Ilustrasi visualisasi keagungan Ilahi.
Frasa pendek namun sarat makna dalam tradisi Islam adalah "Subhanalladzi". Secara harfiah, ini berarti "Maha Suci Tuhan yang..." Kalimat ini seringkali menjadi pembuka bagi pujian yang lebih panjang, seperti dalam bacaan doa setelah melihat fenomena alam yang menakjubkan, atau dalam penggalan ayat-ayat Al-Qur'an yang menggambarkan kebesaran Allah SWT. Memahami akar kata dan konteks penggunaannya sangat penting untuk menghayati kedalaman spiritual dari dzikir ini.
Kata "Subhan" adalah bentuk tasbih (penyucian), yang meniadakan segala bentuk kekurangan, kelemahan, atau ketidaksempurnaan dari Allah SWT. Ketika kita mengucapkan "Subhanallah", kita menegaskan bahwa Allah jauh dari segala yang tidak pantas melekat pada-Nya. Sementara itu, kata "Alladzi" (atau 'Alladzi') adalah kata sambung yang berarti "Yang". Jadi, ketika digabungkan, "Subhanalladzi" mengawali sebuah pernyataan yang akan diikuti dengan deskripsi tentang keunikan atau kebesaran Allah yang baru saja kita saksikan atau renungkan.
Pengucapan kalimat ini bukan sekadar rutinitas lisan. Ini adalah bentuk refleksi diri. Dalam kehidupan sehari-hari yang penuh hiruk pikuk dan tantangan, mudah bagi manusia untuk terjebak dalam keterbatasan pandangan duniawi. Mengucapkan tasbih seperti ini memaksa pikiran kita untuk sejenak berhenti, menarik napas, dan mengakui adanya Realitas yang jauh melampaui pemahaman dan kemampuan kita.
Penggunaan frasa yang dimulai dengan "Subhanalladzi" sangat beragam dalam amalan Muslim. Salah satu konteks yang paling terkenal adalah saat seseorang menyaksikan keajaiban alam. Misalnya, ketika melihat badai dahsyat, gemuruh petir, atau sebaliknya, menyaksikan ketenangan malam berbintang. Dalam momen-momen ini, seorang mukmin sering kali mengucapkan doa yang secara eksplisit menyebutkan keajaiban tersebut diikuti dengan pujian kepada Penciptanya.
Contoh lain yang populer adalah doa yang diucapkan setelah bangun tidur, yang sering diawali dengan "Alhamdulillahilladzi ahyana ba'da ma amatana wa ilayhinnusyur" (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah Dia mematikan kami; dan kepada-Nya kami dibangkitkan). Meskipun tidak selalu berbunyi persis "Subhanalladzi", prinsip dasarnya sama: mengaitkan fenomena kehidupan atau kematian dengan kesucian dan kekuasaan Allah.
Dalam Al-Qur'an, konsep penyucian ini berulang kali ditegaskan. Allah SWT memuji diri-Nya sendiri dengan berbagai cara. Ketika kita mengucapkan "Subhanalladzi", kita sedang meniru cara Allah memuji Diri-Nya sendiri, menempatkan diri kita dalam posisi penyembah yang mengakui keunikan dan kesempurnaan Ilahi tersebut.
Manfaat spiritual dari mengucapkan dzikir yang mengandung "Subhanalladzi" sangat besar. Pertama, ia membersihkan hati dari kesombongan. Mengingat betapa Mahasuci-Nya Allah, secara otomatis akan merendahkan ego manusia yang cenderung merasa hebat atas pencapaiannya sendiri. Kedua, ia meningkatkan rasa syukur (syukur). Fenomena alam yang indah atau terhindarnya dari bahaya adalah manifestasi dari kekuasaan-Nya, yang pantas mendapatkan pengakuan dan pujian.
Ketiga, ia adalah sarana untuk memohon perlindungan. Dalam banyak riwayat, dzikir diucapkan sebagai benteng pertahanan spiritual. Ketika jiwa mengakui bahwa hanya ada satu Zat yang Mahasuci dan Maha Kuasa, maka ketakutan terhadap hal-hal duniawi akan berkurang. Kita menyadari bahwa segala sesuatu terjadi atas izin-Nya.
Mengintegrasikan "Subhanalladzi" ke dalam kosakata spiritual harian tidak hanya memperkuat keimanan tetapi juga mengubah cara kita memandang dunia. Setiap daun yang gugur, setiap hujan yang turun, setiap kelahiran, hingga setiap kematian, dapat menjadi alasan untuk mengucapkan pujian ini. Ini mengubah pandangan dari melihat kejadian secara acak menjadi melihat keteraturan dan rencana agung yang diatur oleh Sang Pencipta.
Oleh karena itu, ketika mengucapkan kalimat yang dimulai dengan "Subhanalladzi", resapi artinya: "Maha Suci Dia, Zat yang..." Kemudian, biarkan mata dan hati Anda menyaksikan bukti keagungan-Nya di sekitar Anda, dan berikanlah pengakuan penuh atas kesempurnaan-Nya yang tak terbatas.