Kajian QS. Al-Hijr Ayat 88: Tentang Keindahan yang Fana dan Kekekalan Akhirat

Simbol Refleksi Kehidupan

Refleksi tentang hal yang sementara

Surat Al-Hijr, yang namanya diambil dari nama lembah tempat kaum Tsamud pernah tinggal, mengandung banyak pelajaran penting mengenai keimanan, tauhid, serta peringatan bagi mereka yang berpaling dari ajaran Allah SWT. Salah satu ayat yang sering kali memicu perenungan mendalam adalah ayat ke-88.

Teks dan Terjemahan QS. Al-Hijr Ayat 88

لَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ
Lā tamudda’anna ‘ainayka ilā mā matta‘nā bihī azwājan minhum wa lā taḥzan ‘alaihim wakhfiḍ janāḥaka lil-mu’minīn. Janganlah engkau sekali-kali memalingkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan mereka (orang-orang kafir) dan janganlah engkau bersedih hati terhadap mereka, dan rendahkanlah sayapmu untuk orang-orang mukmin.

Pelajaran Utama dari Ayat ke-88

Ayat ini ditujukan langsung kepada Nabi Muhammad SAW, namun mengandung hikmah universal yang berlaku bagi seluruh umat Islam. Ayat ini memuat tiga instruksi penting yang saling terkait, yang jika direnungkan, akan membawa ketenangan jiwa dan fokus yang benar dalam menjalani kehidupan.

1. Larangan Memalingkan Pandangan kepada Kenikmatan Duniawi

Bagian pertama, "Janganlah engkau sekali-kali memalingkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan mereka," adalah peringatan keras terhadap sifat hasad (iri hati) dan terpedaya oleh kemewahan duniawi yang dinikmati oleh orang-orang yang ingkar atau lalai. Allah SWT menegaskan bahwa kemewahan dunia adalah ujian dan kesenangan sesaat. Membandingkan apa yang dimiliki orang lain, terutama mereka yang tidak beriman, adalah tindakan yang membuang energi spiritual.

Bagi seorang mukmin, fokus utama seharusnya bukan pada perbandingan materi, melainkan pada kualitas amal dan kedekatan dengan Allah. Ketika seseorang terlalu fokus pada apa yang dinikmati orang lain—jabatan, harta, atau popularitas fana—maka hatinya akan terus merasa kekurangan, terlepas dari seberapa besar nikmat yang ia miliki saat ini. Ayat ini mengajarkan untuk memandang dunia sebagaimana adanya: sementara dan tidak kekal.

2. Larangan Bersedih terhadap Keengganan Mereka

Instruksi kedua, "dan janganlah engkau bersedih hati terhadap mereka," ditujukan kepada kesedihan Nabi SAW atas kaumnya yang menolak dakwah. Dalam konteks yang lebih luas, ini mengajarkan umat Islam untuk tidak membebani pikiran secara berlebihan terhadap penolakan orang lain terhadap kebenaran. Upaya penyampaian dakwah sudah dilakukan, namun hasil akhirnya berada di tangan Allah.

Kesesatan atau penolakan orang lain tidak boleh sampai melumpuhkan semangat seorang mukmin. Kesedihan yang berlebihan dapat mengganggu fokus pada tugas utama, yaitu beribadah dan menjalankan misi kebaikan. Kita hanya bertanggung jawab atas usaha kita, bukan atas hasil hati orang lain.

3. Kewajiban Merendahkan Diri kepada Orang Mukmin

Bagian penutup ayat ini memberikan perintah yang kontras dengan dua larangan sebelumnya: "dan rendahkanlah sayapmu untuk orang-orang mukmin." Kata "merendahkan sayap" (اخْفِضْ جَنَاحَكَ) adalah metafora yang sangat indah. Ini menggambarkan sikap kerendahan hati, kasih sayang, dan perlindungan total, layaknya induk burung yang menaungi anak-anaknya dengan sayapnya.

Ini adalah perintah untuk bersikap tawadhu (rendah hati), lembut, dan penuh kasih sayang kepada sesama saudara seiman. Keindahan sejati seorang mukmin bukan terletak pada apa yang ia miliki di dunia (yang dilarang untuk diperhatikan), melainkan pada kualitas hubungannya dengan sesama mukmin. Interaksi yang didasari keikhlasan dan kerendahan hati inilah yang akan menjadi penyeimbang antara godaan dunia dan kesedihan akibat penolakan.

Implikasi Spiritualitas dalam Kehidupan Modern

Di era digital saat ini, di mana perbandingan sosial mudah terjadi melalui media, ayat ini menjadi semakin relevan. Kita terus-menerus disuguhi "kenikmatan hidup" orang lain, yang sering kali hanya merupakan etalase kesuksesan yang semu. Al-Hijr ayat 88 mengajak kita untuk mematikan notifikasi hasad dan menyalakan filter spiritualitas.

Dengan tidak memalingkan pandangan pada kemewahan fana, kita menghemat energi untuk fokus pada apa yang abadi. Dengan menerima bahwa penolakan adalah bagian dari proses, kita menjaga kedamaian batin. Dan dengan merendahkan diri kepada sesama mukmin, kita membangun fondasi komunitas yang kokoh, penuh cinta kasih, yang justru merupakan sumber kekuatan sejati di sisi Allah SWT.

Memahami dan mengamalkan ayat ini berarti memilih jalan optimisme yang berlandaskan iman, bukan pesimisme yang didasarkan pada ilusi dunia. Keindahan sejati terletak pada kepatuhan, bukan pada apa yang dipamerkan oleh orang lain.

🏠 Homepage