Al-Qur'an, kitab suci umat Islam, merupakan sumber petunjuk dan panduan hidup yang komprehensif. Di dalamnya terkandung berbagai ayat yang berbicara tentang hikmah, strategi, dan pertolongan ilahi dalam menghadapi berbagai situasi kehidupan, termasuk dalam menghadapi permusuhan. Salah satu ayat yang sarat makna dan relevan dalam konteks ini adalah Surah An-Anfal ayat 30. Ayat ini tidak hanya menceritakan tentang strategi musuh, tetapi juga tentang keunggulan strategi Allah SWT yang selalu menjadi pihak yang menang.
وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ ۚ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ ٱللَّهُ وَٱللَّهُ خَيْرُ ٱلْمَـٰكِرِينَ
"Dan (ingatlah) ketika orang-orang kafir merencanakan tipu daya terhadapmu untuk menangkapmu atau membunuhmu atau mengusirmu. Mereka merencanakan tipu daya, dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah adalah Pemberi balasan terbaik."
Ayat ini turun berkaitan dengan rencana jahat kaum Quraisy Makkah terhadap Nabi Muhammad SAW ketika beliau masih berada di Makkah. Para pemimpin Quraisy berkumpul di Darun Nadwah untuk memusyawarahkan nasib Nabi Muhammad SAW. Mereka merasa terancam dengan dakwah Islam yang semakin berkembang dan menyatukan umat. Dalam pertemuan tersebut, muncul beberapa usulan yang semuanya bernada permusuhan, mulai dari mengurung Nabi, membunuhnya, hingga mengusirnya dari Makkah.
Tafsir dari ayat ini menegaskan bahwa ketika manusia merencanakan kejahatan dan tipu daya, Allah SWT memiliki rencana yang lebih sempurna dan tak terbantahkan. Rencana kaum kafir yang matang dan penuh perhitungan ternyata harus berhadapan dengan rencana ilahi yang tak terduga. Allah tidak membiarkan hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya sendirian. Dia selalu memberikan pertolongan dan membongkar segala bentuk kemunafikan serta kejahatan. Dalam peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, kita melihat bagaimana rencana Allah menggagalkan tipu daya kaum kafir. Allah memberikan wahyu kepada Nabi untuk berhijrah, dan kaum kafir yang berjaga di depan rumah Nabi tidak menyadari kepergiannya.
Frasa "وَٱللَّهُ خَيْرُ ٱلْمَـٰكِرِينَ" (Dan Allah adalah Pemberi balasan terbaik) seringkali disalahpahami. Penting untuk dipahami bahwa "makar" dalam konteks ini bukanlah berarti Allah melakukan kejahatan, melainkan menunjukkan kesempurnaan strategi dan rencana-Nya dalam membalas kejahatan dan tipu daya yang dilancarkan oleh musuh-musuh-Nya. Allah membalas makar mereka dengan cara yang tidak terduga, lebih cerdas, dan lebih efektif. Ini menunjukkan bahwa tidak ada kekuatan di alam semesta ini yang mampu menandingi kekuasaan dan kebijaksanaan Allah SWT.
Dalam tafsir klasik, seperti yang disampaikan oleh Ibnu Katsir, ayat ini menekankan bahwa setiap rencana buruk yang dibuat oleh manusia, sekecil apapun, diketahui oleh Allah. Dan Allah akan memberikan balasan yang setimpal, bahkan lebih dari itu, terutama bagi orang-orang yang beriman dan berjuang di jalan-Nya. Balasan terbaik dari Allah bisa berupa pertolongan langsung, penggagalan rencana musuh, atau bahkan kemenangan yang gemilang di akhir perjuangan.
Surah An-Anfal ayat 30 memberikan banyak pelajaran berharga bagi kaum Muslimin di setiap zaman:
Dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan modern, mulai dari fitnah, propaganda negatif, hingga persaingan yang tidak sehat, Surah An-Anfal ayat 30 menjadi sumber kekuatan mental dan spiritual. Ia mengingatkan kita bahwa setiap upaya kejahatan pasti akan mendapatkan balasan, dan bahwa strategi terbaik serta kemenangan hakiki hanya berasal dari Allah SWT. Oleh karena itu, sebagai Muslim, kita diajarkan untuk terus berjuang di jalan kebenaran, senantiasa berdoa, dan yakin bahwa Allah adalah sebaik-baik pembalas rencana.