Surah Al-Hijr, surat ke-15 dalam Al-Qur'an, mengandung banyak pelajaran penting mengenai tauhid, kisah para nabi, dan peringatan keras bagi mereka yang menolak kebenaran. Di antara ayat-ayatnya yang penuh hikmah, terdapat satu ayat yang secara spesifik menekankan sifat dasar peringatan ilahi dan bagaimana kaum musyrik meresponsnya. Ayat tersebut adalah Surah Al-Hijr ayat 15.
"Sesungguhnya kami hanyalah orang yang diberi peringatan." (QS. Al-Hijr: 15)
Ayat 15 ini muncul setelah Allah SWT menjelaskan bagaimana orang-orang musyrik, yang menolak keras ajaran tauhid yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Mereka merasa terganggu dengan wahyu yang diturunkan dan sering kali menuntut agar malaikat diturunkan kepada mereka, atau meminta mukjizat yang aneh-aneh sebagai bukti kenabian. Ketika tuntutan ini tidak dipenuhi sesuai keinginan mereka, mereka kemudian mencibir dan mengatakan bahwa Al-Qur'an dan risalah Nabi hanyalah sihir belaka.
Dalam konteks inilah, Allah SWT melalui firman-Nya menegaskan posisi para Nabi dan Rasul. Ketika kaum kafir menanyakan, "Mengapa tidak didatangkan kepada kami malaikat (sebagai bukti)?" atau ketika mereka menuduh Nabi sebagai pembohong, jawaban ilahi yang disampaikan melalui Nabi adalah sebuah penegasan identitas: "Sesungguhnya kami hanyalah orang yang diberi peringatan."
Penegasan dalam Surah Al-Hijr ayat 15 ini sangat krusial. Ayat ini menjelaskan bahwa tugas utama seorang rasul, dan secara implisit, tugas seorang da'i atau penyebar kebenaran, bukanlah untuk memaksa hati manusia agar beriman. Tugas mereka adalah menyampaikan, menjelaskan, dan memperingatkan tentang konsekuensi dari pilihan hidup yang diambil.
Manusia diberikan akal dan pilihan bebas (ikhtiar). Jika mereka menolak peringatan yang jelas, maka konsekuensinya akan mereka tanggung sendiri. Kalimat "hanyalah orang yang diberi peringatan" menunjukkan keterbatasan otoritas rasul; mereka bukan hakim terakhir, melainkan pembawa pesan. Mereka tidak bertanggung jawab atas keimanan orang yang mendustakan, tetapi mereka bertanggung jawab penuh atas penyampaian risalah tersebut.
Ayat ini juga memberikan perbedaan mendasar antara fungsi kenabian dan fungsi ilahi. Rasul hadir membawa cahaya, sementara Allah SWT adalah Dzat yang memiliki kuasa penuh untuk menurunkan azab atau memberikan pertolongan. Kaum kafir sering kali salah kaprah dalam ekspektasi mereka terhadap Nabi.
Mereka mengharapkan Nabi datang membawa pedang atau hukuman instan jika mereka tidak taat. Namun, Nabi diutus sebagai pembawa rahmat dan pemberi peringatan. Peringatan (indzar) adalah langkah awal sebelum datangnya pembalasan (wa'id). Dengan menyadari bahwa peran mereka hanya sebatas pemberi peringatan, hal ini memberikan ketenangan bagi Rasulullah SAW dari beban untuk memaksa hidayah masuk ke dalam hati yang keras kepala.
Relevansi Surah Al-Hijr ayat 15 ini terasa kuat hingga kini. Dalam konteks dakwah modern, kita sering menghadapi tantangan serupa ketika menyampaikan kebenaran Islam kepada mereka yang mungkin menolaknya dengan keras atau sinis. Ayat ini mengingatkan kita bahwa:
Oleh karena itu, Surah Al-Hijr ayat 15 menjadi penyejuk dan penguat semangat bagi setiap muslim yang berjuang di jalan dakwah. Ia menegaskan batasan tugas manusiawi kita, sambil memohon pertolongan agar peringatan yang disampaikan diterima dengan hati yang lapang oleh mereka yang berhak menerimanya.