Surat Al-Ma'idah, surat kelima dalam Al-Qur'an, menyimpan banyak sekali pelajaran penting mengenai sejarah umat terdahulu, hukum-hukum syariat, serta interaksi antar umat beragama. Di antara ayat-ayat yang memiliki bobot besar adalah ayat 78 hingga 80. Ayat-ayat ini secara khusus menyoroti takdir kaum Bani Israil (keturunan Nabi Ya'qub) dan bagaimana mereka menanggapi peringatan-peringatan ilahi yang diberikan kepada mereka. Memahami konteks ayat-ayat ini memberikan cerminan tegas mengenai konsekuensi pembangkangan terhadap kebenaran dan pentingnya menerima amanah keadilan.
لُعِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنۢ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُۥدَ وَعِيسَى ٱبْنِ مَرْيَمَ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوا۟ وَّكَانُوا۟ يَعْتَدُونَ
"Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Hal itu (disebabkan) karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas."
كَانُوا۟ لَا يَتَنَاهَوْنَ عَن مُّنكَرٍ فَعَلُوهُ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا۟ يَفْعَلُونَ
"Mereka satu sama lain biasa melarang melakukan kemungkaran yang mereka perbuat; sejahat-jahat apa yang mereka lakukan itu."
تَرَىٰ كَثِيرًا مِّنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ۚ لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنفُسُهُمْ أَن يَغْضِبَ ٱللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِى ٱلْعَذَابِ هُمْ خَٰلِدُونَ
"Kamu akan melihat kebanyakan dari mereka saling tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir; seburuk-buruknya apa yang telah disiapkan oleh diri mereka untuk diri mereka sendiri, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka, dan mereka akan kekal di dalam azab."
Ayat 78 membuka sebuah deklarasi keras. Laknat yang ditimpakan kepada sebagian Bani Israil (yaitu mereka yang ingkar setelah kerasulan) disampaikan melalui lisan dua nabi besar, Nabi Daud AS dan Nabi Isa AS. Dalam tradisi Yahudi dan Nasrani, Daud dan Isa adalah figur sentral. Ketika laknat datang dari lisan figur yang mereka hormati, hal ini menunjukkan betapa seriusnya pelanggaran yang mereka lakukan. Laknat di sini bukan sekadar celaan, melainkan penolakan ilahi atas tindakan mereka. Penyebabnya jelas disebutkan: "karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas." Mereka tidak hanya sesekali melanggar, tetapi perilaku melampaui batas (i'tida') menjadi pola hidup.
Kondisi moral masyarakat tersebut diperjelas pada ayat 79. Poin utama dari ayat ini adalah hilangnya fungsi amar ma'ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran) dalam komunitas mereka. Kalimat "Mereka satu sama lain biasa melarang melakukan kemungkaran..." dalam konteks ini diartikan bahwa tradisi saling mencegah itu telah hilang, atau bahkan, ketika tradisi itu ada, fungsinya lemah dan tidak efektif karena pelanggaran sudah menjadi norma. Imam Al-Baghawi dan mufassir lainnya menjelaskan bahwa hilangnya fungsi ini menjadi indikator kehancuran moral suatu umat. Ketika masyarakat membiarkan keburukan merajalela tanpa ada teguran yang berarti, maka azab Allah adalah konsekuensi logisnya.
Ayat 80 adalah puncak peringatan dalam rangkaian ini. Ayat ini menunjukkan gejala paling berbahaya dari penyakit internal Bani Israil: bersekutu dan menjalin loyalitas (tawalla) dengan orang-orang kafir. Di tengah konteks turunnya ayat, ini merujuk pada kecenderungan sebagian mereka untuk menjalin kemitraan politik atau ideologis dengan musuh-musuh Islam, meskipun mereka sendiri mengaku sebagai pengikut agama samawi.
Allah SWT memperingatkan bahwa aliansi tersebut adalah tindakan yang sangat merugikan diri sendiri: "Seburuk-buruknya apa yang telah disiapkan oleh diri mereka untuk diri mereka sendiri." Mereka menukar kemuliaan di sisi Allah dengan keuntungan duniawi sesaat yang ditawarkan oleh kaum kafir. Konsekuensi dari pilihan ini sangat fatal: kemurkaan Allah dan kekekalan di dalam azab (neraka). Ayat ini memberikan pelajaran universal bagi setiap mukmin: loyalitas tertinggi harus ditujukan kepada Allah dan Rasul-Nya, dan tidak boleh menempatkan kepentingan kelompok atau kepentingan duniawi di atas prinsip-prinsip tauhid dan kebenaran agama.
Kisah Bani Israil dalam Al-Ma'idah 78-80 berfungsi sebagai cermin bagi umat Islam kontemporer. Pelajaran utamanya adalah bahwa kemuliaan tidak diwariskan, melainkan harus diraih melalui ketaatan yang konsisten. Durhaka dan melampaui batas akan menghasilkan laknat, bukan rahmat. Lebih lanjut, keberlangsungan sebuah komunitas sangat bergantung pada kemampuan internalnya untuk saling mengingatkan tentang kebenaran. Ketika teguran menjadi asing, dan ketika umat justru bersekutu dengan kekuatan yang menentang kebenaran demi keuntungan sesaat, maka kerugian terbesar yang akan mereka dapatkan adalah kehilangan keridhaan Ilahi dan terjerumus dalam azab abadi. Ayat-ayat ini menuntut introspeksi mendalam mengenai prioritas hidup dan arah loyalitas kita.