Ilustrasi: Cahaya Kebijaksanaan dari Sumber Ilmiah
Pengantar Telaah Akhlak dalam Pandangan M. Quraish Shihab
Prof. Dr. M. Quraish Shihab, seorang cendekiawan muslim terkemuka Indonesia, telah memberikan kontribusi signifikan dalam pemahaman ajaran Islam, termasuk konsep akhlak. Bagi Quraish Shihab, akhlak bukanlah sekadar ritual atau seperangkat etika yang terpisah dari kehidupan sehari-hari, melainkan merupakan inti dari ajaran Islam itu sendiri. Penekanannya selalu pada aspek kontekstual dan humanis dari ajaran Islam, yang tercermin kuat dalam pandangannya mengenai pembentukan karakter mulia.
Dalam berbagai karyanya, Quraish Shihab seringkali menggarisbawahi bahwa akhlak bersumber utama dari Al-Qur'an dan Sunnah, namun implementasinya harus selalu relevan dengan konteks zaman dan kondisi sosial masyarakat. Ia melihat bahwa antara iman (keyakinan), Islam (tunduk), dan ihsan (perbuatan baik/kesempurnaan) terdapat hubungan simbiotik yang tak terpisahkan. Iman yang benar niscaya akan melahirkan amal, dan amal terbaik adalah akhlak yang terpuji.
Akhlak sebagai Manifestasi Iman Sejati
Quraish Shihab kerap mengingatkan bahwa pemahaman dangkal mengenai ibadah ritual tanpa diiringi perbaikan akhlak adalah ibadah yang belum sempurna. Beliau sering mengutip ayat-ayat yang menekankan bahwa kualitas keimanan seseorang diukur dari perilakunya terhadap sesama manusia dan lingkungannya. Akhlak, dalam perspektif ini, menjadi barometer sejati keislaman seseorang. Jika seseorang rajin salat, puasa, dan haji, namun ia masih berlaku zalim, dusta, atau kikir, maka kualitas imannya patut dipertanyakan.
Penekanan ini sangat vital karena di era modern, banyak umat muslim cenderung fokus pada ritual mahdhah (ibadah khusus) sementara melupakan muamalah (interaksi sosial). Quraish Shihab mendorong pembaca untuk melihat bahwa setiap tindakan, sekecil apa pun, yang didasari niat baik dan menghasilkan kebaikan bagi orang lain, adalah bagian dari upaya mencapai kesempurnaan akhlak (ihsan).
Inklusivitas dan Rahmatan Lil 'Alamin
Salah satu ciri khas pemikiran Quraish Shihab adalah sifatnya yang inklusif. Ketika membahas akhlak, ia selalu mengaitkannya dengan konsep rahmatan lil 'alamin (rahmat bagi seluruh alam). Akhlak mulia tidak terbatas pada sesama muslim saja, melainkan meluas kepada seluruh umat manusia tanpa memandang suku, agama, atau latar belakang. Ini sejalan dengan peran Nabi Muhammad SAW sebagai uswatun hasanah (teladan yang baik) yang diutus untuk seluruh semesta.
Menurutnya, bersikap adil, menghormati perbedaan pendapat, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan adalah manifestasi utama dari akhlak Qur'ani. Etika berdialog, sikap toleransi, dan penolakan terhadap segala bentuk kekerasan adalah prasyarat mutlak bagi seorang Muslim yang berakhlak mulia. Pandangan ini membantu membumikan ajaran Islam agar terhindar dari fanatisme sempit yang seringkali mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan universal.
Pentingnya Akal dan Kontekstualisasi
Quraish Shihab juga menekankan peran akal sehat dalam memahami dan menerapkan akhlak. Ia tidak menganjurkan taklid buta, melainkan mengajak umat untuk berpikir kritis dan kontekstual. Perubahan zaman menuntut pemahaman baru tentang bagaimana nilai-nilai akhlak lama dapat diterapkan dalam situasi baru. Misalnya, bagaimana menerapkan akhlak jujur dalam transaksi digital atau etika dalam penggunaan teknologi informasi.
Proses ijtihad dalam ranah akhlak sangat diperlukan agar ajaran Islam tetap menjadi solusi, bukan hambatan. Akhlak yang diajarkan haruslah dinamis namun tetap berpegang teguh pada prinsip dasar keadilan dan kasih sayang. Dengan demikian, akhlak menurut Quraish Shihab adalah sebuah disiplin ilmu yang hidup, yang terus menerus diasah melalui refleksi, kajian mendalam terhadap teks suci, dan observasi terhadap realitas kehidupan. Membangun akhlak adalah membangun peradaban yang berkeadilan dan beretika.