Surat Al-Hijr, yang merupakan surat Makkiyah, sarat dengan penegasan tentang keesaan Allah, mukjizat Al-Qur'an, serta kisah-kisah peringatan bagi umat terdahulu. Di penghujung surat ini, Allah SWT menutupnya dengan sebuah ayat yang memiliki kedalaman spiritual luar biasa, yaitu ayat ke-99. Ayat ini secara lugas memerintahkan kepada Rasulullah SAW—dan secara implisit kepada seluruh umat Islam—untuk memegang teguh kesabaran.
Perintah "Fasbir" (Maka bersabarlah) adalah perintah langsung yang menuntut keteguhan hati dalam menghadapi segala bentuk ujian, cemoohan, dan penundaan hasil dari dakwah. Dalam konteks kenabian, Rasulullah SAW menghadapi penolakan keras dari kaum Quraisy. Kesabaran di sini bukan berarti pasif, melainkan kesabaran yang dibarengi dengan keistiqamahan dalam menjalankan perintah dan keyakinan penuh terhadap janji Ilahi.
Landasan utama kesabaran itu diperkuat dengan penegasan: "Inna wa'dal-lahi haqqun" (Sesungguhnya janji Allah itu benar). Janji Allah tidak pernah meleset, baik janji berupa pertolongan di dunia, kemenangan atas musuh, maupun balasan akhirat yang sempurna. Ketika seseorang yakin bahwa setiap usaha baik dan setiap penderitaan di jalan ketaatan akan dibalas tuntas oleh Dzat Yang Maha Benar, maka godaan untuk berhenti atau putus asa akan melemah.
Keyakinan ini menjadi perisai spiritual. Jika kita merasa bahwa tujuan kita jauh atau hasil perjuangan tertunda, ayat ini mengingatkan bahwa penundaan tersebut hanyalah bagian dari skenario hikmah Allah yang pasti menuju kebenaran. Dalam kehidupan modern, ayat ini relevan ketika menghadapi target dakwah yang lambat tercapai, bisnis yang mengalami kesulitan, atau saat menjalani proses penyembuhan yang panjang.
Bagian kedua dari ayat ini memberikan peringatan keras: "Wa la yastakhiffannakal ladzina laa yuuqinuun" (Sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak yakin itu menggelisahkan kamu). Istilah "yastakhiffannaka" mengandung makna meremehkan, menggoyahkan, atau membuat ringan (sehingga kita menjadi tidak serius). Orang-orang yang tidak yakin (laa yuuqinuun) adalah mereka yang imannya tipis, sering meragukan janji Allah, dan cenderung mencari jalan pintas duniawi.
Mereka yang kurang yakin sering kali menggunakan cara-cara pragmatis atau bahkan menekan orang beriman agar mengikuti cara mereka yang mudah namun melanggar prinsip. Misalnya, mereka mungkin mengatakan, "Kenapa kamu bersusah payah mengikuti aturan, lihat saja si A yang curang malah lebih cepat sukses?" Tekanan sosial seperti ini sangat berbahaya karena dapat mengikis kesabaran. Ayat 99 Al-Hijr secara tegas melarang kita untuk membiarkan keraguan dan ketidak-yakinan orang lain merusak konsistensi dan keteguhan spiritual kita. Fokus harus tetap pada validitas janji Allah, bukan pada keraguan manusia.
Menerapkan Al-Hijr ayat 99 berarti membangun benteng kesabaran berlapis tiga. Pertama, kesabaran aktif dalam beribadah dan beramal saleh. Kedua, keyakinan mutlak bahwa hasil akhir ada di tangan Allah dan pasti baik (Haqq). Ketiga, menjaga jarak psikologis dari orang-orang yang sinis atau pesimis yang mencoba meremehkan nilai-nilai kebenaran yang kita anut.
Pada akhirnya, ayat ini adalah sebuah suntikan motivasi ilahiah. Ia memastikan bahwa jalan yang benar mungkin terjal dan panjang, namun karena janji Allah adalah kebenaran yang absolut, maka kesabaran adalah investasi terbaik yang akan memberikan hasil maksimal di waktu yang telah ditentukan-Nya. Dengan meneladani kesabaran Rasulullah SAW dan menjauhkan diri dari kegelisahan yang ditimbulkan oleh orang-orang yang tidak memiliki kepastian iman, seorang Muslim dapat menempuh perjalanan hidupnya dengan ketenangan dan keikhlasan yang paripurna.