Dalam Al-Qur'an, setiap ayat memuat hikmah dan petunjuk bagi umat manusia. Salah satu ayat yang sering menjadi renungan adalah Surat Al-Anfal ayat 21. Ayat ini mengingatkan kita tentang bahaya menjadi pribadi yang lalai, terutama dalam ketaatan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Memahami kandungan ayat ini bukan sekadar membaca terjemahannya, tetapi meresapi implikasinya dalam kehidupan sehari-hari.
"Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang mengatakan: 'Kami mendengar', padahal mereka tidak mendengar." (QS. Al-Anfal: 21)
Ayat ini secara gamblang melarang umat Islam untuk meniru sifat orang-orang yang ketika diperintahkan sesuatu, mereka hanya mengatakan 'kami mendengar' namun pada hakikatnya tidak benar-benar mendengar apalagi mematuhi. Mereka mungkin merespons secara lahiriah, namun hati dan tindakan mereka tidak selaras dengan ucapan tersebut. Ini adalah bentuk kemunafikan yang halus, di mana ada jurang pemisah antara ucapan dan perbuatan.
Orang yang lalai dalam konteks ayat ini adalah mereka yang:
Fenomena 'mendengar tapi tidak mendengar' ini seringkali terulang dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam ibadah, misalnya, seseorang mungkin saja membaca Al-Qur'an, mendengarkan khutbah Jumat, atau mengikuti kajian agama, namun jika hatinya tidak hadir sepenuhnya, maka ia seperti mendengarkan tanpa makna. Pendengaran yang tulus adalah pendengaran yang menggerakkan hati untuk merenung, mencari kebenaran, dan akhirnya berujung pada amal shaleh.
Allah SWT berfirman dalam ayat lain yang senada, "Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak mempergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak mempergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak mempergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (QS. Al-A'raf: 179). Perbandingan ini menunjukkan betapa mengerikannya kondisi orang yang lalai; mereka memiliki alat pendengar, penglihatan, dan pemahaman, namun tidak menggunakannya untuk tujuan yang benar, yaitu mengenal Allah dan mengikuti petunjuk-Nya.
Menghindari sifat lalai memerlukan usaha yang berkelanjutan. Berikut beberapa langkah yang dapat diambil:
Menjadi pendengar yang baik bukan hanya soal kemampuan fisik mendengar, tetapi juga tentang kemampuan hati dan pikiran untuk menyerap, memahami, dan merespons kebaikan. Surat Al-Anfal ayat 21 mengajarkan bahwa ketaatan yang sesungguhnya bukan hanya ucapan 'kami mendengar', tetapi terwujud dalam tindakan nyata yang mencerminkan ketundukan dan kepatuhan kepada Sang Pencipta. Dengan senantiasa melatih diri untuk menjadi pendengar yang tulus, kita akan terhindar dari kehampaan spiritual dan senantiasa berada di jalan yang diridhai Allah SWT.