Shalat adalah tiang agama Islam, sebuah ibadah ritual yang wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim lima kali sehari. Namun, seringkali kita hanya fokus pada kesempurnaan rukun dan syarat sahnya shalat, sementara aspek yang paling mendalam—yaitu akhlak dalam shalat—terabaikan. Akhlak dalam konteks ibadah ini merujuk pada perilaku batin dan lahiriah yang mencerminkan penghormatan tertinggi kepada Allah SWT saat berdiri, ruku', sujud, dan duduk di hadapan-Nya.
Visualisasi kekhusyukan dan fokus dalam ibadah.
Fondasi Akhlak: Niat yang Murni (Ikhlas)
Akhlak pertama dan utama dalam shalat adalah keikhlasan. Shalat harus dilakukan semata-mata karena perintah Allah, bukan untuk mencari pujian manusia (riya'), bukan pula karena kebiasaan rutin yang hampa makna. Ketika niat terpatri lurus karena Allah, maka setiap gerakan dan bacaan akan memiliki bobot spiritual yang berbeda. Ini adalah prasyarat agar amalan kita diterima, karena Rasulullah SAW bersabda bahwa segala sesuatu dinilai dari niatnya.
Ketiadaan keikhlasan menjadikan shalat sebagai rutinitas fisik semata, tanpa menyentuh dimensi hati. Oleh karena itu, sebelum mengangkat takbiratul ihram, seorang Muslim wajib membersihkan hati dari segala gangguan duniawi dan memfokuskan pikiran bahwa ia sedang "berbicara" dengan Sang Pencipta alam semesta.
Menghadirkan Hati (Hudhur al-Qalb)
Akhlak selanjutnya adalah menghadirkan hati, atau yang dikenal sebagai hudhur al-qalb. Kekhusyukan adalah puncak dari akhlak dalam shalat. Ini berarti kesadaran penuh bahwa kita sedang diperhatikan Allah (muraqabah) dan kita sedang memperhatikan Allah (musyahadah) sedapat mungkin.
Menghindari Gangguan dan Kecenderungan Pikiran
Sulit untuk mencapai khusyuk total, namun upaya untuk meminimalkan gangguan adalah bagian dari akhlak yang baik. Ini mencakup persiapan fisik (berwudhu dengan sempurna, memilih pakaian yang bersih dan pantas, serta memilih tempat shalat yang tenang) serta persiapan mental (mengelola stres dan urusan dunia sesaat sebelum shalat dimulai).
Bayangkanlah seolah-olah ini adalah shalat terakhir kita. Gambaran ini membantu mengendalikan pandangan mata agar tertuju ke tempat sujud dan mencegah pikiran mengembara ke mana-mana. Setiap kali pikiran mulai melayang, dengan lembut tarik kembali fokus pada makna ayat yang dibaca atau dzikir yang sedang dilakukan.
Akhlak dalam Gerakan dan Bacaan (Tahakkum)
Akhlak juga termanifestasi dalam cara kita melaksanakan setiap gerakan. Ini bukan sekadar soal ketepatan gerakan sesuai sunnah, tetapi tentang bagaimana gerakan itu dihayati.
Ruku' yang Tunduk dan Sujud yang Merendah
Saat ruku', tubuh harus benar-benar tegak, sebagai bentuk pengakuan akan keagungan Allah. Saat sujud, posisi dahi menyentuh bumi adalah puncak kerendahan hati seorang hamba. Akhlak yang baik menuntut kita untuk tidak terburu-buru dalam gerakan ini. Sujud yang lama, meski hanya membaca tasbih satu kali, jauh lebih berharga daripada sujud kilat yang hanya menjadi formalitas.
Begitu pula dalam membaca Al-Qur'an. Membaca dengan tartil (perlahan dan jelas) menunjukkan penghormatan terhadap Kalamullah. Memahami arti dari bacaan, meskipun hanya sepotong ayat pendek, akan membantu hati merespons dan merasakan kehadiran Ilahi.
Penutup yang Penuh Harap (Salam dan Setelah Salam)
Akhlak shalat tidak berakhir saat mengucapkan salam. Setelah salam, kita seharusnya tetap merasakan kedekatan dengan Allah. Ini diwujudkan dengan berdiam sejenak, beristighfar, berdzikir, dan memohon ampunan atas kekurangan dalam shalat kita. Mengakhiri shalat dengan tergesa-gesa, langsung bangkit dan menyibukkan diri dengan urusan dunia, seolah membatalkan aura kekhusyukan yang baru saja dibangun.
Intinya, akhlak dalam shalat adalah upaya spiritual berkelanjutan untuk mengubah ritual formal menjadi dialog intim dan bermakna dengan Allah SWT. Dengan memperhatikan akhlak ini, shalat kita akan berfungsi optimal sebagai pencegah perbuatan keji dan mungkar, sesuai janji Allah dalam Al-Qur'an.