Al-Qur'an adalah pedoman hidup, sumber hukum, dan petunjuk spiritual bagi umat Islam. Oleh karena itu, memuliakan dan menjaga **akhlak kepada Al-Qur'an** bukan sekadar ritual, melainkan sebuah keharusan yang mencerminkan keimanan seseorang. Akhlak ini mencakup cara kita bersikap, memperlakukan mushaf, serta bagaimana kita meresapi dan mengamalkan isinya dalam kehidupan sehari-hari.
Memuliakan Mushaf dan Keagungannya
Mushaf Al-Qur'an, meskipun hanya berupa lembaran kertas yang berisi tulisan, memiliki kehormatan yang tinggi karena merupakan kalamullah (firman Allah). Akhlak pertama yang harus dimiliki adalah memuliakan bentuk fisiknya. Ini berarti menjaga kebersihan mushaf, tidak meletakkannya di tempat yang rendah atau kotor, dan menghindarinya dari najis. Rasulullah ﷺ telah mengajarkan pentingnya menjaga kesucian, dan hal ini berlaku pula pada sarana penyampaian wahyu-Nya.
Di antara bentuk penghormatan fisik lainnya adalah membacanya dengan niat yang tulus dan penuh penghayatan, bukan sekadar memenuhi tradisi. Ketika memegang atau membawanya, seorang muslim seharusnya dalam keadaan suci (berwudu), sebagai bentuk penghormatan tertinggi terhadap kesucian kalam ilahi.
Etika Saat Membaca dan Mendengarkan
Akhlak kepada Al-Qur'an sangat terlihat jelas saat seseorang berinteraksi dengannya melalui bacaan. Proses membaca hendaknya diawali dengan ta'awudz (memohon perlindungan kepada Allah dari setan) dan basmalah. Ini adalah pengakuan bahwa membaca Al-Qur'an adalah ibadah yang membutuhkan bimbingan ilahi.
Selain itu, membaca dengan tartil (perlahan, jelas, dan sesuai kaidah) jauh lebih utama daripada membaca cepat tanpa pemahaman. Allah SWT berfirman: "Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan." (QS. Al-Muzzammil: 4). Kualitas bacaan mencerminkan kedalaman rasa hormat pembaca. Ketika mendengarkan bacaan Al-Qur'an, akhlaknya menuntut kita untuk diam, menyimak dengan hati yang terbuka, dan merenungkan maknanya, sebagaimana diperintahkan dalam Al-Qur'an sendiri.
Memahami dan Mengamalkan Kandungan
Puncak dari akhlak kepada Al-Qur'an bukanlah sekadar menghafal atau membaca dengan suara merdu, melainkan **mengamalkan isinya**. Al-Qur'an adalah konstitusi hidup. Jika kita benar-benar menghormati Allah sebagai Rabb kita, maka kita harus tunduk pada hukum dan petunjuk yang telah Dia tetapkan.
Akhlak ini termanifestasi dalam tindakan nyata, seperti:
- Menjadikan Al-Qur'an sebagai referensi utama dalam mengambil keputusan.
- Meneladani akhlak Nabi Muhammad ﷺ yang merupakan perwujudan Al-Qur'an berjalan.
- Berjuang untuk menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji dan menjauhi larangan-Nya.
- Memprioritaskan pembelajaran ilmu Al-Qur'an (tafsir, tajwid, dll.) bagi diri sendiri dan keluarga.
Menjaga Jarak dari Sikap Mengabaikan
Sikap buruk terhadap Al-Qur'an sering kali berupa pengabaian. Ini bisa terjadi ketika seseorang menjadikannya hanya sebagai penghias ruangan atau koleksi yang jarang disentuh setelah bulan Ramadhan usai. Mengabaikan Al-Qur'an adalah bentuk ketidaktaatan yang menyedihkan.
Pada hari kiamat kelak, Rasulullah ﷺ pernah mengeluhkan umatnya yang menjadikan Al-Qur'an sebagai sesuatu yang ditinggalkan. Oleh karena itu, menjaga hubungan interaktif—membaca, merenung, dan bertindak sesuai ajarannya—adalah kewajiban abadi seorang mukmin. Mencintai Al-Qur'an berarti mencintai sumber petunjuk yang menyelamatkan dari kesesatan. Membangun akhlak yang kokoh terhadap Al-Qur'an adalah investasi terbesar menuju kehidupan yang berkah di dunia dan akhirat.