Surat Al-Isra, juga dikenal sebagai Bani Israil, memuat banyak pelajaran penting mengenai sejarah umat terdahulu, batasan-batasan Allah, dan adab dalam berinteraksi dengan wahyu. Salah satu ayat yang sering menjadi sorotan karena menekankan kedalaman rasa takut dan tunduk kepada kebesaran Tuhan adalah ayat ke-109. Ayat ini menjadi penutup pembahasan panjang mengenai keagungan Al-Qur'an.
Ayat 109 ini merupakan klimaks dari pembicaraan Allah SWT mengenai Al-Qur'an di ayat-ayat sebelumnya, khususnya ayat 107 yang menyebutkan bahwa ketika Al-Qur'an dibacakan kepada orang-orang yang telah diberi ilmu pengetahuan sebelumnya, mereka langsung bersujud. Ayat 109 ini menjelaskan kualitas respons yang ditunjukkan oleh mereka—yaitu respons yang melibatkan fisik (bersujud/menyungkurkan muka) dan emosional (menangis dan bertambah khusyuk).
Kata kunci utama dalam ayat ini adalah "يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ" (yakharruuna lil adzqaani), yang diterjemahkan sebagai "mereka menyungkurkan muka" atau "jatuh tertelungkup dengan wajah mereka." Tindakan ini adalah puncak dari kerendahan hati (tawadhu') dan penyerahan diri total kepada kebenaran yang mereka dengar. Ini bukan sekadar gestur formal, melainkan luapan jiwa yang menyadari keagungan Kalamullah.
Fase kedua dari respons ini adalah "يَبْكُونَ" (yabkuuna), yaitu menangis. Tangisan yang muncul di sini bukanlah tangisan kesedihan duniawi, melainkan tangisan syukur, ketakutan (khauf), dan kerinduan akan kebenaran ilahi. Mereka menangis karena menyadari betapasempurnanya ajaran yang dibawa, betapa jauhnya diri mereka dari standar kesempurnaan tersebut, dan betapa besar rahmat Allah yang mengaruniai mereka pemahaman ini.
Lebih lanjut, ayat tersebut ditutup dengan frasa "وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا" (wa yaziiduhum khusyu'a). Ini mengindikasikan sebuah lingkaran positif. Semakin mereka mendalami Al-Qur'an, semakin mereka menangis dan bersujud, semakin bertambah pula kekhusyukan mereka. Kekhusyukan (khusyu') di sini adalah keadaan hati yang tenang, terfokus, dan penuh harap hanya kepada Allah SWT. Al-Qur'an, sebagai wahyu, memiliki efek transformatif yang berkelanjutan; ia tidak hanya memberi pengetahuan sesaat, tetapi menumbuhkan kualitas spiritual secara progresif.
Ayat ini memberikan tolok ukur bagaimana seharusnya seorang Muslim berinteraksi dengan Al-Qur'an. Membaca Al-Qur'an seharusnya tidak hanya menjadi rutinitas lisan tanpa penghayatan. Sebaliknya, ia harus menjadi sarana untuk memecah kekerasan hati dan membangkitkan kepekaan spiritual.
Sebagai penutup, QS Al-Isra ayat 109 mengajak umat Islam untuk tidak hanya menjadi pembaca teks Al-Qur'an, tetapi menjadi pengamal yang merasakan dampak transformatifnya. Ketika kebenaran Ilahi memasuki hati, reaksi yang paling alami adalah kerendahan hati yang ekstrem, air mata penyesalan dan syukur, serta peningkatan kekhusyukan yang terus menerus dalam setiap aspek kehidupan.
Renungan mendalam atas wahyu Allah adalah kunci kedekatan sejati.