Ilustrasi perjalanan suci Nabi Muhammad SAW.
Surat Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Surat Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an yang mengandung banyak pelajaran penting, terutama mengenai perjalanan luar biasa Nabi Muhammad SAW, yaitu Isra' Mi'raj. Ayat 1 hingga 4 dari surat ini secara khusus menyoroti kesucian dan keagungan peristiwa Isra' (perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa) dan menegaskan kekuasaan Allah SWT yang Maha Agung. Memahami ayat-ayat ini memberikan kita perspektif tentang mukjizat yang diberikan kepada Nabi dan tanggung jawab umat manusia.
Surat Al-Isra Ayat 1
Ayat pertama ini membuka lembaran kisah Isra' dengan kalimat tasbih (Subhana) yang menunjukkan kekaguman dan penyerahan diri kepada kebesaran Allah. Perjalanan ini dilakukan pada malam hari, menekankan bahwa peristiwa ini adalah mukjizat fisik dan spiritual yang tidak mungkin terjadi tanpa izin dan kekuatan Ilahi. Masjidil Aqsa, yang menjadi tujuan akhir perjalanan malam, dijelaskan sebagai tempat yang "diberkahi sekelilingnya." Pemberkahan ini bukan hanya bersifat geografis, tetapi juga spiritual, karena di sana terdapat sejarah para nabi dan pusat ibadah yang penting. Tujuan utama perjalanan ini, seperti disebutkan, adalah agar Nabi Muhammad SAW diperlihatkan sebagian dari tanda-tanda kebesaran Allah.
Surat Al-Isra Ayat 2
Setelah menyinggung mukjizat Isra', ayat kedua mengaitkannya dengan pemberian wahyu kepada Nabi Musa AS, yaitu Taurat. Pengaitan ini penting karena menekankan konsistensi risalah tauhid yang dibawa oleh para nabi. Allah mengingatkan Bani Israil (keturunan Ya'qub) bahwa Kitab Suci telah diberikan sebagai petunjuk utama, dan peringatan tegas diberikan: janganlah mereka mengambil pelindung selain Allah. Ayat ini menegaskan bahwa sumber pertolongan, perlindungan, dan bimbingan sejati hanyalah dari Allah semata. Ini adalah inti ajaran yang selalu disampaikan oleh setiap rasul.
Surat Al-Isra Ayat 3
Ayat ketiga melanjutkan pembahasan mengenai Bani Israil dengan menelusuri garis keturunan mereka hingga kepada Nuh AS. Disebutkan bahwa mereka adalah keturunan dari mereka yang diselamatkan bersama Nabi Nuh dari banjir besar. Tujuan penyebutan ini adalah untuk mengingatkan bahwa keberkahan dan keselamatan yang mereka nikmati adalah buah dari rahmat Ilahi, bukan semata-mata karena status keturunan mereka. Lebih lanjut, ayat ini memberikan teladan utama: Nabi Nuh digambarkan sebagai "hamba yang sangat bersyukur" (Abdan Syakura). Rasa syukur ini menjadi kunci utama dalam menjaga nikmat dan ketaatan kepada Allah, sebuah pelajaran yang relevan bagi Bani Israil dan seluruh umat manusia.
Surat Al-Isra Ayat 4
Ayat penutup dari rangkaian ini adalah peringatan keras dan nubuat kenabian mengenai perilaku Bani Israil di masa depan. Allah memberitahukan melalui Taurat bahwa mereka akan melakukan dua kali kerusakan besar di muka bumi, diikuti dengan kesombongan (keangkuhan) yang luar biasa. Peringatan ini berfungsi sebagai ujian dan konsekuensi logis dari penolakan mereka terhadap ajaran tauhid dan rasa syukur. Kerusakan pertama sering dikaitkan dengan kekejaman mereka terhadap nabi-nabi dan penghancuran Baitul Maqdis, sedangkan kerusakan kedua dikaitkan dengan tindakan mereka di masa kekuasaan Romawi. Surat Al-Isra ayat 1-4 secara keseluruhan adalah permulaan yang kuat yang menyandingkan keajaiban mukjizat Nabi Muhammad SAW dengan sejarah peringatan ilahi kepada umat sebelumnya, menegaskan bahwa ketaatan pada wahyu adalah syarat mutlak untuk mendapatkan rahmat dan menghindari kehancuran.