Surah Al-Ma'idah: Perjanjian, Hukum, dan Kasih Sayang

Ilustrasi Daun Zaitun dan Kitab Suci Simbol visual Al-Qur'an terbuka dengan dikelilingi oleh daun zaitun melambangkan kedamaian dan wahyu.

Surah Al-Ma'idah, yang berarti "Hidangan Sajian", merupakan salah satu surah Madaniyah dalam urutan mushaf, menempati urutan kelima dalam susunan Al-Qur'an. Nama surah ini diambil dari kisah kaum Nabi Musa AS yang meminta hidangan dari langit, sebagaimana diceritakan pada ayat 112 hingga 115. Namun, makna substansial dari surah ini jauh melampaui kisah tersebut, mencakup kerangka hukum, perjanjian suci, serta penegasan kembali prinsip-prinsip keimanan.

Pentingnya Memenuhi Perjanjian (Al-'Uqud)

Pembukaan Surah Al-Ma'idah sangat tegas mengenai kewajiban manusia untuk menepati janji dan akad yang telah dibuat, baik janji kepada Allah SWT maupun janji antar sesama manusia. Ayat pertama menegaskan, "Hai orang-orang yang beriman, penuhilah segala (macam) perikatan (akad)." Penegasan ini menempatkan integritas dan komitmen sebagai fondasi utama dalam kehidupan seorang Muslim.

Dalam konteks modern, ayat ini menjadi landasan etika bisnis, perjanjian internasional, hingga janji sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Tidak menepati janji sering kali dikaitkan dengan kemunafikan, sebuah penyakit sosial yang sangat dilarang dalam Islam.

Hukum dan Batasan yang Jelas

Al-Ma'idah juga dikenal sebagai surah yang memuat banyak penetapan hukum (syari'at) yang detail. Salah satu yang paling sering dibahas adalah hukum perburuan saat sedang berihram (untuk haji atau umrah), yang diperinci dalam ayat 95-96. Ayat-ayat ini menunjukkan bagaimana Islam mengatur ritual ibadah dengan sangat teliti, sekaligus memberikan keringanan (rukhsah) berdasarkan kondisi tertentu, misalnya bagi yang sakit atau sedang dalam perjalanan.

Selain itu, surah ini juga membahas masalah makanan yang halal dan haram. Penegasan mengenai pengharaman bangkai, darah, daging babi, dan hewan yang disembelih tanpa menyebut nama Allah SWT adalah inti dari pemeliharaan kebersihan spiritual dan fisik. Hukum-hukum ini bukan sekadar aturan kaku, tetapi bagian dari pemeliharaan kesehatan dan pembedaan antara yang suci dan yang najis.

Kedudukan Ahlul Kitab dan Toleransi Beragama

Surah Al-Ma'idah secara eksplisit membahas interaksi Muslim dengan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani). Ayat-ayat mengenai mereka mengandung pujian atas kesalehan sebagian dari mereka, namun juga kritik keras terhadap penyimpangan akidah yang mereka lakukan, seperti pengingkaran terhadap sebagian wahyu atau tuduhan terhadap Allah SWT.

Yang paling monumental dalam konteks toleransi adalah ayat 32, yang menyatakan bahwa membunuh satu jiwa tanpa alasan yang dibenarkan (qisas atau kerusakan di muka bumi) sama seperti membunuh seluruh umat manusia, dan menyelamatkan satu jiwa sama dengan menyelamatkan seluruh umat manusia. Ayat ini menjadi landasan universalisme etika Islam yang menjunjung tinggi nilai kehidupan tanpa memandang agama atau ras.

Kisah Hidangan dan Peringatan Akhir

Kisah utama yang memberikan nama surah ini, yaitu permintaan kaum Bani Israil akan hidangan makanan dari langit (Ma'idah), berfungsi sebagai peringatan keras terhadap sifat kurang bersyukur dan mudah lupa. Meskipun Allah SWT telah memberikan mukjizat besar, mereka tetap meragukan dan menuntut bukti yang bersifat materiil. Hal ini menjadi pelajaran abadi bahwa kemudahan materi tidak menjamin keimanan yang kokoh.

Menjelang penutupannya, Surah Al-Ma'idah menggarisbawahi kesempurnaan risalah Nabi Muhammad SAW. Allah SWT menegaskan bahwa agama Islam telah disempurnakan dan nikmat-Nya telah dituntaskan melalui ajaran yang dibawa Nabi. Ayat terakhir menegaskan bahwa Allah Maha Melihat atas segala perbuatan hamba-Nya, mendorong setiap Muslim untuk senantiasa sadar akan pengawasan Ilahi dalam setiap perkataan dan tindakan, termasuk dalam menepati janji dan melaksanakan hukum syariat yang telah ditetapkan.

Mempelajari Surah Al-Ma'idah adalah upaya untuk memperkuat fondasi spiritual dan etika dalam bermuamalah, menjadikan setiap perjanjian dan keputusan hidup selaras dengan kehendak Ilahi.

🏠 Homepage