Ilustrasi penampang sederhana akar tumbuhan paku.
Tumbuhan paku, atau anggota kelompok Pteridophyta, merupakan salah satu kelompok tumbuhan tertua yang berhasil menguasai daratan sebelum munculnya biji dan bunga. Salah satu ciri khas dan struktur yang paling menarik dari tumbuhan paku adalah sistem perakarannya yang unik. Berbeda dengan tumbuhan berbiji (Spermatophyta) yang umumnya memiliki akar tunggang, mayoritas tumbuhan paku bergantung pada sistem **akar serabut**.
Akar pada tumbuhan paku berfungsi utama untuk jangkar fisik agar tubuh tumbuhan tetap tegak di substrat, serta menyerap air dan nutrisi mineral dari lingkungan. Secara umum, akar tumbuhan paku memiliki beberapa karakteristik kunci:
Tidak seperti akar tumbuhan tingkat tinggi, akar paku adalah akar adventif, artinya ia tumbuh dari pangkal batang atau struktur batang bawah yang disebut **rimpang (rhizome)**. Rimpang ini seringkali tumbuh horizontal, baik di permukaan tanah maupun di bawah tanah, dan merupakan batang sesungguhnya dari tumbuhan paku.
Struktur anatomi akar paku juga relatif sederhana dibandingkan dengan akar dikotil atau monokotil. Bagian terluar adalah epidermis, yang seringkali dilengkapi dengan rambut akar dalam jumlah sedikit. Jaringan korteks yang luas biasanya menyimpan cadangan makanan. Bagian tengahnya didominasi oleh stele, yaitu silinder pusat yang berisi xilem (untuk mengangkut air) dan floem (untuk mengangkut makanan).
Rimpang adalah kunci dalam memahami sistem perakaran paku. Rimpang bukan akar, melainkan batang termodifikasi yang menyimpan cadangan pati. Dari rimpang inilah muncul akar serabut kecil. Keberadaan rimpang ini memberikan keuntungan adaptif yang besar. Ketika kondisi lingkungan memburuk, rimpang dapat bertahan hidup, dan tunas baru (yang kemudian akan menumbuhkan daun dan akar baru) dapat muncul darinya.
Kemampuan akar tumbuh dari batang (akar adventif) ini juga memudahkan penyebaran vegetatif. Jika sepotong rimpang terpisah dari induknya, bagian tersebut berpotensi untuk tumbuh menjadi individu baru, menjadikannya salah satu mekanisme reproduksi aseksual yang vital bagi kelangsungan hidup mereka di ekosistem hutan yang lembap.
Meskipun ukurannya seringkali tidak mencolok, akar tumbuhan paku memegang peranan penting dalam ekologi. Sebagai tumbuhan yang menyukai tempat lembap, sistem perakarannya yang menyebar dangkal sangat efektif dalam menahan lapisan permukaan tanah, terutama di lereng curam atau daerah yang sering diguyur hujan lebat. Mereka berperan aktif dalam pencegahan erosi.
Lebih lanjut, akar-akar kecil ini menjadi habitat mikro bagi berbagai organisme tanah, jamur mikoriza, dan bakteri yang membantu siklus nutrisi di hutan. Dalam kasus tumbuhan paku epifit, seperti beberapa spesies Nephrolepis (pakis sarang burung), akarnya berfungsi hampir secara eksklusif sebagai jangkar pada kulit pohon inang, menyerap nutrisi yang terperangkap di dalam serasah yang menumpuk di celah-celah kulit pohon.
Perkembangan akar pada tumbuhan paku erat kaitannya dengan siklus hidupnya yang melibatkan metagenesis (pergiliran keturunan antara sporofit dan gametofit).
Kesederhanaan struktur akar serabut tumbuhan paku, yang berasosiasi erat dengan struktur rimpang, menunjukkan adaptasi evolusioner yang sangat sukses dalam menaklukkan lingkungan terestrial. Mereka adalah bukti hidup bahwa struktur yang tampak primitif seringkali merupakan arsitektur yang paling efisien untuk bertahan hidup dalam jangka waktu geologis yang panjang.