Memahami Kedudukan Surat Al-Maidah Ayat 110

Ilustrasi Kekuatan dan Pengadilan Ilahi SVG sederhana yang menggambarkan timbangan keadilan di atas kitab suci, melambangkan pertanggungjawaban amal di hadapan Allah SWT.

Surat Al-Maidah, yang berarti "Hidangan", adalah salah satu surat Madaniyah terpanjang dalam Al-Qur'an. Di dalamnya terdapat banyak sekali ayat yang mengatur berbagai aspek kehidupan seorang Muslim, mulai dari hukum, etika, hingga kisah-kisah penting. Salah satu ayat yang memiliki bobot besar mengenai pertanggungjawaban dan kekuasaan Allah SWT adalah Surat Al-Maidah ayat 110.

Teks dan Terjemahan Surat Al-Maidah Ayat 110

Ayat ini sering dikutip dalam konteks membahas Hari Kiamat, kebangkitan, dan pengadilan ilahi. Berikut adalah teks aslinya dalam bahasa Arab beserta terjemahannya:

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا فِيهِنَّ ۚ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
"Hanya milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan segala apa yang ada di dalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Al-Maidah: 110)

Makna Mendalam Ayat Tentang Kekuasaan Mutlak

Inti dari Surat Al-Maidah ayat 110 adalah penegasan mutlak mengenai keesaan Allah dalam hal kepemilikan dan kekuasaan. Ayat ini berfungsi sebagai pengingat fundamental bagi seluruh umat manusia bahwa segala sesuatu yang kita lihat—mulai dari bintang-bintang terjauh di langit hingga partikel terkecil di bumi—semuanya berada di bawah kontrol dan kepemilikan Sang Pencipta.

Frasa "Mulkus-samawati wal ard" (Kerajaan langit dan bumi) menegaskan bahwa tidak ada entitas, penguasa, atau kekuatan lain yang memiliki hak kepemilikan sejati selain Allah. Ini mencakup semua hukum fisika, tatanan alam, kehidupan makhluk hidup, hingga takdir setiap individu. Penguasaan ini bersifat absolut, tidak dibatasi oleh waktu maupun ruang.

Konteks Sebelum Ayat 110

Untuk memahami kedalaman ayat 110, kita perlu melihat konteks ayat-ayat sebelumnya, khususnya dalam rangkaian ayat 109 hingga 115 yang membicarakan tentang dialog Allah dengan para rasul, termasuk Nabi Isa AS. Allah bertanya kepada Nabi Isa tentang mukjizat yang telah diberikan-Nya, apakah mukjizat itu cukup untuk meyakinkan kaumnya. Setelah dialog tersebut selesai, ayat 110 muncul sebagai penutup pembahasan tentang pertanggungjawaban para rasul dan manusia. Dengan mengingatkan bahwa Allah adalah pemilik tunggal segalanya, tersirat bahwa pertanggungjawaban yang mereka sampaikan akan diadili oleh Hakim yang paling adil dan Maha Berkuasa.

Pengakuan bahwa hanya Allah yang memiliki kerajaan langit dan bumi menghilangkan legitimasi klaim kekuasaan absolut oleh manusia manapun. Kekuasaan manusia bersifat pinjaman, terbatas, dan fana, sementara kekuasaan Allah adalah kekal dan tanpa batas.

Implikasi "Wa Huwa 'Ala Kulli Syai'in Qodir"

Bagian penutup ayat, "Wa Huwa 'Ala Kulli Syai'in Qodir" (Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu), adalah penegasan sifat kemahakuasaan (Qudrah) Allah. Kekuasaan ini mencakup kemampuan untuk menciptakan, mematikan, menghidupkan kembali, menghakimi, serta memberikan balasan yang adil.

Bagi seorang mukmin, pemahaman atas Surat Al-Maidah ayat 110 membawa dua dampak utama:

  1. Ketenangan dan Tawakkal: Ketika menghadapi kesulitan atau ketidakadilan duniawi, seorang Muslim diingatkan bahwa penguasa sesungguhnya adalah Allah. Apapun yang terjadi berada dalam skenario kekuasaan-Nya yang sempurna. Ini mendorong ketenangan batin dan penyerahan diri (tawakkal).
  2. Ketakutan yang Benar (Taqwa): Karena Allah Maha Kuasa, maka Dia juga Maha mampu membalas perbuatan. Ayat ini menjadi pengingat keras bagi mereka yang berbuat zalim bahwa kekuasaan duniawi mereka hanyalah ilusi sesaat, dan kekuasaan sejati akan menuntut pertanggungjawaban di hadapan Yang Maha Kuasa.

Secara kolektif, Surat Al-Maidah ayat 110 menegaskan Teologi Tauhid dalam perspektif kepemilikan dan kekuatan. Ayat ini adalah fondasi keyakinan bahwa segala urusan alam semesta, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi, diatur dan tunduk pada kehendak serta kemampuan Allah SWT yang tak terbatas. Membaca, merenungkan, dan mengamalkan makna ayat ini akan memperkuat keimanan seorang hamba terhadap Rabb-nya, sehingga ia menjalani hidup dengan penuh kesadaran akan tujuan eksistensinya di bawah naungan kekuasaan yang Maha Agung.

🏠 Homepage