Ketika kita menikmati kesegaran buah jeruk, jarang sekali terpikirkan tentang fondasi yang menopangnya: sistem perakaran. Akar pohon jeruk (Citrus spp.) adalah komponen vital yang sering terabaikan, namun perannya sangat krusial dalam menentukan kesehatan, produktivitas, dan umur panjang tanaman. Memahami anatomi dan fungsi akar ini adalah kunci sukses dalam budidaya jeruk, baik skala besar maupun di pekarangan rumah.
Ilustrasi sederhana sistem akar pohon jeruk.
Sistem perakaran jeruk tidaklah dalam seperti pohon kayu keras lainnya; ia cenderung menyebar secara horizontal di zona dangkal tanah, biasanya hingga kedalaman 30 hingga 60 cm, terutama di tanah lempung atau berpasir. Zona ini kaya akan oksigen dan materi organik, yang sangat disukai oleh akar jeruk. Bagian terpenting adalah akar serabut halus yang memiliki rambut akar (root hairs). Rambut akar inilah yang bertanggung jawab utama dalam penyerapan air dan nutrisi esensial seperti nitrogen, fosfor, dan kalium.
Berbeda dengan akar primer yang berfungsi sebagai jangkar dan transportasi utama, akar sekunder dan rambut akar memiliki rentang hidup yang relatif pendek. Mereka terus-menerus tumbuh, mati, dan diregenerasi. Tingkat pertumbuhan ini dipengaruhi secara langsung oleh kelembaban tanah dan suhu. Ketika tanah terlalu basah (jenuh air), pertumbuhan rambut akar terhambat karena minimnya suplai oksigen (asfiksia akar), yang merupakan penyebab umum kegagalan panen jeruk di lahan yang drainasenya buruk.
Pohon jeruk adalah tanaman yang rakus air, namun sangat sensitif terhadap kondisi tergenang. Keseimbangan hidrasi adalah kunci. Akar jeruk harus mampu mengakses air yang cukup tanpa harus berjuang di lingkungan anaerobik. Oleh karena itu, irigasi tetes (drip irrigation) sering menjadi metode pilihan karena memungkinkan penyaluran air secara konsisten dan langsung ke zona perakaran aktif tanpa membasahi seluruh permukaan tanah secara berlebihan.
Selain air, nutrisi diserap dalam bentuk ion. Misalnya, ion nitrat (NO3-) dan kalium (K+). Akar yang sehat memiliki kemampuan osmotik yang kuat untuk menarik nutrisi ini dari larutan tanah. Jika tanah terlalu asam atau terlalu basa, ketersediaan nutrisi tertentu mungkin terblokir, meskipun nutrisi tersebut ada dalam jumlah memadai di tanah. Hal ini menunjukkan bahwa pH tanah sangat mempengaruhi efisiensi kerja akar pohon jeruk. Pengujian pH tanah secara berkala adalah praktik standar dalam pengelolaan kebun jeruk profesional.
Akar pohon jeruk juga terlibat dalam interaksi biologis yang kompleks di dalam tanah. Yang paling terkenal adalah hubungan simbiosis mikoriza arbuskular. Jamur mikoriza membentuk jaringan hifa yang menyebar jauh melampaui jangkauan akar jeruk, secara efektif memperluas area penyerapan nutrisi, terutama fosfor, yang sulit diserap oleh akar jeruk sendiri. Sebagai imbalannya, pohon jeruk menyediakan gula hasil fotosintesis kepada jamur tersebut. Hubungan mutualistik ini sangat penting untuk ketahanan jeruk terhadap stres kekeringan dan penyakit.
Interaksi lain adalah dengan mikroorganisme patogen. Tanah yang sehat mengandung populasi mikroba antagonis yang membantu menekan perkembangan jamur berbahaya seperti Phytophthora, penyebab penyakit busuk akar yang mematikan. Oleh karena itu, menjaga struktur tanah yang baik dengan aerasi yang memadai adalah langkah preventif terbaik untuk melindungi akar dari serangan penyakit.
Manajemen yang buruk dapat merusak jaringan akar yang sensitif ini. Pengolahan tanah yang terlalu dalam atau terlalu sering di sekitar pangkal pohon harus dihindari karena dapat memutus akar serabut aktif dan mengganggu hubungan mikoriza. Pemupukan yang berlebihan, terutama nitrogen dalam bentuk amonium, juga dapat menyebabkan "pembakaran" akar karena perubahan osmotik yang drastis.
Selain itu, penimbunan tanah yang terlalu tinggi di sekitar pangkal batang harus dicegah. Ini menciptakan kondisi lembab permanen yang sangat menarik bagi hama dan penyakit. Memastikan bahwa sambungan antara batang bawah dan batang atas (entres) berada sedikit di atas permukaan tanah sangat penting untuk mencegah penyakit yang ditularkan melalui tanah menginfeksi bagian batang yang lebih rentan. Dengan memberikan perhatian khusus pada zona perakaran—pengaturan drainase, pemantauan kelembaban, dan pemeliharaan kesehatan tanah—petani dapat memastikan bahwa pohon jeruk mereka akan menghasilkan buah berkualitas tinggi selama bertahun-tahun. Akar, meskipun tersembunyi, adalah fondasi kehidupan buah jeruk.