri yang tegak karena ia sadar nilainya di sisi Allah. Bedanya adalah: orang yang mudah dimanfaatkan seringkali bersikap *tawadhu palsu* karena ketakutan sosial atau rendah diri yang tidak sehat. Sementara tawadhu yang benar tidak mengorbankan hak orang lain, termasuk hak untuk berkata "tidak" jika itu melanggar prinsip agamanya.
5. Bagaimana cara mahasiswa bisa mulai membersihkan hati (tazkiyatun nafs) ketika jadwal perkuliahan padat dan godaan duniawi sangat kuat?
Jawaban: Pembersihan hati tidak memerlukan waktu berjam-jam di gua, tetapi memerlukan konsistensi di setiap detik. Mulailah dengan "Dzikir Harian Kecil":
5 Menit Saat Bangun: Niatkan setiap tindakan hari itu untuk ibadah.
Selama Perjalanan: Mengganti *scrolling* media sosial dengan istighfar atau shalawat.
Saat Menghadapi Tekanan: Menggunakan teknik *stop-and-breathe* untuk menenangkan emosi dan mengembalikan niat (ikhlas).
Konsistensi kecil jauh lebih unggul daripada intensitas sesaat. Akhlak tasawuf adalah maraton spiritual, bukan lari cepat.
Signifikansi di Tengah Pusaran Kehidupan Kampus
Pertanyaan-pertanyaan di atas menegaskan bahwa mahasiswa kini mencari kedalaman makna. Mereka tidak lagi puas dengan ritualitas kosong. Akhlak tasawuf menawarkan kerangka kerja internal yang memungkinkan mereka untuk menghadapi tekanan akademis, dilema moral dalam pertemanan, dan ambisi karir dengan integritas spiritual yang utuh. Mengintegrasikan *ihsan* dalam setiap kuliah, laporan, dan interaksi sosial adalah bentuk jihad akademik yang paling relevan di abad ini. Studi tentang akhlak tasawuf, oleh karenanya, bukan sekadar kajian sejarah pemikiran Islam, melainkan peta jalan menuju keberhasilan pribadi dan spiritual yang seimbang.