Pohon sawo, atau dikenal juga dengan nama ilmiah Manilkara zapota, adalah pohon buah tropis yang sangat umum ditemukan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Buahnya yang manis dan legit sangat disukai banyak orang. Namun, tahukah Anda bahwa bagian lain dari pohon sawo, khususnya akar sawo, juga memiliki potensi dan sejarah penggunaan yang menarik?
Secara tradisional, berbagai bagian tanaman sawo telah dimanfaatkan dalam pengobatan rakyat. Akar sawo sendiri dipercaya mengandung senyawa bioaktif yang memberikan beragam manfaat kesehatan. Meskipun penelitian ilmiah modern mengenai efektivitasnya mungkin masih terbatas dibandingkan bagian buahnya, warisan penggunaan turun-temurun ini tetap penting untuk dicatat.
Di beberapa kebudayaan, ramuan yang berbahan dasar rebusan akar sawo sering digunakan untuk mengatasi masalah pencernaan. Beberapa klaim menyebutkan bahwa ramuan ini dapat membantu meredakan diare atau masalah perut lainnya karena sifat astringen yang diduga dimiliki oleh akarnya.
Selain itu, ada pula kepercayaan bahwa ekstrak akar dapat membantu dalam proses pendinginan internal tubuh. Dalam iklim tropis yang panas, minuman yang berasal dari tanaman lokal seringkali menjadi pilihan utama untuk menjaga keseimbangan suhu tubuh. Penggunaan ini biasanya melibatkan proses pengeringan dan perebusan akar hingga menghasilkan cairan yang kemudian dikonsumsi.
Seperti banyak tanaman tradisional lainnya, penggunaan akar sawo tidak lepas dari mitos dan cerita rakyat. Di beberapa daerah, akar pohon sawo yang sudah tua dan besar dipercaya memiliki energi spiritual tertentu. Kadang-kadang, akar ini dihormati atau dianggap sebagai penolak bala.
Pohon sawo sendiri memiliki citra yang sangat positif di masyarakat Indonesia karena menghasilkan buah yang manis dan mudah didapat. Oleh karena itu, bagian lain dari pohonnya, termasuk akarnya, seringkali diasosiasikan dengan keberkahan dan kemakmuran. Namun, penting untuk memisahkan antara keyakinan budaya dan aplikasi medis yang terbukti secara klinis.
Saat ini, fokus penelitian lebih banyak tertuju pada pemanfaatan buah sawo, yang kaya akan vitamin, mineral, dan serat. Namun, eksplorasi terhadap potensi akar sawo terus berlanjut di kalangan etnobotani untuk mendokumentasikan kekayaan pengetahuan lokal sebelum hilang ditelan zaman.
Proses pengolahan akar sawo untuk keperluan tradisional umumnya cukup sederhana, namun memerlukan ketelitian dalam memilih bahan baku. Akar yang digunakan biasanya adalah akar tunggang atau akar samping yang sudah cukup matang namun belum terlalu keras.
Meskipun demikian, masyarakat modern kini lebih disarankan untuk berhati-hati saat mengonsumsi tanaman herbal yang tidak teruji secara farmakologis. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan atau herbalis profesional sebelum menjadikan akar sawo sebagai pengobatan utama.