Al- Maidah Ilustrasi Simbol Kitab Suci Al-Qur'an

Memahami Surah Al-Maidah dan Artinya

Surah Al-Maidah (سورة المائدة) adalah surah ke-5 dalam susunan mushaf Al-Qur'an. Surah ini tergolong surah Madaniyah, diturunkan setelah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah. Nama Al-Maidah diambil dari ayat ke-114, yang mengisahkan permintaan Nabi Isa 'Alaihissalam dan pengikutnya kepada Allah SWT untuk diturunkannya hidangan (Al-Maidah) dari langit sebagai bukti kebenaran.

Sebagai salah satu surah terpanjang, Al-Maidah memuat banyak sekali ketentuan hukum, prinsip-prinsip syariat, serta peringatan penting bagi umat Islam. Ayat-ayatnya membahas isu-isu krusial mulai dari pemenuhan janji, kehalalan makanan, hukum qisas (balasan setimpal), warisan, hingga hubungan sosial dengan Ahli Kitab. Membaca dan memahami artinya sangat penting agar kita dapat mengamalkan syariat Islam secara kaffah (menyeluruh).

Kandungan Utama Surah Al-Maidah

Secara garis besar, Surah Al-Maidah menekankan pentingnya menaati janji dan akad, baik janji kepada Allah maupun janji antar sesama manusia. Surah ini juga memperkuat prinsip keadilan dan larangan berbuat zalim, bahkan kepada orang yang dibenci.

1. Hukum dan Ketentuan Syariat (Ayat Awal)

Ayat-ayat awal Surah Al-Maidah langsung membuka dengan perintah untuk menunaikan janji dan larangan menghalalkan perburuan saat sedang berihram. Ini adalah pelajaran fundamental bahwa kepatuhan pada aturan ilahi harus didahulukan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ ۚ أُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيمَةُ الْأَنْعَامِ إِلَّا مَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّي الصَّيْدِ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ ۗ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ

(5:1) Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah segala akad (perjanjian) itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu (dilarang), dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang berihram. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum sesuai dengan kehendak-Nya.

2. Kehalalan Makanan dan Larangan Membangkang

Surah ini menegaskan kembali tentang makanan yang dihalalkan (seperti hewan ternak) dan yang diharamkan (seperti bangkai, darah, babi, serta hewan yang disembelih atas nama selain Allah). Ini merupakan fondasi penting dalam menjaga kesucian dan ketaatan dalam konsumsi sehari-hari.

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلَامِ ۚ ذَٰلِكُمْ فِسْقٌ

(5:3) Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, daging hewan yang disembelih atas nama selain Allah, yang dicekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih sebelum mati, dan (diharamkan) bagimu binatang yang disembelih untuk berhala, dan (diharamkan) mengundi nasib dengan anak panah. (Melakukan hal yang demikian) itu adalah kefasikan.

3. Kisah Hidangan (Al-Maidah)

Ayat ke-114 menceritakan doa Nabi Isa AS dan turunnya hidangan (Al-Maidah). Peristiwa ini menjadi mukjizat sekaligus pengingat bahwa rezeki yang datang dari Allah harus disyukuri dan tidak boleh diingkari.

قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا وَآيَةً مِنْكَ ۖ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

(5:114) 'Isa putera Maryam berdoa, "Ya Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit, (yang hari turunnya) itu akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang yang bersama kami dan yang datang setelah kami, dan menjadi tanda dari Engkau; berilah kami rezeki, dan Engkaulah Pemberi rezeki yang terbaik."

Pentingnya Keadilan dan Toleransi

Salah satu inti ajaran dalam Surah Al-Maidah adalah prinsip keadilan yang mutlak, bahkan terhadap kelompok yang berbeda pandangan. Ayat 8 menjadi landasan kuat dalam etika sosial seorang Muslim.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

(5:8) Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Ayat ini mengajarkan bahwa kebencian pribadi atau kelompok tidak boleh menjadi alasan untuk menzhalimi orang lain. Keadilan harus ditegakkan secara konsisten. Surah ini menegaskan bahwa Islam adalah agama yang paripurna, mencakup semua aspek kehidupan, mulai dari ibadah ritual hingga muamalah (hubungan sosial dan hukum). Mempelajari Surah Al-Maidah berarti memahami pondasi syariat Islam dalam konteks kehidupan bermasyarakat yang adil dan berintegritas.

Surah Al-Maidah juga membahas secara rinci mengenai hukum hudud (hukuman pidana) seperti hukuman bagi pencuri dan larangan membunuh jiwa tanpa hak, kecuali dalam kasus yang dibenarkan oleh hukum Islam (qisas). Prinsip qisas, sebagaimana dijelaskan dalam surah ini, sejatinya adalah pemeliharaan kehidupan, karena dengan adanya ancaman hukuman yang setimpal, masyarakat akan lebih aman dari tindak kriminalitas. Ayat qisas seringkali disalahpahami, padahal tujuan utamanya adalah pencegahan dan perlindungan terhadap jiwa manusia.

Lebih jauh, surah ini juga menyoroti pentingnya hubungan baik dengan komunitas agama lain (Ahli Kitab). Meskipun terdapat peringatan keras terhadap penyimpangan akidah mereka, Allah SWT memerintahkan Muslim untuk berinteraksi secara damai dan adil selama mereka tidak memerangi umat Islam karena agama mereka. Toleransi dalam bingkai syariat adalah tema yang berulang kali ditekankan di sepanjang Al-Maidah.

Secara keseluruhan, Surah Al-Maidah adalah konstitusi mini yang mengatur berbagai dimensi kehidupan seorang Muslim, mulai dari ritual haji, hukum makanan, etika berperang, hingga supremasi keadilan. Pemahaman yang mendalam terhadap setiap ayatnya sangat krusial bagi setiap mukmin yang ingin menerapkan ajaran Islam secara komprehensif dalam menghadapi tantangan kehidupan modern. Dengan merenungkan artinya, seorang Muslim diingatkan untuk senantiasa berpegang teguh pada janji Allah dan memelihara integritas moral di hadapan-Nya.

🏠 Homepage