Surat Al-Zalzalah (Kegoncangan) adalah surat ke-99 dalam Al-Qur'an yang hanya terdiri dari 8 ayat. Meskipun singkat, surat ini mengandung peringatan yang sangat keras dan gamblang mengenai hari kiamat atau Yaumul Qiyamah. Salah satu ayat kunci yang memberikan gambaran tentang peristiwa dahsyat tersebut adalah ayat keenam.
Ayat keenam dari surat ini secara spesifik membahas apa yang akan terjadi pada hari di mana bumi mengguncang hebat. Mari kita simak teks ayat tersebut, baik dalam bahasa aslinya maupun terjemahannya:
Ayat ini adalah jembatan antara goncangan bumi (ayat 1-5) dan penimbangan amal (ayat 7-8). Ayat 6 ini secara eksplisit menjelaskan tentang **Yaumul Qiyamah**, hari di mana setiap manusia akan berdiri di hadapan Allah SWT untuk mempertanggungjawabkan setiap tindakan yang pernah dilakukan selama hidup di dunia.
Frasa kunci dalam ayat ini adalah "يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا" (Yashduru an-nasu asytatan), yang diterjemahkan sebagai "manusia keluar dari kubur dalam keadaan bermacam-macam atau terpisah-pisah." Kata 'Asytatan' mengisyaratkan bahwa manusia tidak akan keluar secara berkelompok seperti saat mereka hidup di dunia, tetapi dalam kondisi yang terpecah belah, masing-masing sendirian, dan dalam keadaan yang beragam.
Kondisi ‘bermacam-macam’ ini dapat diartikan dalam beberapa perspektif:
Gambaran ini menekankan prinsip fundamental dalam Islam: pertanggungjawaban adalah urusan individu. Tidak ada yang bisa menolong orang lain, dan setiap jiwa harus memikul bebannya sendiri.
Tujuan fundamental dari keluarnya manusia dalam kondisi terpisah-pisah tersebut adalah "لِّيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ" (li-yuraw a'malahum), yaitu "supaya diperlihatkan kepada mereka balasan amal perbuatan mereka." Ini adalah momen kebenaran yang mutlak.
Semua perbuatan, sekecil apapun—niat baik yang tersembunyi, sedekah di kala susah, hingga kata-kata yang terucap—akan disajikan secara utuh. Tidak ada yang tersembunyi. Ayat ini menegaskan keadilan Ilahi. Allah tidak akan menzalimi siapa pun. Jika seseorang melakukan kebaikan seberat atom, ia akan melihatnya; jika melakukan keburukan seberat atom, ia juga akan melihatnya.
Hal ini berfungsi sebagai manifestasi keadilan sempurna. Mereka yang di dunia mungkin lolos dari hukuman duniawi atas kejahatannya, atau kebaikan mereka mungkin tidak terlihat oleh manusia, namun di hadapan Allah, semua terungkap jelas. Ini adalah peringatan keras bagi mereka yang berbuat maksiat dengan sembunyi-sembunyi, seolah-olah tidak ada yang mengawasi.
Surat Al-Zalzalah secara keseluruhan adalah deskripsi rinci tentang permulaan Yaumul Qiyamah. Ayat 6 ini menegaskan fase krusial setelah peristiwa fisik kehancuran dunia (kiamat kubra). Yaumul Qiyamah bukanlah akhir dari kisah penciptaan, melainkan awal dari hisab (perhitungan).
Di hari itu, tidak ada lagi kesempatan untuk beralasan atau meminta penundaan. Seluruh umat manusia, dari Nabi Adam hingga manusia terakhir, akan dikumpulkan. Keadaan 'asyatan' (terpisah-pisah) memastikan bahwa setiap individu menghadapi konsekuensi tindakannya tanpa delegasi atau intervensi. Ini menekankan singularitas tanggung jawab moral dan spiritual kita.
Oleh karena itu, pemahaman mendalam terhadap Surat Al-Zalzalah ayat 6 ini harus mendorong seorang Muslim untuk senantiasa berintrospeksi diri (muhasabah) dan beramal saleh. Karena pada hari ketika bumi menunjukkan semua isinya, dan manusia keluar dalam keadaan terpisah-pisah, satu-satunya bekal yang berarti adalah catatan amal baik yang telah kita kumpulkan.