Ilustrasi: Penurunan Volume Ejakulasi
Volume ejakulasi normal pada pria dewasa umumnya berkisar antara 1,5 hingga 5 mililiter (sekitar setengah hingga satu sendok teh) per ejakulasi. Kondisi di mana volume cairan semen yang keluar jauh di bawah rata-rata ini dikenal sebagai hipospermia atau volume ejakulasi rendah. Meskipun volume yang sedikit tidak selalu berarti infertilitas (karena konsentrasi dan motilitas sperma lebih penting), ini bisa menjadi indikasi adanya masalah kesehatan yang mendasarinya.
Banyak pria yang mengalami sperma keluar sedikit merasa cemas, terutama jika mereka sedang berusaha untuk memiliki keturunan. Penting untuk dipahami bahwa penyebabnya sangat beragam, mulai dari faktor gaya hidup sederhana hingga kondisi medis yang memerlukan penanganan spesialis.
Volume ejakulasi dipengaruhi oleh banyak faktor yang berperan dalam produksi cairan seminal dari testis, epididimis, vesikula seminalis, dan kelenjar prostat. Berikut adalah beberapa penyebab utama:
Ini adalah penyebab yang paling umum dan paling mudah diatasi. Jika seorang pria berejakulasi terlalu sering (misalnya, beberapa kali dalam sehari), cadangan cairan seminal akan berkurang, menyebabkan ejakulasi berikutnya terlihat sedikit. Sebaliknya, periode abstinensi yang sangat panjang (lebih dari 7-10 hari) juga dapat mengurangi volume karena cairan lama akan terserap kembali.
Cairan semen sebagian besar terdiri dari air. Kekurangan cairan dalam tubuh (dehidrasi) akibat asupan air yang kurang, olahraga berat tanpa penggantian cairan yang cukup, atau cuaca panas ekstrem, secara langsung akan mengurangi volume keseluruhan ejakulat.
Sumbatan pada saluran reproduksi, seperti vas deferens (saluran yang membawa sperma) atau saluran ejakulasi, dapat mencegah cairan dari testis dan prostat bercampur dengan benar atau keluar sepenuhnya. Kondisi ini seringkali menyebabkan ejakulasi yang sangat sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali (anejakulasi).
Kadar hormon yang tidak seimbang, terutama testosteron rendah, dapat memengaruhi produksi cairan seminal oleh kelenjar prostat dan vesikula seminalis, yang menyumbang sebagian besar volume ejakulasi.
Infeksi pada prostat (prostatitis) atau epididimis dapat menyebabkan peradangan. Peradangan ini kadang-kadang mengganggu fungsi kelenjar penghasil cairan seminal, menyebabkan penurunan volume atau kualitas ejakulat.
Beberapa jenis obat, terutama yang digunakan untuk mengobati hipertensi (seperti beberapa jenis penghambat alfa yang digunakan untuk BPH atau masalah prostat) dan beberapa antidepresan, diketahui dapat mengurangi volume ejakulasi sebagai efek sampingnya.
Prosedur operasi di area panggul atau prosedur pengangkatan prostat (prostatektomi) dapat merusak atau menghilangkan struktur yang bertanggung jawab memproduksi cairan semen, mengakibatkan volume ejakulasi sangat berkurang atau kering (ejakulasi retrograde).
Jika Anda mengalami sperma keluar sedikit hanya sesekali dan kembali normal setelah mengatur frekuensi hubungan seksual atau meningkatkan asupan air, umumnya tidak perlu dikhawatirkan. Namun, Anda harus mencari bantuan medis jika kondisi ini:
Penanganan akan sangat bergantung pada penyebab yang mendasarinya. Namun, beberapa langkah awal yang bisa dicoba meliputi:
Berikan jeda waktu yang cukup (sekitar 2 hingga 3 hari) antara ejakulasi untuk memungkinkan tubuh memproduksi dan mengisi kembali cairan seminal secara optimal.
Pastikan Anda minum air putih yang cukup sepanjang hari. Cairan tubuh yang baik sangat penting untuk produksi volume ejakulat yang sehat.
Hindari konsumsi alkohol berlebihan dan berhenti merokok, karena keduanya dapat memengaruhi kesehatan reproduksi secara keseluruhan. Konsumsi makanan bergizi, terutama yang kaya akan Zinc (seng), yang berperan penting dalam produksi sperma dan cairan prostat.
Jika Anda sedang mengonsumsi obat resep, diskusikan dengan dokter Anda apakah ada kemungkinan obat tersebut menjadi penyebab volume ejakulasi yang rendah.
Jika perubahan gaya hidup tidak membuahkan hasil, dokter mungkin akan merekomendasikan pemeriksaan fisik, tes hormon (untuk melihat kadar testosteron), atau analisis semen untuk mengukur tidak hanya volume tetapi juga konsentrasi dan motilitas sperma.
Ingat, fokus utama dalam masalah kesuburan adalah kualitas sperma (jumlah, bentuk, gerakan), bukan hanya volume cairan. Volume yang sedikit mungkin tidak menghalangi kehamilan jika kualitas sperma di dalamnya masih baik.