Ilmu dan Hikmah Jalan Hidup
Surat Al-Isra, juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an yang sarat dengan pelajaran penting mengenai sejarah, moralitas, dan prinsip-prinsip kehidupan. Salah satu ayat yang sering kali menjadi perenungan mendalam bagi umat Islam adalah ayat ke-12. Ayat ini memberikan panduan spesifik tentang bagaimana seorang Muslim harus memandang rezeki dan masa depannya, yang seluruhnya bergantung pada kehendak dan ketetapan Allah SWT.
وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
Meskipun ayat 12 secara tekstual membahas Al-Qur'an sebagai penyembuh dan rahmat, dalam konteks ajaran Islam yang lebih luas mengenai usaha manusia dan hasilnya, seringkali ayat-ayat yang berbicara tentang ketergantungan (tawakkul) menjadi kunci. Ayat-ayat dalam Al-Isra menegaskan bahwa manusia diizinkan berusaha, namun hasil akhir adalah di tangan Allah SWT. Ayat-ayat ini mengajarkan prinsip dasar bahwa harapan tertinggi kita tidak boleh diletakkan pada usaha kita semata, melainkan pada Sang Pengatur Semesta.
Ketika kita berbicara mengenai QS Al-Isra ayat 12, terlepas dari terjemahan spesifiknya tentang Al-Qur'an, filosofi di baliknya mendorong seorang mukmin untuk tidak tergesa-gesa dan selalu mengharapkan yang terbaik dari Allah. Manusia seringkali memiliki sifat tergesa-gesa, ingin segera melihat hasil dari setiap tetes keringat yang mereka curahkan. Namun, Allah menuntun kita untuk memahami bahwa waktu dan takdir adalah milik-Nya.
Dalam penafsiran yang menghubungkan ayat ini dengan konsep rezeki dan masa depan, terkandung pelajaran penting: semua yang kita butuhkan, baik itu kesembuhan fisik (sebagaimana tersirat dalam ayat tersebut) maupun kemudahan urusan duniawi, hanya datang melalui izin dan rahmat-Nya. Oleh karena itu, usaha yang dilakukan harus dibarengi dengan kerendahan hati dan kesadaran penuh bahwa keberhasilan sejati adalah rahmat, bukan sekadar hasil otomatis dari sebab-akibat materiil.
Di era modern ini, di mana segala sesuatu tampak dapat diukur dan dikendalikan oleh teknologi, konsep tawakkul seringkali tergerus. Orang cenderung percaya bahwa dengan perencanaan yang sempurna, hasil yang diinginkan pasti akan tercapai. Namun, QS Al-Isra ayat 12 (dan ayat-ayat sekitarnya) mengingatkan kita bahwa ada faktor tak terlihat—yaitu iradah Allah—yang memegang kendali tertinggi.
Hal ini bukan berarti kita dianjurkan untuk bermalas-malasan. Sebaliknya, ajaran Islam mendorong kita untuk berikhtiar sekuat tenaga. Setelah usaha maksimal dilakukan, barulah kita melepaskan hasilnya kepada Allah. Inilah esensi dari "menggantungkan harapan" pada-Nya. Jika kita berhasil, itu adalah karunia-Nya yang patut disyukuri. Jika hasilnya berbeda dari harapan, kita harus percaya bahwa di dalamnya tersimpan hikmah yang mungkin belum kita pahami saat ini.
Hikmah di balik penundaan atau perubahan rencana Ilahi seringkali jauh lebih besar daripada apa yang bisa kita bayangkan dalam keterbatasan pandangan manusiawi. Mungkin Allah menunda rezeki agar kita lebih bersabar, atau mungkin Dia mengganti rencana agar kita terhindar dari bahaya yang tidak kita sadari.
Ketika seorang Muslim benar-benar menginternalisasi makna bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya, ketenangan batin akan mengikuti. Kecemasan berlebihan terhadap masa depan atau kekecewaan yang mendalam atas kegagalan dapat berkurang secara signifikan. Ini karena titik tumpu keamanan dan harapan telah dipindahkan dari diri sendiri (yang fana) kepada Dzat Yang Maha Kekal dan Maha Kuasa.
Mengaitkan QS Al-Isra ayat 12 dengan pemahaman bahwa Al-Qur'an adalah penyembuh, semakin memperkuat bahwa penyembuhan sejati—baik penyakit hati maupun kesulitan hidup—hanya ditemukan dalam petunjuk ilahi. Harapan kita harus berlabuh pada sumber petunjuk itu sendiri. Dengan demikian, usaha yang kita lakukan menjadi ibadah yang terarah, bukan sekadar ambisi duniawi yang kosong.
Kesimpulannya, memahami dan mengamalkan petunjuk dari QS Al-Isra ayat 12 (dalam konteks ajaran yang lebih luas) mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang gigih dalam bekerja namun santai dalam menunggu hasil, karena hasil terbaik selalu datang dari ketetapan Yang Maha Tahu segalanya.