Pengantar QS Al-Isra Ayat 1-5
Surah Al-Isra' (atau Al-Isra' wal Mi'raj) adalah surah ke-17 dalam Al-Qur'an. Ayat 1 hingga 5 secara khusus membahas dua peristiwa agung dalam sejarah kenabian Islam: Isra' (perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa) dan awal mula pembicaraan mengenai penindasan Bani Israil dan janji pembalasan Allah SWT.
Ayat-ayat ini mengandung pelajaran mendalam tentang kebesaran Allah, kebenaran wahyu Al-Qur'an, serta pengingat akan siklus kekuasaan dan kejatuhan umat manusia.
Teks dan Makna QS Al-Isra Ayat 1-5
Berikut adalah kutipan teks Arab, transliterasi, dan terjemahan dari lima ayat pertama Surah Al-Isra':
Kandungan Utama Ayat 1: Isra' Mi'raj
Ayat pertama adalah inti dari peristiwa Isra' Mi'raj. Kata "Subhana" (Mahasuci Allah) menegaskan bahwa perjalanan luar biasa ini adalah bukti mutlak atas kekuasaan Allah SWT yang melampaui hukum alam biasa. Perjalanan dari Masjidil Haram (Mekkah) ke Masjidil Aqsa (Yerusalem) dan dilanjutkan ke sidratul muntaha adalah sebuah mukjizat untuk menunjukkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagian dari kebesaran Allah, sekaligus peneguhan atas status beliau.
Tujuan utama peristiwa ini, sebagaimana disebutkan, adalah agar Nabi diperlihatkan "sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami." Ini menegaskan bahwa wahyu dan peristiwa yang dialami Rasulullah tidak bersifat karangan, melainkan kebenaran yang disaksikan langsung oleh beliau, dan Allah adalah Maha Pendengar serta Maha Melihat segala sesuatu.
Kandungan Utama Ayat 2-3: Hubungan dengan Bani Israil dan Nabi Musa
Ayat kedua mengaitkan peristiwa besar yang dialami Rasulullah dengan sejarah umat terdahulu, khususnya Bani Israil. Allah mengingatkan bahwa Kitab Taurat juga telah diberikan kepada Musa sebagai petunjuk. Pesan utamanya sangat jelas: jangan pernah mengambil pelindung selain Allah. Ayat ketiga memperkuat hal ini dengan merujuk kepada Nabi Nuh AS, yang keturunannya diselamatkan bersama Nabi Nuh dalam bahtera, di mana beliau digambarkan sebagai hamba yang sangat bersyukur.
Tujuan penyebutan ini adalah memberikan pelajaran: bahwa nikmat dan petunjuk dari Allah harus diikuti dengan rasa syukur dan ketaatan mutlak kepada-Nya, bukan menyekutukan-Nya.
Kandungan Utama Ayat 4-5: Peringatan dan Hukum Keras
Ayat 4 dan 5 berfungsi sebagai peringatan tegas kepada Bani Israil. Allah telah menetapkan dalam Taurat bahwa mereka akan melakukan dua kali kerusakan besar di muka bumi, yang disertai dengan kesombongan yang melampaui batas. Ayat kelima menjelaskan konsekuensi dari pelanggaran tersebut: ketika janji (waktu kehancuran) yang pertama tiba, Allah akan mengirimkan pasukan yang kuat (seperti yang terjadi saat dihancurkannya Baitul Maqdis pertama kali oleh Nebukadnezar) untuk menghukum mereka dengan kekerasan hingga mereka merasakan dampak nyata dari dosa mereka.
Pelajaran penting di sini adalah bahwa Allah tidak pernah membiarkan kesombongan dan kerusakan yang dilakukan oleh umat-Nya tanpa konsekuensi. Meskipun Allah memberikan petunjuk (kitab suci), penolakan terhadap petunjuk tersebut dan penindasan akan selalu berujung pada hukuman yang telah digariskan oleh-Nya.
Kesimpulan
QS Al-Isra ayat 1 sampai 5 memberikan landasan teologis yang kuat. Ayat 1 meneguhkan kebenaran kenabian Muhammad SAW melalui mukjizat yang tak tertandingi. Sementara ayat selanjutnya memberikan konteks sejarah spiritual, mengingatkan umat manusia—terutama Bani Israil—bahwa petunjuk ilahi harus diikuti dengan rasa syukur dan ketaatan. Pengingat akan siklus kejatuhan akibat kesombongan dan kerusakan adalah pelajaran abadi yang relevan bagi setiap generasi muslim.