QS. Al-Mu'minun (23): 80
وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ عِلْمًا وَقَالَا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَضَّلَنَا عَلَى كَثِيرٍ مِنْ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ
Artinya: "Dan sungguh, Kami telah memberikan ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya berkata, 'Segala puji bagi Allah yang telah melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hamba-Nya yang beriman.'"
Ayat ke-80 dari Surat Al-Mu'minun (Para Mukminin) ini menempati posisi penting di akhir surat. Surat ini secara umum membahas ciri-ciri orang yang beriman, perjalanan penciptaan manusia, hingga gambaran kehidupan dunia dan akhirat. Ayat-ayat sebelumnya (78-79) membahas tentang anugerah pendengaran, penglihatan, dan akal budi yang diberikan Allah kepada manusia untuk bisa berpikir dan bersyukur.
Ayat 80 kemudian memberikan contoh nyata tentang bagaimana karunia besar (ilmu) digunakan oleh dua tokoh besar dalam sejarah kenabian, yaitu Nabi Daud AS dan putranya, Nabi Sulaiman AS. Pemilihan dua nabi ini bukanlah tanpa alasan. Mereka adalah representasi puncak dari kekuasaan, kebijaksanaan, dan spiritualitas yang bersatu. Allah memberikan mereka ilmu yang mendalam, yang mencakup ilmu duniawi (seperti memahami bahasa binatang, mengatur kerajaan, dan metalurgi bagi Daud) serta ilmu ukhrawi.
Fokus utama dari ayat ini adalah penekanan bahwa ilmu adalah karunia istimewa dari Allah SWT. Ilmu di sini tidak hanya berarti pengetahuan akademis semata, tetapi juga pemahaman mendalam tentang tauhid, hukum-hukum Ilahi, dan cara mengelola amanah. Ayat ini mengajarkan bahwa ketika seseorang dianugerahi kelebihan—baik berupa kekayaan, jabatan, atau ilmu pengetahuan yang luas—sikap yang harus muncul adalah rasa syukur yang mendalam.
Perhatikan respons Daud dan Sulaiman setelah menerima ilmu tersebut: "Segala puji bagi Allah yang telah melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hamba-Nya yang beriman." Respons ini mengandung dua poin penting. Pertama, pengakuan bahwa kelebihan tersebut mutlak berasal dari Allah (syukur). Kedua, penegasan bahwa kelebihan ini menjadikan mereka berada di posisi yang lebih tinggi dibandingkan mukminin lainnya—bukan dalam hal derajat kesucian, melainkan dalam hal beban amanah dan tanggung jawab ilmu yang mereka pikul. Mereka menyadari bahwa ilmu yang besar menuntut pertanggungjawaban yang besar pula.
Frasa "kebanyakan hamba-hamba-Nya yang beriman" menimbulkan refleksi mendalam. Ini mengindikasikan bahwa meski banyak orang beriman, hanya sebagian kecil yang dianugerahi tingkat ilmu dan kebijaksanaan yang setinggi Nabi Daud dan Sulaiman. Ini bukan berarti iman orang lain tidak bernilai, tetapi menekankan bahwa derajat ilmu adalah pembeda dalam hal kedekatan fungsional dengan kehendak Allah di bumi.
Bagi umat Islam secara umum, ayat ini berfungsi sebagai pengingat bahwa setiap kenikmatan yang diperoleh, baik ilmu, rezeki, kesehatan, atau kesempatan beribadah, harus diiringi dengan pengakuan tulus kepada Sang Pemberi. Jika kita merasa memiliki kelebihan pengetahuan atau keterampilan, kita harus melihatnya sebagai ujian amanah, bukan hak mutlak yang bisa disombongkan. Menggunakan ilmu untuk kemaslahatan umat dan menegakkan kebenaran adalah manifestasi syukur tertinggi atas anugerah tersebut, sesuai teladan para nabi terdahulu. Surat Al-Mu'minun ditutup dengan pesan kuat bahwa jalan orang beriman adalah jalan kesyukuran yang berkelanjutan.