Air keras adalah air yang memiliki konsentrasi mineral terlarut yang tinggi, terutama kalsium ($\text{Ca}^{2+}$) dan magnesium ($\text{Mg}^{2+}$). Meskipun air ini aman dikonsumsi dalam kadar tertentu, kehadirannya dalam sistem perpipaan rumah tangga dapat menimbulkan berbagai masalah praktis. Berbeda dengan air lunak yang mineralnya rendah, air keras menyebabkan penumpukan kerak atau "scale" pada permukaan yang sering terkena air panas atau menguap.
Tingkat kekerasan air diukur dalam satuan seperti parts per million (ppm) atau grains per gallon (gpg). Air dikategorikan keras jika kandungan mineralnya melebihi batas tertentu, yang sangat bergantung pada sumber air baku di wilayah geografis tersebut.
Meskipun tidak secara langsung berbahaya bagi kesehatan pencernaan (bahkan sedikit kalsium bisa bermanfaat), dampak utama air keras terasa pada infrastruktur dan efisiensi rumah tangga.
Untuk mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh air keras, solusi paling efektif adalah instalasi sistem pelembut air (water softener).
Water softener bekerja menggunakan proses yang disebut pertukaran ion. Sistem ini menggunakan resin yang diisi dengan ion natrium ($\text{Na}^{+}$). Ketika air keras melewati resin, ion kalsium dan magnesium yang "keras" akan menempel pada resin, sementara ion natrium dilepaskan ke dalam air. Hasilnya adalah air lunak yang tidak akan meninggalkan kerak.
Selain instalasi alat, ada beberapa langkah perawatan rutin yang dapat dilakukan untuk meminimalkan dampak:
Perlu ditekankan bahwa dalam konteks konsumsi sehari-hari, air keras umumnya tidak dianggap sebagai risiko kesehatan yang serius. Faktanya, studi menunjukkan bahwa konsumsi air yang mengandung mineral kalsium dan magnesium dapat berkontribusi pada kebutuhan mineral harian tubuh. Namun, jika kesadahan sangat ekstrem, rasa yang dihasilkan mungkin kurang enak. Fokus utama penanganan air keras adalah pada efisiensi energi, umur peralatan, dan estetika rumah tangga.