Kisah Suci: Surah Tentang Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa

Masjidil Haram Masjidil Aqsa

Visualisasi Konsep Dua Masjid Suci

Keagungan Dua Rumah Allah di Bumi

Dalam Islam, terdapat dua masjid yang memiliki kedudukan paling mulia di mata Allah SWT: Masjidil Haram di Mekkah dan Masjidil Aqsa di Yerusalem. Keduanya adalah poros spiritual umat Muslim, tempat yang menjadi saksi bisu perjalanan para nabi dan pusat ibadah selama ribuan tahun. Kisah dan kemuliaan kedua tempat suci ini termaktub indah dalam berbagai ayat Al-Qur'an, terutama dalam surah-surah yang menceritakan mukjizat kenabian serta perintah ibadah.

Masjidil Haram adalah kiblat pertama dan tempat Ka'bah berdiri sebagai Baitullah (Rumah Allah). Sementara itu, Masjidil Aqsa (Al-Aqsa) dikenal sebagai kiblat pertama sebelum Ka'bah dipindahkan, dan menjadi tempat Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW.

Masjidil Haram dan Kisah Ibrahim AS

Penyebutan paling eksplisit mengenai Masjidil Haram seringkali terkait dengan sejarah pembangunan Ka'bah oleh Nabi Ibrahim 'alaihissalam (AS) bersama putranya, Nabi Ismail AS. Surah yang paling relevan dalam konteks ini adalah Surah Al-Baqarah ayat 127.

"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan asas-asas Baitullah dan (bersama-sama) Ibrahim (berdoa), 'Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amal kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.'" (QS. Al-Baqarah: 127)

Ayat ini menggarisbawahi peran fundamental Nabi Ibrahim dalam mendirikan fondasi pusat ibadah umat Islam. Selain itu, Surah Al-Hajj juga secara khusus menyebutkan pentingnya Masjidil Haram dalam konteks haji dan umrah. Surah ini membahas syariat yang berkaitan dengan tempat tersebut, menegaskan statusnya sebagai tempat yang aman (Bata’an) dan tempat ibadah yang disucikan.

Masjidil Aqsa dan Keajaiban Isra' Mi'raj

Keistimewaan Masjidil Aqsa (Al-Quds) disebutkan secara gamblang dalam surah yang paling ikonik dalam menceritakan perjalanan malam Nabi Muhammad SAW, yaitu Surah Al-Isra'.

"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Al-Isra': 1)

Ayat pembuka Surah Al-Isra' ini tidak hanya mengukuhkan posisi Masjidil Aqsa sebagai masjid yang diberkahi (Al-Masjidil Aqsa Alladzi Baarakna Hawlahu), tetapi juga sebagai destinasi spiritual penting yang menjadi batu loncatan Nabi menuju ke hadirat Ilahi. Penggunaan kata "Al-Aqsa" secara harfiah berarti "yang terjauh," menandakan bahwa masjid ini adalah titik terjauh yang dicapai Nabi dalam perjalanan malam beliau dari Mekkah.

Kaitan Keduanya dalam Perspektif Kiblat

Hubungan antara kedua masjid ini diperjelas dalam Surah Al-Baqarah ayat 144, yang berbicara tentang perubahan arah kiblat dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram.

Perintah untuk menghadap Ka'bah (Masjidil Haram) menunjukkan bahwa meskipun Al-Aqsa pernah menjadi kiblat sementara bagi umat Islam di Madinah, Ka'bah adalah tujuan akhir dari penyatuan arah ibadah umat Islam sedunia. Peristiwa ini menegaskan bahwa Masjidil Haram adalah pusat yang diutamakan dalam ritual keagamaan.

Kesimpulan Spiritual

Surah-surah seperti Al-Baqarah, Al-Isra', dan Al-Hajj adalah sumber utama pemahaman kita mengenai status suci Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa. Masjidil Haram adalah pusat spiritualitas yang terikat pada syariat Ibrahim dan ibadah haji. Sementara itu, Masjidil Aqsa adalah monumen kenabian, tempat mukjizat Isra' Mi'raj, dan merupakan masjid suci ketiga (Al-Masajid Ats-Tsalatsah) yang dianjurkan untuk diziarahi dengan niat ibadah. Memahami ayat-ayat ini memberikan perspektif mendalam tentang kesinambungan risalah para nabi dalam Islam.

🏠 Homepage