Ada kalanya, dalam lembaran kehidupan yang kita tulis bersama, sebuah halaman harus ditutup. Bukan karena salah satu dari kita tidak ingin melanjutkan, tetapi karena semesta telah merajut benang takdir kita ke arah yang berbeda. Kata "perpisahan" seringkali terdengar begitu tajam, seperti pecahan kaca yang jatuh ke lantai marmer yang dingin. Ia membawa beban memori, harapan yang tak sempat terwujud, dan sebuah penerimaan yang harus dipaksakan.
Dulu, kita melangkah seirama, berbagi mimpi di bawah langit yang sama. Setiap janji yang terucap terasa begitu pasti, seolah waktu akan membeku hanya untuk kita berdua. Kita membangun benteng keyakinan bahwa 'kita' adalah sebuah kepastian abadi. Namun, ternyata, kepastian hanyalah ilusi yang diciptakan oleh ketidaktahuan kita akan masa depan. Takdirmu dan takdirku, meskipun sempat bertemu dan menyatu dalam satu simpulan indah, kini menuntut untuk ditarik kembali ke jalurnya masing-masing.
Menerima kenyataan bahwa jalan kita harus berpisah bukanlah proses yang mudah. Ada pergulatan batin yang sengit, negosiasi dengan hati yang menolak logika, dan air mata yang jatuh tanpa diundang. Rasanya seperti melepaskan jangkar yang selama ini menahan kapal kita di pelabuhan yang nyaman. Kini, kita didorong oleh arus yang berbeda, menuju cakrawala yang asing satu sama lain. Rasa sakit ini adalah harga yang harus dibayar atas semua keindahan yang pernah kita bagi.
Mungkin, ini adalah bentuk kasih sayang tertinggi; melepaskan agar yang lain bisa menemukan esensi kebahagiaannya, meskipun kebahagiaan itu tidak lagi berada dalam genggaman tangan yang sama. Perpisahan ini bukanlah kegagalan, melainkan sebuah titik balik. Kita belajar bahwa cinta sejati terkadang menuntut pengorbanan terbesar: pengorbanan untuk melanjutkan hidup tanpa kehadiran orang yang paling berarti.
Saya akan membawa semua pelajaran, tawa, dan kehangatan yang kau titipkan. Kenangan itu akan menjadi lentera kecil yang menemani langkahku saat malam terasa gelap. Dan aku berharap, kau pun melakukan hal yang sama. Biarlah sisa cerita ini tersimpan rapi di dalam hati, sebagai babak terindah yang pernah ada, meskipun kini telah selesai.
Inilah akhirnya. Dua garis yang sejajar kini menyimpang. Takdirmu kini milikmu sepenuhnya, begitu juga takdirku. Semoga perjalananmu dipenuhi cahaya, dan setiap langkah yang kau ambil membawamu pada kedamaian yang kau cari. Meskipun tangan kita tak lagi bertautan, doa dan harapan baik akan selalu mengiringi langkahmu dari kejauhan. Selamat jalan, dalam takdirmu yang baru. Kita telah memainkan peran terbaik kita dalam kisah bersama ini, dan sekarang, tirai perlu ditutup.