Dalam setiap peradaban, terdapat dua pilar fundamental yang saling melengkapi, membentuk identitas dan merekam jejak perjalanan waktu: sastra dan aksara. Keduanya, meskipun berbeda, memiliki hubungan yang tak terpisahkan. Aksara adalah fondasi, medium visual yang memungkinkan bahasa lisan diabadikan, dikembangkan, dan disebarkan lintas generasi. Tanpa aksara, kekayaan pemikiran, imajinasi, dan pengalaman manusia akan lenyap ditelan zaman. Sementara itu, sastra adalah jiwa dari peradaban itu sendiri, wadah tempat cerita, nilai, emosi, dan kearifan diekspresikan dan diwariskan.
Sejarah umat manusia dipenuhi dengan bukti keagungan sastra dan aksara. Dari prasasti-prasasti kuno yang menceritakan raja-raja dan peristiwa penting, hingga manuskrip-manuskrip yang berisi ajaran spiritual dan filosofis, aksara menjadi saksi bisu perkembangan peradaban. Bayangkan peradaban Mesir Kuno dengan hieroglifnya yang misterius, peradaban Mesopotamia dengan aksara paku yang rumit, atau aksara Sansekerta yang menjadi akar dari banyak bahasa di Asia Selatan. Setiap sistem aksara bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga cerminan budaya, kepercayaan, dan cara pandang masyarakat pendukungnya.
Sastra, yang lahir dari kemampuan manusia untuk berbahasa dan berpikir, mengambil aksara sebagai alat utamanya. Melalui sastra, kita dapat menjelajahi berbagai dimensi kehidupan. Epik-epik panjang seperti Ramayana dan Mahabharata tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai moral, strategi perang, dan sistem kemasyarakatan. Puisi-puisi cinta mengekspresikan kerinduan dan keindahan emosi manusia. Naskah drama merefleksikan konflik sosial dan psikologis. Novel memberikan gambaran mendalam tentang kehidupan individu dalam berbagai konteks zaman dan tempat.
Di Indonesia sendiri, kekayaan sastra dan aksara sangatlah beragam. Sebelum kedatangan aksara Latin, Nusantara telah mengenal berbagai sistem penulisan, seperti aksara Pallawa, Kawi, Sunda, Jawa, Lontara, Bugis, dan lain-lain. Aksara-aksara ini terukir di batu, lontar, kulit kayu, dan media lainnya, merekam hikayat, babad, serat, dan karya sastra lainnya yang kaya makna. Sebut saja lontara Bugis yang menyimpan kisah pelaut ulung, atau aksara Sunda yang menghiasi naskah-naskah kuno berisi panduan hidup dan cerita rakyat.
Sastra Indonesia modern, yang tumbuh subur sejak era kebangkitan nasional, terus beradaptasi dan berevolusi. Karya-karya Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, Rendra, dan banyak penulis lainnya telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah intelektual dan budaya bangsa. Mereka menggunakan aksara Latin untuk menyuarakan semangat kemerdekaan, kritik sosial, dan refleksi kemanusiaan yang mendalam. Sastra menjadi alat yang ampuh untuk membangun kesadaran kolektif, menumbuhkan rasa bangga akan warisan budaya, dan menginspirasi generasi muda untuk terus berkarya.
Ketika kita berbicara tentang sastra dan aksara, kita juga berbicara tentang penjaga identitas dan sejarah. Setiap aksara adalah kunci untuk membuka khazanah pengetahuan yang terkunci dalam naskah-naskah kuno. Memahami aksara tertentu berarti memahami bagaimana nenek moyang kita berpikir, merasakan, dan berinteraksi dengan dunia. Kegagalan menjaga dan melestarikan aksara berarti kehilangan sebagian dari akar budaya kita. Hilangnya sebuah aksara sama dengan hilangnya ribuan cerita, kearifan lokal, dan rekaman sejarah yang tidak akan pernah bisa digantikan.
Di era digital ini, peran aksara semakin kompleks. Ia tidak hanya hadir dalam bentuk cetak, tetapi juga dalam representasi digital yang memungkinkan akses lebih luas. Namun, di balik kemudahan akses tersebut, tantangan baru muncul. Bagaimana kita memastikan aksara-aksara tradisional tetap hidup dan relevan di tengah dominasi aksara Latin? Bagaimana kita mendorong generasi muda untuk mempelajari, menghargai, dan bahkan menggunakan kembali aksara leluhur mereka dalam kreasi sastra kontemporer?
Upaya pelestarian sastra dan aksara memerlukan kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah melalui institusi pendidikan dan kebudayaan, akademisi, komunitas sastra, pegiat budaya, hingga masyarakat luas memiliki peran masing-masing. Edukasi tentang sejarah aksara, pengenalan karya sastra klasik dan modern, serta penciptaan platform digital yang menarik untuk mempelajari aksara adalah beberapa langkah konkret yang bisa dilakukan.
Pada akhirnya, sastra dan aksara adalah warisan berharga yang terus hidup dan berkembang. Keduanya adalah denyut nadi kebudayaan, cermin jiwa bangsa, dan lentera yang menerangi jalan ke masa depan. Dengan memahami dan merawatnya, kita tidak hanya melestarikan masa lalu, tetapi juga memperkaya masa kini dan membangun jembatan menuju peradaban yang lebih bermakna.