Dalam lembaran-lembaran suci Al-Qur'an, terdapat ayat-ayat yang secara langsung menunjuk pada kebesaran dan kekuasaan Allah SWT dalam menciptakan alam semesta. Salah satu ayat yang sarat akan makna filosofis dan ilmiah adalah Surat Al-Hijr ayat ke-16. Ayat ini bukan sekadar narasi, melainkan sebuah pengingat fundamental mengenai keteraturan dan ketelitian yang meliputi jagat raya.
وَلَقَدْ جَعَلْنَا فِي السَّمَاءِ بُرُوجًا وَزَيَّنَّاهَا لِلنَّاظِرِينَ
"Dan sungguh, telah Kami ciptakan gugusan bintang-bintang (pada orbitnya) di langit, dan Kami perindah (benda-benda) itu bagi mereka yang memandang." (QS. Al-Hijr: 16)
Kata kunci dalam ayat ini adalah "Buruj" (بُرُوجًا). Para mufassir sepakat bahwa "Buruj" merujuk pada gugusan bintang-bintang besar atau rasi-rasi bintang yang tampak di langit. Namun, makna yang lebih mendalam sering kali dikaitkan dengan konsep orbit dan posisi yang tetap.
Ayat ini menekankan dua aspek utama: penciptaan yang terencana dan tujuan keindahan. Pertama, Allah menyatakan bahwa Dia "telah menciptakan" gugusan bintang tersebut di langit. Kata 'menciptakan' di sini mengimplikasikan penetapan hukum fisika dan jalur peredaran yang presisi. Para ahli tafsir klasik memahami ini sebagai penempatan benda-benda langit di orbitnya masing-masing tanpa bertabrakan atau menyimpang dari jalurnya. Dalam konteks modern, ini sangat selaras dengan hukum gravitasi dan mekanika langit yang mengatur pergerakan planet dan bintang.
Aspek kedua dari Al-Hijr ayat 16 adalah tujuan dari penciptaan ini: "dan Kami perindah (benda-benda) itu bagi mereka yang memandang." Keindahan kosmos bukanlah kebetulan semata. Bintang-bintang gemerlap, galaksi yang memukau, dan formasi nebula yang berwarna-warni adalah dekorasi kosmik yang sengaja dipasang Allah agar dinikmati oleh makhluk-Nya yang berakal, yaitu manusia.
Ayat ini secara implisit mendorong umat manusia untuk melakukan observasi dan refleksi. Melihat keindahan bintang-bintang bukan sekadar kegiatan estetika, melainkan sebuah ibadah yang membuahkan kesadaran akan keagungan Sang Pencipta. Ketika seseorang menatap langit malam, ia diundang untuk merenungkan betapa teraturnya alam ini, bagaimana matahari terbit dan terbenam tepat waktu, dan bagaimana posisi bintang-bintang berfungsi sebagai penunjuk arah, sebagaimana juga disebutkan dalam ayat-ayat Al-Qur'an lainnya.
Untuk memahami kedalaman ayat ini, kita harus melihatnya dalam konteks surat Al-Hijr secara keseluruhan. Surat ini banyak membahas tentang kekuasaan Allah dalam menciptakan bumi, gunung, hujan, dan bagaimana Dia menjaga eksistensi ciptaan-Nya. Al-Hijr ayat 16 menjadi penegas bahwa perhatian ilahi tidak hanya tertuju pada skala mikro di bumi, tetapi juga pada skala makro di alam semesta yang luas.
Keteraturan yang tampak pada Buruj menunjukkan bahwa alam semesta tidak berjalan secara acak. Jika saja satu bintang saja menyimpang dari orbitnya, dampaknya bisa fatal bagi planet-planet di sekitarnya, termasuk bumi. Kestabilan ini membuktikan adanya Dalil (petunjuk) yang kokoh bahwa ada Zat Maha Kuasa yang merancang, mengatur, dan memelihara setiap detik keberadaan benda-benda langit tersebut.
Bagi seorang Mukmin, kontemplasi terhadap ayat ini membawa ketenangan. Ketika dihadapkan pada masalah duniawi yang terasa besar, melihat betapa kecilnya diri manusia dibandingkan dengan luasnya galaksi, namun di sisi lain menyadari bahwa Yang Maha Besar itu memperhatikan detail penciptaan sekecil apa pun, menumbuhkan rasa tawakal. Masalah terasa menjadi relatif kecil di hadapan kebesaran Tuhan yang mampu menata triliunan bintang.
Lebih lanjut, penegasan bahwa keindahan itu ditujukan "bagi mereka yang memandang" menggarisbawahi pentingnya ilmu pengetahuan (terutama astronomi). Islam tidak melarang eksplorasi sains. Sebaliknya, Al-Qur'an mendorong eksplorasi ini sebagai sarana untuk lebih mengenal dan mencintai Allah. Setiap penemuan baru tentang planet, nebula, atau konstanta alam semesta adalah membuka lembaran baru dari buku agung yang diciptakan oleh Sang Pencipta, dan semuanya telah dihias indah sejak awal.
Kesimpulannya, Surat Al-Hijr ayat 16 adalah seruan abadi untuk berhenti sejenak dari kesibukan duniawi, mendongak ke langit, dan mengakui keahlian ilahi dalam desain kosmik. Keteraturan dan keindahan di atas sana adalah undangan untuk mengenal Sang Arsitek Agung yang mengatur segala sesuatu dengan ketepatan yang tak tertandingi.