Surah Al Zalzalah dalam Al-Qur'an: Posisi dan Maknanya

Getaran Kiamat

Ilustrasi: Getaran dan Kepastian Hari Pembalasan

Urutan Surah Al Zalzalah dalam Al-Qur'an

Salah satu pertanyaan mendasar mengenai susunan kitab suci Al-Qur'an adalah mengenai posisi spesifik setiap surahnya. Ketika membahas surah Al Zalzalah dalam Al-Qur'an menempati urutan yang sangat penting dan strategis. Surah ini adalah surah ke-99 dari keseluruhan 114 surah dalam mushaf Al-Qur'an.

Surah Al Zalzalah, yang memiliki arti "Kegoncangan" atau "Gempa Bumi", berada tepat sebelum dua surah pendek penutup, yaitu Surah Al 'Adiyat (Surah ke-98) dan Surah Al Qari'ah (Surah ke-101), serta Surah Al Takathur (Surah ke-102) jika kita mengikuti susunan mushaf standar yang berlaku hingga kini. Penempatan ini, meskipun terkesan berdekatan dengan surah-surah lain yang bertemakan hari akhir, memiliki hikmah tersendiri dalam konteks narasi Al-Qur'an secara keseluruhan.

Karakteristik dan Tema Utama Surah ke-99

Surah Al Zalzalah terdiri dari 8 ayat pendek namun padat makna. Surah ini tergolong dalam golongan surah Madaniyah, meskipun beberapa ulama berbeda pendapat, namun mayoritas menggolongkannya sebagai Madaniyah karena tema yang diangkat sangat berkaitan dengan perhitungan amal dan kiamat, yang sering ditekankan dalam periode Madinah.

Fokus utama Surah Al Zalzalah adalah menggambarkan keadaan dahsyat pada hari kiamat. Allah SWT mengawalinya dengan sumpah mengenai goncangan bumi yang luar biasa: "Idzaa zulzilatil ardhu zilzaalahaaha" (Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat).

Ayat-ayat berikutnya menjelaskan konsekuensi dari goncangan tersebut. Bumi akan mengeluarkan seluruh beban dan rahasia yang selama ini terpendam di perutnya. Ini adalah metafora kuat bahwa tidak ada satu perbuatan, baik sekecil apapun, yang akan luput dari perhitungan Allah SWT.

Keterkaitan dengan Ayat tentang Perhitungan Amal

Penempatan Surah Al Zalzalah pada urutan ke-99, menjelang penutup mushaf, seringkali berfungsi sebagai pengingat pamungkas. Setelah membahas berbagai kisah kenabian, hukum-hukum syariat, dan prinsip-prinsip tauhid, Al-Qur'an mengakhiri bagian tengah hingga akhir dengan penekanan kuat pada akuntabilitas individu.

Ayat kunci dalam surah ini adalah ayat 7 dan 8: "Faman ya'mal mithqaala dzarratin khairan yarah, waman ya'mal mithqaala dzarratin syarran yarah". Artinya, barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah (atom terkecil), ia akan melihat hasilnya; dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah, ia pun akan melihatnya.

Dalam konteks urutan mushaf, Surah Al Zalzalah berfungsi sebagai jembatan peringatan antara surah-surah yang membahas tema keberanian (seperti Al 'Adiyat) dan surah-surah yang lebih fokus pada malapetaka umum (seperti Al Qari'ah). Urutan Surah Al Zalzalah dalam Al-Qur'an menempati urutan yang memastikan pesan tentang kesadaran hari akhir ini tertanam kuat dalam hati pembaca.

Hikmah Penomoran dan Susunan

Perlu dicatat bahwa penomoran surah dalam Al-Qur'an (tartib mushaf) ditetapkan berdasarkan keputusan kolektif para sahabat Nabi Muhammad SAW di masa Utsman bin Affan RA, meskipun ada juga yang berpendapat susunan tersebut adalah taufiq (petunjuk) dari Allah melalui Jibril kepada Rasulullah SAW. Urutan ini berbeda dengan urutan turunnya wahyu (tartib nuzul).

Surah Al Zalzalah, dengan peringatannya yang universal mengenai goncangan fisik dan goncangan pertanggungjawaban spiritual, menjadi penegas bahwa seluruh kehidupan di dunia ini hanyalah ujian singkat. Posisi ke-99 ini menggarisbawahi bahwa kesadaran akan hari pembalasan harus selalu menjadi pertimbangan utama dalam setiap tindakan seorang Muslim.

Secara ringkas, ketika ditanyakan surah Al Zalzalah dalam Al-Qur'an menempati urutan yang ke-99. Urutan ini memastikan bahwa sebelum mencapai surah-surah penutup yang ringkas, umat Islam diingatkan kembali akan kebenaran hari kiamat dan pentingnya setiap amal perbuatan, sekecil apa pun.

🏠 Homepage