Di tengah derasnya arus modernisasi, banyak kearifan lokal yang perlahan memudar dari ingatan kolektif. Salah satunya adalah konsep sunggah, sebuah istilah yang mungkin asing di telinga generasi muda, namun menyimpan makna mendalam bagi kehidupan masyarakat terdahulu, terutama dalam hal interaksi sosial dan penerimaan tamu.
Secara harfiah, sunggah dapat diartikan sebagai tindakan menyambangi atau mampir. Namun, makna ini jauh lebih kaya daripada sekadar kunjungan biasa. Dalam konteks budaya masyarakat agraris dan pedesaan, sunggah merupakan sebuah tradisi yang mengakar kuat, di mana tuan rumah memiliki kewajiban moral dan sosial untuk menyambut tamu dengan segala keramahtamahan. Ini bukan hanya soal menyediakan tempat berteduh sementara, tetapi lebih kepada membangun hubungan interpersonal yang erat melalui interaksi tatap muka.
Tradisi sunggah ini sering kali terkait erat dengan perjalanan. Ketika seseorang melakukan perjalanan jauh, baik untuk urusan dagang, silaturahmi, maupun keperluan lainnya, mereka tidak perlu khawatir akan kesulitan mencari tempat istirahat atau makan. Adalah sebuah keniscayaan bagi masyarakat setempat untuk menawarkan bantuan kepada musafir yang melintas. Tuan rumah akan dengan sukarela menyediakan makanan, tempat menginap, bahkan terkadang sampai membantu mencarikan bekal untuk perjalanan selanjutnya.
Konsep sunggah menekankan nilai gotong royong, saling membantu, dan membangun rasa kebersamaan. Dalam masyarakat yang hidup berdampingan dan sering kali saling membutuhkan, tindakan sunggah ini menjadi perekat sosial yang kuat. Ia mengajarkan tentang empati, kemurahan hati, dan pentingnya memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.
Pada masanya, praktik sunggah sangat esensial dalam menjaga kohesi sosial. Pertukaran informasi, berita, maupun perkembangan terbaru seringkali terjadi melalui interaksi antarindividu yang melakukan sunggah. Hal ini sangat penting di era sebelum adanya teknologi komunikasi modern. Seorang musafir bisa menjadi pembawa berita dari kota lain, seorang pedagang bisa menceritakan tren pasar, dan seorang tetangga yang melakukan sunggah bisa menyampaikan kabar baik atau buruk dari desa sebelah.
Lebih dari sekadar pertukaran informasi, sunggah juga berfungsi sebagai sarana edukasi dan pewarisan nilai. Orang tua sering kali mengajarkan anak-anak mereka tentang etika menerima tamu dan cara menjadi tuan rumah yang baik melalui praktik langsung saat ada yang melakukan sunggah. Anak-anak diajarkan untuk bersikap sopan, membantu menyediakan keperluan tamu, dan mendengarkan cerita dari orang yang lebih tua.
Selain itu, sunggah juga turut berkontribusi dalam penyebaran budaya dan pengetahuan. Melalui interaksi yang terjadi, berbagai adat istiadat, seni, musik, bahkan resep masakan dapat saling diperkenalkan dan diadopsi oleh masyarakat yang berbeda. Ini menciptakan kekayaan budaya yang lebih luas dan memperkaya pengalaman hidup setiap individu.
Ironisnya, seiring dengan kemajuan teknologi dan perubahan gaya hidup, tradisi sunggah kini mulai tergerus. Mobilitas manusia yang semakin tinggi, kemudahan akses transportasi, dan perkembangan platform akomodasi daring seperti hotel dan penginapan membuat kebutuhan untuk mengandalkan keramahan penduduk lokal menjadi berkurang. Privasi dan individualisme yang semakin menguat juga turut berperan dalam memudarnya praktik ini.
Banyak orang kini lebih memilih untuk menginap di tempat yang sudah terencana dan dibayar, daripada harus merasa merepotkan tuan rumah. Rasa sungkan yang berlebihan atau ketakutan akan menjadi beban justru dapat menghalangi seseorang untuk melakukan sunggah, padahal niat tuan rumah mungkin adalah untuk berbagi dan membangun silaturahmi. Berbeda dengan dahulu, di mana sunggah adalah sebuah keharusan sosial yang mulia.
Dampak dari memudarnya tradisi ini cukup signifikan. Hilangnya kesempatan untuk membangun hubungan interpersonal yang mendalam, berkurangnya pertukaran informasi yang otentik, serta potensi terputusnya jalinan sosial antarindividu. Masyarakat menjadi lebih tertutup, kurang memiliki rasa saling percaya, dan terasing dalam dunia yang semakin terhubung secara virtual.
Meskipun terlihat sulit, upaya untuk menghidupkan kembali semangat sunggah bukanlah hal yang mustahil. Ini membutuhkan kesadaran kolektif dari masyarakat untuk memahami kembali betapa berharganya tradisi ini. Pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan komunitas lokal dapat berperan aktif dalam mengedukasi generasi muda tentang makna dan manfaat sunggah.
Pengenalan kembali praktik sunggah bisa dimulai dari lingkup terkecil, seperti antar tetangga atau dalam acara keluarga besar. Mengadakan kegiatan kumpul-kumpul informal di mana setiap orang bebas untuk datang dan pulang kapan saja, saling berbagi cerita, dan menikmati hidangan bersama, dapat menjadi langkah awal. Hal ini akan menumbuhkan kembali rasa kehangatan dan kemudahan untuk saling berinteraksi.
Di sisi lain, platform digital pun dapat dimanfaatkan secara positif. Mungkin saja dapat dikembangkan aplikasi atau komunitas daring yang memfasilitasi orang-orang yang ingin melakukan perjalanan dan mencari tuan rumah yang bersedia menerima dengan semangat sunggah. Tentu saja, hal ini memerlukan kepercayaan dan sistem verifikasi yang baik untuk memastikan keamanan dan kenyamanan semua pihak.
Intinya, menghidupkan kembali semangat sunggah adalah tentang membangun kembali budaya saling peduli, saling berbagi, dan saling menerima. Ini adalah tentang mengingatkan kita bahwa di balik kesibukan dan rutinitas, ada nilai kemanusiaan yang tak ternilai harganya, yaitu kemampuan untuk membuka pintu hati dan rumah kita bagi sesama.
Mari kita renungkan kembali makna sunggah dan berupaya untuk mengintegrasikannya kembali dalam kehidupan modern, agar kearifan lokal ini tidak sepenuhnya hilang ditelan zaman.