Peristiwa Isra Mi'raj merupakan salah satu mukjizat terbesar yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW. Isra adalah perjalanan malam dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem. Setelah menyelesaikan Isra, dimulailah Mi'raj, yaitu perjalanan Nabi naik menembus tujuh lapis langit hingga mencapai Sidratul Muntaha, sebuah batas terjauh yang dapat dicapai. Kisah ini bukan sekadar narasi geografis, tetapi juga mengandung pelajaran spiritual dan teologis yang mendalam bagi umat Islam di seluruh dunia.
Perjalanan ini terjadi pada periode yang sangat sulit dalam kehidupan Rasulullah. Beliau baru saja kehilangan pelindung utamanya, yaitu pamannya Abu Thalib, dan menghadapi penolakan keras dari kaum Thaif. Dalam kesendirian dan kesedihan itu, Allah SWT memberikan penghiburan tertinggi, sebuah afirmasi ilahi bahwa misi kenabian beliau diakui dan didukung langsung oleh Sang Pencipta. Isra Mi'raj menjadi penegasan akan kedudukan Nabi Muhammad sebagai pembawa rahmat bagi semesta alam.
Isra diawali dengan kedatangan Malaikat Jibril yang membawa Buraq, kendaraan cepat bagaikan kilat. Dalam waktu singkat, Rasulullah SAW melakukan perjalanan yang biasanya memakan waktu berminggu-minggu melintasi gurun. Setibanya di Baitul Maqdis (Masjidil Aqsa), beliau bertemu dan memimpin shalat bersama para nabi terdahulu, menunjukkan kesinambungan risalah Islam dari masa ke masa.
Setelah Isra, sesi Mi'raj dimulai. Rasulullah diangkat naik melalui lapisan-lapisan langit. Di setiap tingkatan langit, beliau dipertemukan dengan para nabi agung sebelumnya, seperti Nabi Adam, Nabi Musa, dan Nabi Ibrahim. Pertemuan ini adalah bentuk penghormatan universal dan pengakuan kenabian beliau. Puncak perjalanan adalah Sidratul Muntaha, di mana beliau menerima wahyu paling fundamental dan krusial bagi umat Islam: penetapan kewajiban shalat lima waktu sehari semalam.
Penetapan Shalat Wajib
Pemberian shalat wajib lima waktu diyakini sebagai inti dari Mi'raj. Shalat menjadi tiang agama, sebuah koneksi langsung antara hamba dan Tuhannya yang terjalin lima kali sehari. Berbeda dengan ibadah lain yang diturunkan melalui wahyu di bumi, shalat diterima langsung di hadirat Ilahi, menjadikannya ibadah yang paling istimewa. Shalat adalah media pembersihan jiwa, pengingat konstan akan tujuan hidup, serta sarana kedekatan spiritual yang tidak terputus.
Kisah Isra Mi'raj mengajarkan tentang pentingnya keteguhan iman (tsabat) di tengah kesulitan, keutamaan komunikasi vertikal dengan Sang Pencipta, dan bahwa potensi spiritual manusia tidak terbatas oleh batasan fisik duniawi. Perjalanan ini membuktikan kebenaran risalah Nabi Muhammad di hadapan kaum yang meragukan, menjadikannya titik balik penting dalam sejarah Islam.