Simbol-simbol kuno yang menyimpan cerita.
Dalam khazanah peradaban manusia, aksara bukan hanya sekadar alat komunikasi, melainkan juga jendela menuju masa lalu. Di antara berbagai jenis tulisan yang pernah eksis, beberapa di antaranya begitu unik dan penuh misteri sehingga layak disebut sebagai "aksara legena". Aksara-aksara ini seringkali terkait erat dengan kisah-kisah epik, peradaban yang hilang, atau pengetahuan yang sangat mendalam. Mari kita selami lima contoh aksara legena yang memukau dan memahami sedikit tentang latar belakang mereka.
Aksara Linear B adalah sistem penulisan silabis yang digunakan di Kreta dan daratan Yunani pada periode Minoa Akhir hingga Mycenaean (sekitar abad ke-15 hingga ke-12 SM). Terjemahan dan pemecahannya oleh Michael Ventris pada tahun 1950-an menjadi momen penting dalam studi arkeologi dan linguistik. Aksara ini utamanya digunakan untuk mencatat administrasi istana, inventarisasi barang, dan catatan ekonomi.
Kelegendaannya terletak pada fakta bahwa aksara ini merupakan bentuk awal dari bahasa Yunani, yang membuktikan keberadaan peradaban Mycenaean sebagai penutur bahasa Yunani yang terorganisir jauh lebih awal dari yang diperkirakan sebelumnya. Penemuan tablet-tablet beraksara Linear B di Knossos, Pylos, dan Mykene membuka wawasan baru mengenai struktur sosial, ekonomi, dan agama pada era tersebut. Ini adalah contoh bagaimana sebuah aksara yang nyaris terlupakan dapat menghidupkan kembali peradaban kuno.
Aksara Demotik adalah bentuk penulisan kursif yang berkembang dari hieroglif Mesir dan hieratik pada periode akhir Mesir Kuno (sekitar abad ke-7 SM hingga abad ke-5 M). Nama "Demotik" berasal dari bahasa Yunani "demotikos" yang berarti "rakyat", mengindikasikan penggunaannya yang lebih luas di kalangan masyarakat awam, berbeda dengan hieroglif yang lebih sakral dan resmi.
Aksara ini menjadi legendaris karena perannya dalam penemuan Prasasti Rosetta. Prasasti ini memiliki teks yang sama dalam tiga jenis aksara: hieroglif, Demotik, dan Yunani Kuno. Jean-François Champollion menggunakan bagian berbahasa Yunani untuk memecahkan aksara Demotik, dan kemudian hieroglif, yang pada gilirannya membuka kembali pemahaman kita tentang seluruh peradaban Mesir Kuno. Tanpa aksara Demotik yang digunakan sebagai jembatan, pemecahan hieroglif mungkin akan memakan waktu lebih lama atau bahkan tidak mungkin dilakukan.
Rongo Rongo adalah sistem tulisan misterius dari Pulau Paskah (Rapa Nui). Aksara ini terdiri dari ribuan ukiran simbol pada lempengan kayu. Hingga saat ini, tidak ada satupun lempengan yang berhasil dibaca sepenuhnya, menjadikannya salah satu teka-teki linguistik terbesar di dunia. Konon, aksara ini diciptakan oleh nenek moyang Rapa Nui untuk menyimpan pengetahuan, legenda, dan silsilah mereka.
Legenda Rongo Rongo tumbuh dari ketidakmampuannya untuk diuraikan. Para sarjana telah mencoba berbagai metode, membandingkannya dengan bahasa Polinesia, tetapi belum ada yang berhasil. Keunikan bentuknya yang berupa ukiran pada kayu, serta cerita-cerita rakyat yang menyertainya tentang kedatangan para nenek moyang dan pengetahuan kuno, menjadikannya aksara yang sangat memikat imajinasi. Aksara ini menjadi simbol dari misteri budaya Rapa Nui yang kaya.
Aksara Khitan Besar dikembangkan pada awal abad ke-10 Masehi untuk menulis bahasa Khitan, bahasa yang dituturkan oleh suku Khitan yang mendirikan Dinasti Liao di Tiongkok utara. Aksara ini memiliki kemiripan visual dengan aksara Tiongkok, namun strukturnya berbeda. Sayangnya, penggunaan aksara ini tidak bertahan lama dan akhirnya digantikan oleh aksara Uighur dan Tiongkok.
Kelegendaan aksara ini muncul karena ia merupakan bukti keberadaan peradaban yang pernah besar namun kini hampir terlupakan. Meskipun hanya ada sedikit prasasti dan naskah yang tersisa, penelitian terhadap aksara ini telah memberikan wawasan berharga tentang sejarah, budaya, dan bahasa bangsa Khitan. Upaya para ahli filologi untuk merekonstruksi dan memahami aksara ini merupakan perjuangan melawan lupa, sebuah upaya untuk menggali kembali jejak sebuah peradaban dari sisa-sisa material.
Peradaban Maya di Mesoamerika mengembangkan salah satu sistem penulisan paling canggih di antara masyarakat pra-Columbus. Aksara Maya adalah sistem logo-silabis yang kompleks, yang digunakan untuk mencatat sejarah raja-raja, peristiwa astronomi, ritual keagamaan, dan perhitungan kalender yang sangat akurat. Kepadatan dan keindahan ukiran aksara Maya pada monumen batu (stelae), bejana keramik, dan kodeks (buku lipat) sungguh memukau.
Aksara Maya menjadi legendaris karena kerumitannya dan fakta bahwa ia berhasil dipecahkan kembali setelah berabad-abad ketidakpahaman. Kemampuannya untuk merekam narasi sejarah yang rinci, kosmologi yang kompleks, dan sistem kalender yang maju menunjukkan tingkat intelektual peradaban Maya yang luar biasa. Pemecahan aksara Maya, yang mencapai kemajuan signifikan pada abad ke-20, membuka kembali pemahaman kita tentang salah satu peradaban paling cemerlang di benua Amerika.
Kelima contoh aksara legena ini memberikan gambaran betapa kayanya warisan tulis manusia. Setiap aksara memiliki kisahnya sendiri, menghubungkan kita dengan masa lalu yang terkadang tampak seperti dongeng, namun terukir nyata dalam batu, tanah liat, atau kayu. Mempelajari mereka bukan hanya tentang linguistik, tetapi tentang menggali kembali identitas dan kebijaksanaan peradaban yang pernah berjaya.