Surah Az-Zalzalah (Keguncangan) adalah salah satu surat pendek dalam Al-Qur'an, namun memiliki kedalaman makna yang luar biasa. Surat ini membuka dengan gambaran dahsyat tentang hari kiamat, sebuah peristiwa yang secara fundamental akan mengubah struktur dan tatanan bumi tempat kita berpijak. Fokus utama pada lima ayat pertama adalah untuk memberikan peringatan keras dan gambaran nyata mengenai goncangan hari pembalasan.
Ayat 1 hingga 5 ini berfungsi sebagai pembukaan yang dramatis, mempersiapkan pembaca untuk memahami bahwa tidak ada satupun yang tersembunyi ketika waktu perhitungan tiba. Peristiwa ini tidak hanya sekedar gempa bumi biasa, melainkan guncangan kosmik yang menandai dimulainya akhir kehidupan duniawi dan awal dari kehidupan akhirat.
(Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat)
(Dan bumi mengeluarkan isi beratnya)
(Dan manusia bertanya, "Ada apa dengan bumi ini?")
(Pada hari itu bumi menceritakan beritanya)
(Karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan demikian kepadanya)
Ayat pertama, "Idza zulzilatil 'ardhu zilzaalaha," langsung menetapkan panggung. Kata "zulzilah" (diguncang) yang diulang dua kali (guncangan yang sangat dahsyat) menekankan intensitas dan sifat universal dari peristiwa tersebut. Ini bukan sekadar gempa yang merusak satu kota, melainkan goncangan yang memengaruhi seluruh planet.
Ayat kedua, "Wa akhrajatil 'ardhu atsqalaha," adalah konsekuensi langsung dari guncangan tersebut. Bumi tidak hanya bergetar, tetapi ia juga memuntahkan segala sesuatu yang terkandung di dalamnya—harta karun terpendam, mayat-mayat yang telah lama terkubur, serta material padat yang selama ini tersembunyi di kedalaman kerak bumi. Secara metaforis, ini dapat diartikan bahwa segala rahasia dan kejahatan yang tersembunyi di dunia akan terungkap ke permukaan saat hari perhitungan tiba. Tidak ada lagi tempat bersembunyi bagi dosa-dosa yang dilakukan di bawah permukaan tanah.
Setelah menyaksikan pemandangan yang begitu mengerikan dan asing, reaksi manusia digambarkan dalam ayat ketiga: "Wa qoolal insaanu maalihaa". Manusia—yang saat itu telah dibangkitkan—akan kebingungan dan bertanya-tanya. Mereka yang hidup di dunia mungkin akrab dengan gempa bumi, tetapi guncangan yang menyebabkan bumi mengeluarkan isinya adalah fenomena di luar nalar mereka. Kebingungan ini muncul karena hukum alam yang mereka yakini telah dilanggar secara total.
Ayat ini menunjukkan betapa kecilnya kendali manusia atas kekuatan alam, apalagi kekuatan Tuhan. Semua rencana, kekayaan, dan infrastruktur yang dibangun manusia menjadi tidak berarti di hadapan satu perintah dari Sang Pencipta. Reaksi spontan berupa pertanyaan adalah tanda ketidakberdayaan total di hadapan realitas kiamat.
Ayat keempat memberikan jawaban atas kebingungan manusia: "Yawma'idzin tuhadditsu akhbaarahaa." Pada hari itu, bumi sendiri akan berbicara dan menyampaikan semua berita atau kesaksian tentang apa yang telah terjadi di atas permukaannya. Bumi yang selama ini menjadi saksi bisu setiap perbuatan manusia—baik kebaikan maupun kejahatan—kini ditugaskan untuk melaporkannya secara rinci.
Ini adalah konsep yang sangat kuat: kesaksian alam semesta. Segala perbuatan yang dilakukan dalam kerahasiaan, di bawah tanah, atau di tengah keramaian, semuanya tercatat dan akan disampaikan oleh bumi itu sendiri.
Penyebab dari semua ini dijelaskan dalam ayat penutup bagian ini, ayat kelima: "Bi anna Rabbaka awhaa lahaa." Allah, Rabb semesta alam, telah memerintahkan bumi untuk melakukan hal tersebut. Perintah ilahi adalah alasan mutlak di balik semua kegemparan ini. Tidak ada yang terjadi secara kebetulan; setiap peristiwa, bahkan guncangan kosmik, adalah bagian dari rencana dan ketetapan-Nya yang sempurna. Perintah ini menegaskan otoritas absolut Tuhan dan bahwa keadilan-Nya akan ditegakkan melalui kesaksian yang paling jujur dan tidak bias: bumi itu sendiri.