Sebuah simbol integritas dan pertumbuhan karakter.
Akhlak, atau karakter moral dalam ajaran Islam, seringkali dipandang sebagai puncak pencapaian seorang Muslim. Ini bukan sekadar kumpulan perilaku lahiriah, melainkan manifestasi dari keyakinan batin seseorang. Para ulama sepanjang sejarah Islam telah mendedikasikan kajian mendalam mengenai bagaimana seorang Muslim seharusnya bertindak, berbicara, dan berinteraksi dengan sesama makhluk dan penciptanya. Akhlak yang mulia adalah bukti nyata keimanan yang sejati. Tanpa akhlak yang baik, ibadah ritual sering dianggap kurang sempurna di mata Allah SWT.
Syekh Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (w. 1111 M), seorang filsuf, teolog, dan sufi terkemuka, menempatkan pembahasan akhlak secara sentral dalam karyanya yang monumental, Ihya' Ulumuddin (Menghidupkan Kembali Ilmu-ilmu Agama). Bagi Al-Ghazali, akhlak adalah hasil dari penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Ia membagi akhlak menjadi dua kategori: tercela (madzmumah) dan terpuji (mahmudah).
"Inti dari akhlak yang baik adalah kejujuran, kesabaran, kerendahan hati, dan rasa syukur. Ini semua berasal dari kekuatan hati yang telah dibersihkan dari penyakit-penyakit seperti kesombongan, iri hati, dan cinta dunia." - Ringkasan pandangan Al-Ghazali
Al-Ghazali menekankan bahwa akhlak bukanlah bawaan lahir semata, tetapi bisa dibentuk dan dilatih melalui disiplin spiritual dan peneladanan terhadap sunnah Nabi Muhammad SAW. Proses ini memerlukan usaha keras untuk melawan dorongan hawa nafsu.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah (w. 1350 M), murid dari Ibnu Taimiyah, memiliki pandangan yang sangat menekankan aspek hubungan vertikal (dengan Allah) dalam membentuk akhlak horizontal (dengan sesama). Dalam kitabnya seperti Madarij as-Salikin, ia menjelaskan bahwa akhlak mulia adalah buah dari mahabbah (kecintaan) yang murni kepada Allah.
Menurut Ibnu Qayyim, seseorang yang benar-benar mencintai Tuhannya akan secara otomatis termotivasi untuk meneladani akhlak Rasulullah. Ini bukan sekadar kepatuhan karena takut sanksi, melainkan dorongan alami dari hati yang penuh cinta. Kerendahan hati, kasih sayang, dan kedermawanan adalah indikator utama seseorang berada dalam naungan cinta Ilahi.
Imam Yahya bin Syaraf An-Nawawi (w. 1277 M), seorang ahli hadis dan fikih besar dari mazhab Syafi'i, sangat memperhatikan aspek adab (etika) dalam beragama, khususnya saat menuntut ilmu. Dalam Al-Adab dan Riyadhus Shalihin, ia banyak mengumpulkan hadis-hadis tentang tata krama.
"Ilmu tanpa adab seperti pohon tanpa buah. Bahkan, terkadang ilmu yang banyak dapat menjadi celaka jika pemiliknya tidak memiliki adab kepada guru, teman, dan penguasa." - Pesan tersirat dari fikih Imam Nawawi
Bagi Imam Nawawi, akhlak yang baik harus terwujud dalam setiap langkah seorang penuntut ilmu: mulai dari niat yang ikhlas, menghormati guru, bersabar dalam belajar, hingga cara mengamalkan ilmu tersebut di tengah masyarakat. Adab adalah pemanis ilmu.
Berbagai pandangan dari para ulama besar ini menunjukkan konsensus bahwa akhlak adalah inti ajaran Islam. Al-Ghazali mengajarkan pembersihan hati, Ibnu Qayyim menekankan akhlak sebagai manifestasi cinta, dan Imam Nawawi menyoroti etika dalam kehidupan sehari-hari dan menuntut ilmu. Ketiganya mengarah pada satu tujuan: bahwa seorang Muslim harus menjadi rahmat bagi lingkungannya. Akhlak yang mulia adalah jembatan antara ritual ibadah di masjid dengan perilaku nyata di pasar, rumah, dan tempat kerja. Mempelajari akhlak menurut para ulama ini adalah undangan untuk merefleksikan kualitas diri dan terus berjuang memperbaiki karakter demi mencapai keridhaan Allah SWT.