Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Ayat pembuka Surah Al-Isra (juga dikenal sebagai Al-Isra wal Mi'raj) langsung menyoroti keagungan Allah SWT. Kata "Subhana" (Maha Suci) menegaskan bahwa peristiwa luar biasa yang akan disebutkan mustahil terjadi kecuali atas kehendak dan kuasa-Nya semata. Perjalanan malam ini, yang dikenal sebagai Isra, adalah mukjizat fisik yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW, dimulai dari Ka'bah di Mekkah hingga ke Masjid Al-Aqsa di Yerusalem. Pemberkahan di sekitar Al-Aqsa menunjukkan bahwa tempat itu memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi dan merupakan pusat peradaban kenabian sebelumnya. Tujuan perjalanan ini adalah menunjukkan sebagian kecil dari keajaiban Allah kepada Nabi, meneguhkan iman beliau, serta mempersiapkan beliau untuk tahapan spiritual selanjutnya (Mi'raj).
Dan Kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan Kami jadikan Kitab itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman), "Janganlah kamu mengambil pelindung selain Aku."
Setelah menegaskan kuasa-Nya melalui mukjizat Nabi Muhammad SAW, Allah mengingatkan akan karunia-Nya kepada umat sebelumnya, yaitu Nabi Musa AS dan Taurat. Ini adalah bentuk konsistensi risalah ilahi. Pesan utama yang ditekankan di sini, dan relevan bagi umat Islam, adalah larangan mengambil pelindung atau penolong selain Allah ("min dooni waliyyan"). Ketergantungan total (tawakkul) hanya kepada Pencipta adalah fondasi utama dalam menjalani hidup dan menghadapi tantangan, sebagaimana diajarkan kepada Bani Israil.
(Mereka adalah) keturunan orang-orang yang Kami selamatkan bersama Nuh. Sesungguhnya dia adalah seorang hamba (Allah) yang sangat bersyukur.
Ayat ini mengaitkan Bani Israil yang menerima Taurat dengan keturunan Nabi Nuh AS. Hal ini menekankan bahwa keimanan dan kesalehan adalah warisan sejati. Nabi Nuh AS digambarkan sebagai "abdan syakura" (hamba yang sangat bersyukur). Syukur adalah sifat yang paling dicintai Allah dan merupakan kunci untuk mendapatkan nikmat yang berkelanjutan. Dengan menyebut sifat Nabi Nuh, Allah mengingatkan bahwa penerimaan petunjuk Ilahi (seperti Taurat atau Al-Qur'an) harus diiringi dengan rasa syukur yang mendalam.
Dan telah Kami tetapkan kepada Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya kamu pasti akan membuat kerusakan di bumi (Al-Quds) dua kali, dan pasti kamu akan melampaui batas dengan kesombongan yang besar."
Ayat ini berisi peringatan keras dan nubuat historis. Allah memberitahukan kepada Bani Israil melalui Taurat bahwa mereka akan melakukan dua kali kerusakan besar di bumi (yang ditafsirkan merujuk pada dua kali penghancuran Yerusalem oleh bangsa asing sebagai hukuman). Kerusakan ini selalu diikuti oleh puncak kesombongan ("uluwwan kabira"). Ini mengajarkan pelajaran universal bahwa penolakan terhadap petunjuk Ilahi dan penyalahgunaan kekuasaan pasti akan berakhir dengan kehancuran, terlepas dari status atau keturunan mereka.
Maka apabila datang saat (pelaksanaan) hukuman yang pertama dari kedua (masa kebinasaan) itu, Kami datangkan kepada kamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung; dan itulah janji yang pasti terlaksana.
Ayat ini menjelaskan konsekuensi dari pelanggaran pada ayat sebelumnya. Allah mengirimkan kekuatan asing yang dahsyat untuk menghukum mereka. Kata "hamba-hamba Kami" menunjukkan bahwa musuh-musuh tersebut hanyalah alat dalam rencana ilahi untuk menegakkan keadilan. Mereka akan menguasai dan menjelajahi setiap sudut negeri ("fajasu khilal ad-diyar"), menunjukkan kehinaan dan kekalahan total bagi mereka yang sombong.
Kemudian Kami berikan kepadamu giliran mengalahkan mereka, dan Kami tambahkan kepadamu harta kekayaan dan anak-anak; dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar (jumlahnya).
Setelah periode hukuman berakhir, Allah menunjukkan rahmat-Nya dengan memberikan kesempatan kedua. Mereka dipulihkan kekuasaannya, diberi kemakmuran materi (harta dan anak), dan jumlah mereka diperbanyak. Ini adalah periode kesempatan emas bagi Bani Israil untuk memperbaiki diri dan kembali taat. Namun, seperti yang dijelaskan ayat berikutnya, kesempatan ini sering kali disia-siakan.
Jika kamu berbuat baik, kebaikan itu adalah untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, kejahatan itu akan kembali kepada dirimu sendiri. Maka apabila datang saat (pelaksanaan) hukuman yang kedua, (Kami datangkan musuh) untuk menyulut kesedihan di wajahmu dan untuk memasuki masjid (Al-Aqsa), sebagaimana mereka memasukinya pada kali pertama, dan untuk membinasakan segala sesuatu yang kamu kuasai dengan total kehancuran.
Ayat ketujuh ini menyimpulkan prinsip fundamental keadilan ilahi: "In ahsantum ahsantum li anfusikum, wa in asatum fa laha." (Jika kamu berbuat baik, kebaikan itu untuk dirimu sendiri; dan jika kamu berbuat jahat, kejahatan itu kembali kepadamu). Tidak ada pihak yang dirugikan atau diuntungkan selain diri mereka sendiri. Ayat ini kemudian menegaskan nubuat tentang hukuman kedua yang lebih parah, di mana musuh akan kembali menghancurkan Masjid Al-Aqsa dan meluluhlantakkan segala pencapaian mereka ("liturebbiru ma 'alaw tatbira"). Serangkaian ayat ini menjadi peringatan abadi tentang konsekuensi kesombongan, pengkhianatan terhadap nikmat, dan pentingnya syukur dalam menghadapi karunia Allah.