Surat Al-Isra, atau juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah salah satu surat di dalam Al-Qur'an yang kaya akan pelajaran penting mengenai sejarah nabi, keajaiban, serta prinsip-prinsip moral dan spiritual. Di antara ayat-ayatnya, terdapat satu ayat yang sering menjadi titik fokus pembahasan mengenai keimanan dan bukti kekuasaan Allah, yaitu Surat Al-Isra ayat 99.
Ayat ini secara spesifik menyinggung tentang balasan bagi orang-orang yang ingkar atau mereka yang menolak untuk menerima kebenaran yang dibawa oleh para rasul. Pemahaman mendalam terhadap ayat ini memberikan wawasan mengenai konsekuensi dari penolakan terhadap petunjuk ilahi.
Ayat ini merupakan kelanjutan dari pembahasan mengenai orang-orang kafir yang tidak mau beriman kepada Allah dan para rasul-Nya. Teks Arab dalam ayat ini sangat lugas, menjelaskan nasib akhir dari mereka yang menyembah selain Allah.
Ayat 99 ini seringkali dibaca bersamaan dengan ayat-ayat sebelumnya (seperti ayat 97 dan 98) yang membahas tentang bagaimana Allah memberikan balasan kepada mereka yang menolak wahyu. Ayat-ayat tersebut menegaskan bahwa meskipun manusia diberikan akal dan petunjuk yang jelas, ada golongan yang memilih untuk menutup hati dan pikiran mereka.
Penekanan utama dalam Surat Al-Isra ayat 99 adalah pada konsekuensi logis dari perbuatan syirik (menyekutukan Allah) dan penolakan terhadap kebenaran. Allah menegaskan bahwa segala sesuatu yang disembah selain-Nya, yang mereka jadikan tandingan bagi Allah, akan dilepaskan dari mereka pada hari kiamat, dan sesembahan-sesembahan tersebut justru akan menjadi bahan bakar bagi api neraka Jahannam.
Ayat ini mengandung beberapa pelajaran mendasar bagi seorang Muslim. Pertama, penegasan tentang tauhid (keesaan Allah) adalah pondasi utama agama. Syirik adalah dosa terbesar, dan balasan bagi pelaku syirik akan sangat berat. Allah SWT tidak akan mengampuni dosa syirik jika pelakunya meninggal dalam keadaan belum bertaubat.
Kedua, ayat ini menunjukkan bahwa tidak ada gunanya bergantung atau menyembah selain Allah di dunia. Ketika azab datang, sesembahan selain Allah (berupa berhala, benda mati, atau bahkan hawa nafsu yang disembah) tidak akan mampu memberikan pertolongan. Sebaliknya, mereka justru akan ikut menanggung konsekuensi sebagai bahan bakar siksaan.
Ketiga, ayat ini berfungsi sebagai peringatan keras. Dengan mengetahui nasib buruk bagi mereka yang menyembah selain Allah, seorang mukmin seharusnya semakin teguh dalam keimanannya dan senantiasa berlindung kepada Allah SWT dari kesesatan. Pemahaman tentang Surat Al-Isra ayat 99 ini memperkuat keyakinan bahwa hanya Allah yang berhak disembah dan hanya Dia yang mampu memberikan keselamatan sejati.
Ayat-ayat dalam Al-Isra, termasuk ayat 99 ini, senantiasa mengingatkan bahwa kekuasaan mutlak hanya milik Allah. Ketika manusia menyembah selain-Nya, mereka seolah-olah menempatkan sesuatu yang lemah dan tidak berdaya di posisi yang seharusnya menjadi milik Sang Pencipta. Pada akhirnya, hanya Allah yang memiliki kuasa atas segala sesuatu, termasuk menentukan nasib akhir dari mereka yang menyembah-Nya dengan tulus dan mereka yang menyembah selain-Nya.