إِلَّا
Ilustrasi konsep batasan dan pengecualian dalam rahmat Ilahi.

Kajian Mendalam Surah Al Hijr Ayat 88: Tentang Pengecualian Rahmat

Al-Qur'an adalah petunjuk hidup yang komprehensif, dan setiap ayatnya mengandung hikmah yang luas. Salah satu ayat yang seringkali memicu perenungan adalah Surah Al Hijr Ayat 88. Ayat ini merupakan penutup dari serangkaian instruksi ilahi kepada Nabi Muhammad SAW mengenai cara beliau berinteraksi dengan umatnya, khususnya ketika menghadapi orang-orang yang sombong atau tidak beriman.

Teks dan Terjemahan Surah Al Hijr Ayat 88

مَّتَاعَ الْأَزْوَاجِ دُونَهُمْ وَقُلِ اخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ
(Perintah itu) hanyalah kesenangan sesaat bagi mereka (orang-orang kafir), dan (kamu), sampaikanlah rasa kasih sayangmu kepada orang-orang yang beriman.

Ayat ini singkat namun padat makna. Jika kita merujuk pada konteks ayat sebelumnya (Al Hijr ayat 87) yang berbicara tentang 'tujuh yang diulang-ulang yang agung' (yakni Al-Fatihah), ayat 88 ini memberikan penekanan penting mengenai prioritas dakwah dan sikap seorang pemimpin terhadap pengikutnya.

Makna Inti: Batasan Kesenangan Duniawi dan Kasih Sayang Mukminin

Bagian pertama dari ayat tersebut seringkali diartikan sebagai peringatan atau penegasan bahwa kenikmatan sesaat yang dinikmati oleh orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah—seperti kemewahan duniawi atau keangkuhan mereka—hanyalah bersifat sementara. Ini adalah bentuk penundaan hukuman atau kesenangan yang hakikatnya kosong dari keberkahan sejati. Hal ini berfungsi sebagai pengingat bahwa orientasi kehidupan mereka salah; mereka mengejar hal yang fana.

Namun, inti yang paling kuat dari Surah Al Hijr Ayat 88 terletak pada perintah kedua: "Dan katakanlah: 'Jalinlah sayapmu (rendahkan hatimu) untuk orang-orang yang beriman.'"

Perintah "Ikhfid Jannahaka" (Merendahkan Sayap)

Frasa "اِخْفِضْ جَنَاحَكَ" (Ikhfid Jannahaka) adalah kiasan yang sangat indah dalam bahasa Arab. Secara harfiah berarti "turunkanlah sayapmu". Dalam konteks perilaku, ini dimaknai sebagai kerendahan hati yang mendalam, kelembutan, kasih sayang, dan sikap merendah di hadapan orang-orang yang beriman. Ini bukan tentang kelemahan, melainkan tentang kepemimpinan yang penuh empati dan inklusif.

Bagi seorang Nabi (dan secara implisit, bagi setiap pemimpin umat Islam), perintah ini menekankan pentingnya:

  1. Kelembutan (Rifq): Tidak bersikap keras atau kasar terhadap pengikut yang taat, meskipun mereka mungkin memiliki kekurangan.
  2. Aksesibilitas: Membuat diri mudah didekati oleh umatnya, tanpa sekat kesombongan jabatan.
  3. Prioritas Umat Beriman: Menunjukkan perhatian dan pemeliharaan khusus kepada mereka yang telah memilih jalan kebenaran. Ini adalah investasi spiritual yang jauh lebih berharga daripada memusingkan sikap orang-orang kafir yang menolak hidayah.

Implikasi dalam Kehidupan Sehari-hari

Mengaplikasikan Surah Al Hijr Ayat 88 bukan hanya berlaku bagi Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi pedoman bagi para ulama, pemimpin komunitas, hingga orang tua dalam rumah tangga. Ketika berdakwah atau memimpin, fokus utama harus diarahkan pada penguatan dan pemeliharaan ikatan dengan mereka yang telah menerima petunjuk.

Dalam lingkungan persaudaraan Islam, ayat ini mengajarkan bahwa toleransi dan kerendahan hati harus menjadi ciri utama hubungan antar mukmin. Seringkali, dalam perjalanan spiritual, muncul friksi atau perbedaan pendapat. Ayat ini mengingatkan bahwa daripada menghabiskan energi untuk perdebatan yang tidak produktif dengan orang-orang yang hatinya tertutup, energi itu lebih baik dicurahkan untuk menumbuhkan cinta, dukungan, dan kasih sayang di antara barisan orang-orang yang telah memilih Allah sebagai Tuhan mereka.

Kesimpulannya, Surah Al Hijr Ayat 88 membagi fokus perhatian kita: Abaikan kesenangan sesaat orang yang menolak kebenaran, dan alihkan seluruh kasih sayang serta keramahan kita kepada mereka yang telah memeluk iman. Ini adalah resep keberkahan dalam komunitas dan ketenangan hati bagi seorang pengemban risalah.

🏠 Homepage