Aksara Jawi, sistem penulisan yang menggunakan huruf-huruf Arab untuk menulis bahasa Melayu dan dialek serumpunnya, bukan sekadar medium transfer informasi. Ia adalah wadah budaya yang sarat makna, dan salah satu muatan terpenting yang dibawanya adalah konsep **akhlak**. Akhlak, yang berakar kuat dalam ajaran Islam, merujuk pada moralitas, etika, dan perilaku terpuji seorang individu. Ketika kedua elemen ini—aksara tradisional dan prinsip moral—bertemu, lahirlah sebuah warisan yang menguatkan identitas keilmuan Melayu.
Sepanjang sejarah peradaban Nusantara, kitab-kitab agama, nasihat-nasihat raja, hingga hikayat rakyat banyak ditulis menggunakan Jawi. Secara alami, materi yang ditulis dalam aksara ini—terutama yang berkaitan dengan pendidikan Islam atau tata kelola kesultanan—selalu mengandung pesan-pesan moral yang tinggi. Misalnya, ketika kita menelusuri manuskrip lama yang membahas tentang suluk (perjalanan spiritual) atau adab (kesopanan), aksara Jawi menjadi jembatan visual yang mengikat pembaca langsung pada konteks budaya Melayu Klasik.
Menulis kata 'akhlak' (أَخْلَاق) dalam Jawi memerlukan pemahaman yang baik tentang bagaimana huruf-huruf tersebut berkonjungsi. Proses menulis ini sendiri bisa menjadi latihan reflektif. Setiap tarikan pena atau setiap sambungan huruf harus dilakukan dengan presisi, mirip dengan upaya seseorang dalam mempraktikkan akhlak yang baik—membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan konsistensi. Kegagalan dalam menyambung huruf dapat dianalogikan dengan celah dalam karakter seseorang.
Banyak istilah fundamental yang menjelaskan moralitas luhur telah diabadikan dalam Jawi. Kata-kata seperti amanah (kepercayaan), sabar (kesabaran), ihsan (kebaikan sempurna), dan tawadhuk (kerendahan hati) sering muncul dalam teks-teks Jawi. Pembaca yang terbiasa dengan aksara ini akan merasakan kedekatan kultural yang lebih mendalam terhadap konsep-konsep tersebut, dibandingkan hanya membacanya dalam huruf Latin. Jawi membawa resonansi spiritual yang melekat pada tradisi keilmuan Islam di kawasan ini.
Keistimewaan Jawi terletak pada kemampuannya menyerap dan merepresentasikan fonem Arab yang penting dalam diskursus keagamaan tanpa kehilangan akar Melayunya. Misalnya, bunyi 'kh' (خ) atau 'ain (ع) yang esensial dalam kosakata Islam, dapat dituliskan dengan jelas dalam Jawi, memastikan bahwa makna dan nuansa spiritual dari kata-kata tersebut tidak hilang saat diterjemahkan atau diserap ke dalam bahasa lokal. Ini menunjukkan betapa sistem penulisan Jawi secara intrinsik mendukung pelestarian nilai-nilai akhlak yang berbasis syariat.
Di era digital saat ini, tantangan terbesar adalah mempertahankan relevansi aksara Jawi, terutama di kalangan generasi muda yang didominasi oleh alfabet Latin. Ketika Jawi semakin jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, risiko hilangnya pemahaman kontekstual terhadap teks-teks bersejarah yang memuat ajaran akhlak pun meningkat. Pelestarian bukan hanya tentang menjaga bentuk hurufnya, tetapi juga tentang memastikan bahwa pesan moral yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan dapat diakses.
Upaya revitalisasi sering kali dilakukan melalui pendidikan seni kaligrafi Jawi. Ketika seseorang mempelajari cara menuliskan kalimah-kalimah indah seperti "Bismillah hirrahmanirrahim" atau kutipan nasihat dari para ulama terdahulu dalam Jawi, secara tidak langsung mereka sedang melakukan internalisasi terhadap nilai-nilai kesopanan dan ketekunan yang diusung oleh aksara tersebut. Proses visual dan motorik dalam menulis Jawi menjadi medium pengajaran akhlak yang efektif.
Akhlak dalam tulisan Jawi adalah representasi harmonis antara warisan linguistik dan prinsip moral universal. Jawi berfungsi sebagai penjaga memori kolektif kita mengenai bagaimana para leluhur kita memahami dan mempraktikkan etika luhur. Melestarikan Jawi berarti memberikan penghormatan pada rantai transmisi ilmu yang telah membawa ajaran kebajikan selama berabad-abad di kepulauan Melayu. Ia adalah jendela menuju jiwa peradaban yang menjunjung tinggi budi pekerti.
Oleh karena itu, mempelajari Jawi hari ini bukan sekadar nostalgia sejarah, melainkan sebuah komitmen aktif untuk menghubungkan kembali diri kita dengan sumber-sumber kebijaksanaan moral bangsa yang tertuang rapi dalam aksara tradisionalnya.