Ilustrasi visual makna ketaatan dan panggulan ilahi.
Surah Al-Anfal, yang berarti "Harta Rampasan Perang", merupakan salah satu surah Madaniyyah yang membahas berbagai aspek kehidupan kaum Muslimin, mulai dari strategi peperangan, pengelolaan harta rampasan, hingga hukum-hukum yang mengatur masyarakat Islam. Di tengah pembahasan yang seringkali berfokus pada hukum dan tata kelola, terdapat ayat-ayat yang mengingatkan pentingnya pondasi spiritual dan moral. Salah satu ayat yang sarat makna dan relevan bagi setiap Muslim adalah Surah Al-Anfal ayat 24.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اسْتَجِيْبُوْا لِلّٰهِ وَلِلرَّسُوْلِ اِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيْكُمْ ۚ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ يَحُوْلُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهٖ وَاَنَّهٗٓ اِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ
Ya ayyuhalladzina amanu istajibullaha wa lirrasuli idza da'akum lima yuhyikum, wa'lamu annallaha yahulu bainaImri'i wa qalbihi wa annahu ilaihi tuhsyarun.
"Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara seseorang dengan hatinya, dan sesungguhnya hanya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan."
Ayat ini diawali dengan panggilan yang sangat penting: "Wahai orang-orang yang beriman!" Panggilan ini bukan sekadar sapaan, melainkan pengingat akan identitas dan tanggung jawab yang melekat pada diri seorang mukmin. Seorang mukmin adalah mereka yang telah menyatakan keimanan dan berjanji untuk tunduk serta patuh kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.
Kemudian, Allah memerintahkan untuk "Penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul". Ini adalah inti dari ayat ini, sebuah perintah tegas untuk merespons setiap ajakan, perintah, dan larangan yang datang dari Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan ini bersifat mutlak dan tidak bersyarat. Seruan tersebut digambarkan sebagai sesuatu yang "memberi kehidupan kepadamu". Makna "kehidupan" di sini bisa diartikan secara luas. Ia mencakup kehidupan spiritual yang mencerahkan jiwa, kehidupan moral yang membentuk karakter mulia, kehidupan sosial yang harmonis, hingga kehidupan duniawi yang berkah dan penuh kemaslahatan.
Tanpa mengikuti tuntunan Allah dan Rasul, seseorang mungkin merasa hidup namun sebenarnya jiwanya mati. Iman yang tumbuh subur melalui ketaatan akan memberikan arti dan tujuan hidup yang sejati, berbeda dengan kehidupan duniawi yang fana dan terkadang terasa hampa.
Bagian selanjutnya dari ayat ini mengandung peringatan yang mendalam: "...dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara seseorang dengan hatinya...". Frasa ini seringkali ditafsirkan dalam beberapa makna. Salah satunya adalah mengingatkan bahwa hati manusia berada dalam genggaman Allah SWT. Allah Maha Kuasa untuk membolak-balikkan hati, memberinya hidayah, atau bahkan meninggalkannya jika ia enggan mengikuti kebenaran. Ini menekankan betapa pentingnya menjaga hati agar tetap tunduk kepada Allah, karena bukan tidak mungkin hati kita berkhianat jika tidak dijaga.
Makna lain dari "membatasi antara seseorang dengan hatinya" adalah mengingatkan manusia agar tidak merasa aman dari tipu daya diri sendiri atau godaan setan. Terkadang, seseorang dapat merasa yakin dengan keimanannya, namun tanpa disadari, hatinya telah berpaling atau condong kepada hal-hal yang tidak diridhai Allah. Oleh karena itu, kesadaran bahwa Allah mengetahui isi hati kita adalah sebuah motivasi kuat untuk selalu introspeksi dan memohon perlindungan serta taufik dari-Nya.
Penutup ayat ini menegaskan tujuan akhir dari seluruh perjuangan hidup seorang mukmin: "...dan sesungguhnya hanya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan." Seluruh amal perbuatan, baik yang dilakukan secara terang-terangan maupun tersembunyi, akan diperhitungkan di hadapan Allah SWT pada hari kiamat. Pengingat ini berfungsi sebagai dorongan untuk senantiasa berbuat baik dan menjauhi larangan-Nya, karena setiap langkah akan dimintai pertanggungjawaban.
Surah Al-Anfal ayat 24 memberikan pelajaran yang sangat berharga. Ia mengajarkan bahwa keimanan sejati bukanlah sekadar pengakuan lisan, melainkan manifestasi dalam tindakan nyata berupa ketaatan kepada perintah Allah dan Rasul-Nya. Seruan ilahi adalah sumber kehidupan dan kebahagiaan sejati, baik di dunia maupun di akhirat. Memahami bahwa hati manusia senantiasa membutuhkan penjagaan dan bimbingan dari Allah adalah kunci untuk menghindari kesombongan spiritual dan kesesatan.
Setiap Muslim dituntut untuk terus menerus mengoreksi diri, menimbang setiap keputusan, dan tindakan, apakah sudah sejalan dengan tuntunan Al-Qur'an dan Sunnah. Di tengah berbagai tantangan dan godaan di era modern ini, ayat ini menjadi pengingat vital bahwa satu-satunya panduan yang abadi dan pasti membawa keselamatan adalah ajaran agama yang bersumber dari Allah SWT.
Ayat ini memerintahkan orang-orang yang beriman untuk segera merespons panggilan Allah dan Rasul-Nya, karena panggilan tersebut adalah sumber kehidupan yang hakiki. Allah mengingatkan bahwa Dialah yang menguasai hati manusia, sehingga mereka harus selalu waspada terhadap hati mereka sendiri dan senantiasa memohon perlindungan serta hidayah-Nya. Pada akhirnya, semua manusia akan dikumpulkan kembali kepada Allah untuk menerima balasan atas amal perbuatan mereka.