Keseimbangan

Ilustrasi: Goncangan Hari Kiamat dan Timbangan Amal

Urutan Penurunan Surat Al-Zalzalah: Turun Setelah Surat Apa?

Memahami kronologi turunnya ayat-ayat Al-Qur'an merupakan ilmu tersendiri yang disebut dengan 'Ilmuun Nuzulul Ayat. Ilmu ini membantu umat Islam menempatkan wahyu dalam konteks sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW di Mekkah atau Madinah. Salah satu surat yang sering menjadi perbincangan mengenai urutannya adalah Surat Al-Zalzalah (Surat ke-99).

Surat Al-Zalzalah, yang memiliki tujuh ayat pendek namun padat makna, membahas gambaran dahsyatnya hari kiamat ketika bumi digoncangkan hebat dan mengeluarkan isi perutnya. Pertanyaan yang sering muncul adalah: Surat Al-Zalzalah turun setelah surat apa? Untuk menjawab ini, kita perlu merujuk pada riwayat para mufasir dan pendapat yang paling kuat dalam literatur Islam.

Menurut mayoritas pendapat yang dipegang oleh para ahli tafsir terkemuka, Surat Al-Zalzalah (Az-Zalzalah) adalah surat Madaniyah, yang berarti diturunkan setelah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah. Namun, penentuan urutan pastinya menjadi lebih spesifik ketika dikaitkan dengan surat-surat lain.

Posisi Al-Zalzalah dalam Kronologi Wahyu

Para ulama yang fokus pada kodifikasi Mushaf (urutannya saat ini) menempatkan Al-Zalzalah pada urutan ke-99. Namun, urutan ini berbeda dengan urutan pewahyuan (kronologi turunnya). Dalam kajian ilmu al-nuzul, Al-Zalzalah diyakini turun setelah beberapa surat penting lainnya, khususnya yang berkaitan dengan penguatan syariat di Madinah.

Riwayat yang paling banyak dijadikan acuan dalam menentukan urutan ini berasal dari Mushaf Ubay bin Ka'ab dan catatan-catatan sejarawan awal. Konsensus yang kuat menyatakan bahwa Surat Al-Zalzalah turun setelah Surat An-Nisa. Surat An-Nisa sendiri adalah surat Madaniyah yang membahas hukum-hukum keluarga dan warisan secara rinci.

Mengapa urutan ini penting? Karena surat-surat yang turun di Madinah sering kali membahas tata kelola masyarakat Islam yang sudah berbentuk negara. Al-Zalzalah, dengan peringatannya yang keras mengenai pertanggungjawaban sekecil apa pun (misalnya, ayat 7 dan 8), berfungsi sebagai penguat keimanan dan kesadaran moral bagi komunitas Muslim yang baru berkembang di bawah naungan pemerintahan Islam Madinah.

Makna dan Relevansi Penurunan Surat

Penurunan surat-surat yang berkaitan dengan hari akhir di Madinah memiliki dampak psikologis yang mendalam. Walaupun kaum Quraisy di Mekkah sudah diperingatkan tentang kiamat, komunitas Madinah yang mulai berinteraksi secara politik dan sosial membutuhkan pengingat konstan bahwa setiap tindakan, baik yang terlihat maupun tersembunyi, akan diperhitungkan.

Bayangkan konteksnya: setelah turunnya An-Nisa yang penuh dengan regulasi sosial, turunlah Al-Zalzalah sebagai pengingat universal: semua aturan ini akan berakhir pada satu titik perhitungan agung. Goncangan bumi yang digambarkan dalam surat ini bukan sekadar peristiwa alam, tetapi metafora bagi kehancuran total tatanan dunia lama dan dimulainya pertanggungjawaban individu di hadapan Allah SWT.

Ayat-ayatnya yang lugas, "Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihatnya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihatnya," (Al-Zalzalah: 7-8) menegaskan prinsip keadilan mutlak Allah. Penekanan pada keadilan mikro ini sangat relevan dalam masyarakat yang sedang membangun sistem hukum dan etika.

Perbedaan Pendapat Mengenai Klasifikasi

Meskipun mayoritas ulama mengklasifikasikan Al-Zalzalah sebagai Madaniyah, terdapat beberapa pendapat minoritas yang menganggapnya Makkiyah. Argumen yang mendukung klasifikasi Makkiyah biasanya didasarkan pada kesamaan tema surat ini dengan surat-surat Mekkah lainnya yang juga membahas Hari Kebangkitan (seperti Surat Al-Qari'ah). Namun, analisis linguistik dan kontekstual yang lebih mendalam menunjukkan bahwa gaya bahasa dan penekanan hukum cenderung mengarah pada periode Madinah.

Jika kita mengikuti pendapat mayoritas yang mengklasifikasikannya sebagai Madaniyah, maka logis jika Surat Al-Zalzalah turun setelah Surat An-Nisa, atau setelah surat-surat Madaniyah awal lainnya, karena surat-surat tersebut membantu membentuk fondasi hukum dan moralitas komunitas Madinah.

Sebagai kesimpulan, meskipun detail persis urutan pewahyuan terkadang masih menjadi diskursus ilmiah, penempatan Al-Zalzalah dalam periode Madinah setelah surat-surat yang membahas hukum komprehensif, seperti An-Nisa, adalah pandangan yang paling diterima. Surat ini berfungsi sebagai alarm kosmik yang mengingatkan semua mukallaf bahwa guncangan dunia hanyalah prolog bagi Guncangan Terbesar, dan pertanggungjawaban amal adalah hal yang pasti dan terperinci. Pemahaman ini memperkaya penghayatan kita saat membaca Al-Qur'an sesuai tertib penurunannya.

Mempelajari urutan ini memberikan perspektif bahwa Al-Qur'an diturunkan secara bertahap, disesuaikan dengan kebutuhan umat pada saat itu, mulai dari penguatan aqidah (di Mekkah) hingga regulasi kehidupan sosial dan peringatan akhir zaman (di Madinah).

🏠 Homepage