Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Isra'il, adalah salah satu surat di Juz ke-15 Al-Qur'an yang sarat akan mukjizat dan peringatan penting bagi umat Islam. Ayat pertama dari surat ini menjadi pembuka yang sangat agung, langsung menyoroti kebesaran dan kekuasaan mutlak Allah SWT yang mampu melakukan hal-hal di luar nalar manusia.
Ayat ini mengisahkan tentang peristiwa Isra Mi'raj, perjalanan malam luar biasa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem (Isra), dan kemudian diangkat ke tingkatan langit tertinggi (Mi'raj). Peristiwa ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah peneguhan status kenabian dan penguatan hati Rasulullah SAW di tengah cobaan dakwah yang berat.
Pembukaan ayat dengan kalimat "Subhanalladzii" (Mahasuci Allah) menegaskan bahwa peristiwa luar biasa tersebut mustahil terjadi kecuali atas kehendak zat yang Maha Sempurna, Allah SWT. Kata 'Isra' sendiri berarti perjalanan di malam hari. Pemilihan waktu malam menunjukkan bahwa mukjizat ini terjadi dalam kondisi di mana akal manusia cenderung melemah, sekaligus menegaskan bahwa kekuatan Ilahi tidak terpengaruh oleh hukum fisika dan waktu.
Tujuan utama dari Isra adalah untuk menunjukkan kepada Nabi SAW tanda-tanda kebesaran Allah di tempat yang diberkahi, yakni Masjidil Aqsa. Masjid ini menjadi titik transit spiritual penting sebelum beliau naik ke hadirat Allah SWT (Mi'raj). Keberkahan di sekeliling Masjidil Aqsa merujuk pada keberkahan spiritual, historis, dan tempat turunnya banyak nabi sebelumnya.
Setelah mengagungkan kebesaran-Nya melalui peristiwa Isra, ayat kedua melanjutkan dengan memberikan wahyu kepada Musa dan menekankan peran Nabi Muhammad SAW sebagai penerus risalah yang membawa rahmat dan petunjuk. Ayat ini mengaitkan kisah Nabi Muhammad SAW dengan kisah-kisah nabi terdahulu, menunjukkan kesinambungan risalah tauhid.
Ayat kedua berfungsi sebagai penegasan kembali fondasi utama ajaran Islam, yaitu tauhid. Pemberian Taurat kepada Nabi Musa AS adalah sebuah rahmat dan petunjuk. Namun, pesan inti yang disisipkan setelah penyebutan kitab suci tersebut adalah peringatan tegas: "Janganlah kamu mengambil pelindung selain Aku."
Ini menunjukkan bahwa meskipun mukjizat Isra Mi'raj adalah puncak kemuliaan fisik dan spiritual bagi Rasulullah SAW, inti dari seluruh ajaran ilahi—dari Taurat hingga Al-Qur'an—tetap sama: pengakuan tunggal bahwa Allah adalah satu-satunya Waliy (Pelindung, Penolong, dan Pengurus) sejati. Manusia tidak boleh bersandar kepada kekuatan lain, entah itu materi, kekuasaan, atau bahkan spiritualitas yang menyimpang, selain berserah diri penuh kepada-Nya.
Dua ayat ini bekerja secara sinergis. Ayat pertama menunjukkan kekuasaan Allah yang tidak terbatas melalui mukjizat fisik yang menakjubkan (Isra Mi'raj), sementara ayat kedua menegaskan bahwa di balik kekuasaan tersebut, terdapat pesan instruksional yang fokus pada pemurnian aqidah. Mukjizat adalah bukti kebenaran risalah, dan pemurnian tauhid adalah tujuan akhir dari risalah tersebut.
Dengan merenungi Surat Al-Isra ayat 1 dan 2, seorang Muslim diingatkan bahwa Allah SWT adalah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, mampu memindahkan hamba-Nya melintasi ruang dan waktu dalam sekejap mata. Namun, kemahakuasaan ini selalu disertai dengan bimbingan etika dan aqidah yang fundamental, yaitu pengakuan penuh bahwa hanya Dia yang layak disembah dan dijadikan tempat bergantung mutlak.
Peristiwa Isra Mi'raj menjadi penanda kedudukan istimewa Nabi Muhammad SAW, sementara penegasan tentang pentingnya memegang teguh tauhid melalui contoh Taurat, memastikan bahwa umat Islam selalu kembali pada prinsip dasar ajaran para nabi terdahulu, yakni mengesakan Allah SWT dan tidak menjadikan selain-Nya sebagai pelindung. Ayat-ayat ini adalah fondasi spiritual dan teologis yang kokoh bagi setiap muslim.