Memahami Sistem Perakaran Singkong: Serabut atau Tunggang?

Tanah Singkong (Manihot esculenta)

Ilustrasi sederhana sistem perakaran singkong yang didominasi akar serabut.

Pertanyaan Klasik dalam Botani Pertanian

Ketika kita berbicara mengenai tanaman ubi kayu atau singkong (Manihot esculenta), salah satu hal fundamental yang perlu dipahami oleh petani, peneliti, dan penggemar botani adalah struktur sistem perakarannya. Dalam klasifikasi tumbuhan, akar dibagi secara umum menjadi dua tipe utama: akar tunggang (pivot root system) dan akar serabut (fibrous root system). Pertanyaannya, ke dalam kategori manakah akar singkong sesungguhnya termasuk?

Jawaban singkat dan paling akurat adalah bahwa singkong memiliki **sistem akar serabut**, meskipun pada fase awal pertumbuhannya, akar tunggang primernya sempat berkembang. Sistem akar ini adalah kunci keberhasilan singkong sebagai tanaman penghasil umbi pangan yang adaptif di berbagai jenis tanah.

Mengenal Akar Tunggang Versus Akar Serabut

Untuk memahami mengapa singkong diklasifikasikan demikian, mari kita tinjau perbedaan mendasar antara kedua tipe akar tersebut:

1. Akar Tunggang

Akar tunggang berasal dari akar lembaga (radikula) yang tumbuh lurus ke bawah menembus tanah menjadi akar utama yang besar dan panjang. Dari akar utama ini, akan muncul akar-akar samping yang lebih kecil. Contoh klasik tumbuhan dengan akar tunggang adalah tanaman dikotil seperti mangga, jambu, atau kacang-kacangan. Fungsi utamanya adalah jangkar yang kuat dan penyerapan air dari lapisan tanah yang dalam.

2. Akar Serabut

Akar serabut adalah sekumpulan akar yang ukurannya relatif seragam dan tumbuh dari pangkal batang. Sistem ini cenderung menyebar secara horizontal dekat dengan permukaan tanah. Tumbuhan monokotil seperti padi, jagung, dan rumput-rumputan adalah contoh utama. Sistem serabut sangat efektif dalam menahan erosi dan menyerap nutrisi serta air dari lapisan atas tanah.

Bagaimana Perkembangan Akar pada Tanaman Singkong?

Singkong memulai perkecambahannya dengan akar tunggang primer. Namun, karakteristik paling khas dari singkong terjadi ketika tanaman mulai memasuki fase vegetatif. Akar tunggang primer ini akan mengalami perkembangan yang terhambat, sementara tunas-tunas adventif (tunas liar) yang tumbuh dari pangkal batang akan berkembang menjadi jaringan akar sekunder yang masif dan menyebar.

Jaringan akar sekunder inilah yang kemudian membesar dan menjadi umbi tempat singkong menyimpan cadangan makanan (pati). Karena akar yang berfungsi sebagai penghasil umbi ini berasal dari berbagai titik di sekitar pangkal batang dan tidak ada satu akar utama yang mendominasi, maka secara botani, sistem perakaran singkong dikategorikan sebagai **akar serabut (fibrous root system)** yang termodifikasi untuk penyimpanan.

Implikasi Praktis Sistem Akar Serabut Singkong

Klasifikasi ini bukan sekadar label akademis; ia memiliki dampak signifikan pada praktik budidaya:

Kesimpulan

Meskipun secara naluriah banyak orang mungkin membayangkan akar umbi sebagai akar tunggang yang membesar, struktur akar singkong adalah contoh adaptasi alam yang luar biasa. Singkong berevolusi untuk memiliki sistem akar serabut yang kompleks, di mana jaringan akar samping tumbuh masif dan berdiferensiasi menjadi organ penyimpanan pati (umbi). Oleh karena itu, singkong adalah tanaman dengan sistem perakaran dominan serabut.

Memahami perbedaan ini membantu petani mengoptimalkan kondisi lingkungan tanam, memastikan singkong dapat menghasilkan umbi yang maksimal, serta mempertahankan produktivitas lahan pertanian.

🏠 Homepage