Ilustrasi: Representasi awal dari sebuah kondisi atau peristiwa yang akan datang.
Dalam khazanah keilmuan Islam, khususnya dalam kajian Al-Qur'an, terdapat serangkaian ayat-ayat yang memiliki kekuatan naratif dan peringatan yang luar biasa. Salah satu frasa yang seringkali memantik perhatian dan memerlukan perenungan mendalam adalah frasa yang dimulai dengan surat idza zul. Frasa ini secara harfiah mengindikasikan 'ketika terjadi' atau 'saat datangnya' suatu peristiwa besar, mengisyaratkan permulaan dari sebuah babak baru yang krusial.
Kata 'Idza' (إِذَا) adalah kata syarat dalam bahasa Arab yang berarti 'ketika' atau 'apabila'. Kata ini hampir selalu mendahului deskripsi tentang suatu kejadian yang pasti terjadi di masa depan, seringkali merujuk pada hari kiamat, kebangkitan, atau kehancuran total suatu peradaban. Sementara itu, 'Zul' (yang merupakan bagian dari kata kerja atau nama kejadian) dalam konteks ini seringkali merujuk pada kondisi ekstrem atau perubahan mendasar yang menandai akhir dari suatu era.
Ketika dikaitkan dengan konteks surat-surat tertentu, terutama yang membahas tema hari akhir, surat idza zul menjadi pembuka dialog yang dramatis. Ia memaksa pendengar atau pembaca untuk segera menempatkan diri dalam kerangka waktu di mana normalitas telah berakhir. Ini bukan sekadar ramalan, melainkan janji ilahi mengenai keadilan absolut yang akan ditegakkan.
Banyak surat dalam Al-Qur'an menggunakan struktur serupa untuk menekankan keseriusan pesan yang disampaikan. Sebagai contoh, ketika Al-Qur'an menggambarkan peristiwa goncangan besar, ia menggunakan kata-kata yang menciptakan gambaran multisensori tentang kehancuran. Frasa semacam ini berfungsi sebagai alat retorika yang efektif untuk memindahkan fokus manusia dari kesibukan duniawi menuju persiapan spiritual.
Kajian mendalam terhadap surat idza zul mengharuskan kita untuk memahami bahwa peristiwa yang digambarkan bukanlah sekadar bencana alam biasa. Itu adalah tatanan alam semesta yang dibalik, di mana hukum fisika yang kita kenal tidak lagi berlaku. Gunung-gunung yang tegak akan dihancurkan menjadi debu, lautan akan meluap hingga menyatu, dan bumi akan diguncang dengan guncangan yang tak tertandingi. Setiap detail yang disampaikan berfungsi untuk menghapus segala bentuk keraguan tentang kepastian akan datangnya hari perhitungan.
Mengapa Allah SWT mengulang deskripsi yang mengerikan ini berulang kali? Jawabannya terletak pada implikasi moralnya bagi kehidupan saat ini. Dengan menggambarkan kengerian yang akan datang, Al-Qur'an secara paradoks menawarkan ketenangan bagi mereka yang beriman dan peringatan keras bagi mereka yang lalai. Konsep surat idza zul adalah pengingat bahwa waktu yang kita miliki di bumi ini terbatas dan setiap tindakan akan dipertanggungjawabkan.
Bagi seorang Muslim, pemahaman terhadap ayat-ayat yang diawali dengan kondisi ekstrem tersebut seharusnya memotivasi untuk meningkatkan kualitas ibadah, memperbaiki hubungan sesama manusia, dan menjauhi kemaksiatan. Ketakutan sesaat terhadap deskripsi kiamat harus diterjemahkan menjadi rasa takut yang konstruktif (takwa) terhadap murka Allah di Hari Pembalasan.
Selain kiamat kubra (kiamat besar), konsep 'ketika terjadi' juga bisa diaplikasikan pada kiamat sughra (kiamat kecil) yang menimpa individu, yaitu kematian. Kematian adalah 'idza zul' pribadi kita. Ketika ajal tiba, segala perencanaan duniawi berhenti, dan pertanggungjawaban dimulai. Oleh karena itu, mempersiapkan diri untuk 'idza zul' kecil sama pentingnya dengan mempersiapkan diri untuk 'idza zul' kosmik.
Meskipun sering dikaitkan dengan kengerian, penting untuk dicatat bahwa penggunaan frasa seperti surat idza zul juga digunakan untuk mendeskripsikan peristiwa penting lainnya, seperti turunnya pertolongan Allah atau pembalasan terhadap kaum yang ingkar. Namun, intensitas deskripsi yang menyertai frasa ini selalu mengindikasikan bahwa peristiwa tersebut adalah titik balik yang definitif, bukan sekadar kejadian biasa.
Para mufasir menekankan bahwa kekhasan bahasa Al-Qur'an terletak pada kemampuannya untuk membangkitkan emosi sekaligus memberikan tuntunan logis. Struktur kalimat yang dimulai dengan 'ketika' membuat pendengar terikat pada narasi tersebut, seolah-olah mereka menyaksikan peristiwa itu terjadi di hadapan mata mereka. Ini adalah kekuatan puitis dan profetik yang terkandung dalam setiap firman-Nya, memastikan pesan keesaan dan hari akhir selalu relevan sepanjang masa.
Kesimpulannya, mengkaji surat idza zul bukan hanya tentang memahami tafsir kata per kata, tetapi tentang merefleksikan posisi kita di hadapan kekuasaan Tuhan yang Maha Besar. Ia adalah undangan untuk hidup dengan kesadaran penuh bahwa setiap momen adalah persiapan menuju suatu kepastian yang tak terhindarkan.
Semoga kajian singkat ini menambah kedalaman pemahaman kita terhadap ayat-ayat peringatan dalam Al-Qur'an.