Visualisasi sederhana sistem perakaran pada tanaman jagung.
Jagung (Zea mays) adalah salah satu tanaman pangan terpenting di dunia. Keberhasilan budidayanya sangat bergantung pada kesehatan dan efisiensi sistem perakarannya. Berbeda dengan beberapa tanaman lain yang memiliki akar tunggang yang dominan, sistem akar jagung menampilkan karakteristik unik, terutama perkembangan akar adventif (akar serabut) yang kuat dan menyebar luas. Memahami struktur **akar pohon jagung** bukan sekadar pengetahuan botani, tetapi kunci untuk mengoptimalkan penyerapan nutrisi, jangkar tanaman, dan ketahanannya terhadap kondisi lingkungan.
Sistem perakaran jagung dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok utama: akar embrionik (akar primer) dan akar adventif (akar sekunder/serabut). Akar embrionik muncul dari biji saat berkecambah, terdiri dari akar lembaga (radikula) yang biasanya hanya bertahan sebentar dan digantikan oleh sistem akar yang lebih permanen.
Fokus utama dalam fisiologi jagung adalah pada akar adventif. Akar-akar ini mulai terbentuk dari simpul-simpul batang bagian bawah (node), biasanya muncul di atas permukaan tanah pada tahap awal pertumbuhan vegetatif. Akar ini tumbuh menyebar secara horizontal dan vertikal, membentuk massa serabut yang padat. Sistem akar serabut ini sangat efisien dalam menutupi volume tanah yang besar, memungkinkan tanaman mengakses air dan unsur hara dari area yang luas, terutama pada fase pengisian biji yang membutuhkan asupan nutrisi tinggi.
Salah satu fitur yang paling menarik dari **akar pohon jagung** adalah munculnya akar batang atau akar penopang (*prop roots*). Akar-akar ini mulai muncul dari node supraseluler (simpul di atas permukaan tanah), biasanya sekitar node ketiga hingga kelima setelah perkecambahan. Fungsi utama akar batang ini adalah memberikan dukungan mekanis yang luar biasa. Tanaman jagung yang tumbuh tinggi rentan terhadap rebah (lodging) akibat angin kencang atau bobot tongkol. Akar batang ini menancap ke tanah, memberikan stabilitas yang vital, terutama ketika tanaman sudah mencapai fase reproduktif dan bobotnya bertambah signifikan. Tanpa akar penopang yang kuat, tanaman jagung akan mudah tumbang, yang tentu saja mengakibatkan penurunan drastis pada hasil panen.
Secara fungsional, akar jagung bekerja keras dalam tiga aspek utama: penyerapan, penyimpanan, dan penambatan. Akar primer dan serabut bertanggung jawab penuh atas penyerapan air dan mineral terlarut, seperti Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Struktur rambut akar yang sangat banyak meningkatkan luas permukaan kontak antara akar dan matriks tanah.
Penyerapan ini sangat dinamis dan bergantung pada stadium pertumbuhan. Pada fase pertumbuhan awal, akar fokus pada pembentukan biomassa. Ketika tanaman memasuki fase pembungaan dan pembentukan tongkol, kebutuhan air dan nutrisi melonjak tajam. Jika terjadi cekaman kekeringan pada periode kritis ini, sistem akar—seberapa pun luasnya—tidak akan mampu menyelamatkan potensi hasil panen. Oleh karena itu, manajemen irigasi harus diselaraskan dengan perkembangan sistem perakaran.
Kedalaman dan penyebaran **akar pohon jagung** juga mempengaruhi praktik pertanian. Karena akar serabut cenderung menyebar secara lateral daripada menembus sangat dalam, praktik pemupukan yang dangkal atau aplikasi pupuk di sekitar pangkal batang (banding fertilizer) menjadi metode yang umum dan efektif. Pemadatan tanah (soil compaction) adalah musuh utama bagi perkembangan akar jagung. Tanah yang padat membatasi penetrasi akar ke bawah, mengurangi aerasi, dan memaksa akar menyebar terlalu dekat ke permukaan, meningkatkan kerentanan terhadap kekeringan.
Penelitian menunjukkan bahwa akar jagung dapat mencapai kedalaman hingga 1,5 meter dalam kondisi tanah yang ideal, meskipun sebagian besar massa akar aktif berada dalam lapisan 30-60 cm pertama. Kedalaman ini penting untuk mengakses cadangan air di lapisan tanah yang lebih dalam selama periode kering berkepanjangan. Upaya konservasi tanah seperti tanpa olah tanah (no-till) sering kali memperbaiki struktur tanah, yang secara tidak langsung mendukung pertumbuhan sistem perakaran yang lebih sehat dan mendalam.
Singkatnya, sistem perakaran jagung adalah jaringan yang kompleks namun terstruktur, dirancang untuk penyerapan maksimal dan stabilitas struktural. Dari akar serabut yang menyerap hingga akar batang yang menopang, setiap komponen memainkan peran vital dalam menentukan keberhasilan panen jagung.