Ilustrasi: Cerminan Wahyu (Al-Qur'an) dalam Tindakan (Nabi).
Pernyataan bahwa akhlak Nabi Muhammad SAW adalah Al-Qur'an bukanlah sekadar pujian retoris, melainkan deskripsi otentik yang diakui oleh sumber primer Islam. Ketika istri beliau, Aisyah RA, ditanya mengenai akhlak Rasulullah, beliau menjawab singkat namun padat: "Akhlak beliau adalah Al-Qur'an." Jawaban ini merangkum totalitas penjelmaan ajaran ilahi dalam pribadi manusia yang paling mulia.
Al-Qur'an, sebagai firman Allah SWT, berisi panduan komprehensif mengenai etika, moralitas, hukum, dan tata krama kehidupan. Bagi Rasulullah, Al-Qur'an bukanlah sekadar teks yang dibaca dan dihafal, melainkan cetak biru yang dihayati dan dipraktikkan secara konsisten dalam setiap aspek kehidupan. Setiap ayat yang diturunkan segera diimplementasikan oleh beliau, menjadikannya teladan hidup yang sempurna.
Integritas Rasulullah SAW adalah bukti nyata bahwa ajaran Al-Qur'an dapat diterapkan secara universal. Karakteristik seperti kejujuran (As-Siddiq), kepercayaan (Al-Amin), kasih sayang, kesabaran di tengah kesulitan, serta keberanian dalam membela kebenaran, semuanya termaktub dalam wahyu. Umat Islam menyaksikan bagaimana Nabi menghadapi pengkhianatan dengan pengampunan, dan bagaimana beliau berinteraksi dengan musuh sekalipun dengan rasa hormat yang mendasar.
"Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas budi pekerti yang agung." (QS. Al-Qalam: 4)
Ayat ini menegaskan bahwa keagungan moral beliau adalah bawaan dan tuntunan langsung dari Allah. Tidak ada kontradiksi antara apa yang beliau ajarkan melalui lisan dan apa yang beliau tunjukkan melalui perbuatan. Inilah yang membedakan kenabian beliau; beliau adalah 'Al-Qur'an yang berjalan' (Walking Qur'an).
Memahami bahwa akhlak Nabi adalah Al-Qur'an menuntut umat Islam untuk meneladani beliau bukan hanya dalam ibadah ritual (shalat, puasa), tetapi juga dalam interaksi sosial. Al-Qur'an mengajarkan tentang keadilan sosial, perlakuan terhadap anak yatim dan fakir miskin, serta etika bermuamalah (berdagang atau berinteraksi). Nabi Muhammad SAW melaksanakan semua ini dengan standar tertinggi.
Misalnya, ketika Al-Qur'an memerintahkan untuk memaafkan, Nabi mewujudkannya melalui pembebasan penduduk Mekkah pasca-penaklukan. Ketika Al-Qur'an menekankan pentingnya tawadhu' (kerendahan hati), beliau tetap melayani keluarganya, membersihkan rumah, dan duduk di mana pun majelis mengizinkan tanpa menuntut tempat kehormatan khusus.
Transformasi masyarakat Arab dari suku yang sering berperang menjadi umat yang bersatu di bawah panji Tauhid adalah bukti efektivitas akhlak Nabi sebagai implementasi Al-Qur'an. Jika seorang pemimpin membawa ajaran yang radikal—seperti kesetaraan antara pemilik budak dan budaknya—tetapi ia sendiri gagal melakukannya, ajaran tersebut akan runtuh. Namun, karena Nabi Muhammad SAW secara pribadi hidup sesuai dengan tuntutan Al-Qur'an yang tinggi, ajaran tersebut menjadi kokoh dan diterima oleh pengikutnya.
Oleh karena itu, mempelajari sirah (sejarah hidup) Nabi bukan sekadar mempelajari biografi, melainkan mengkaji bagaimana firman Allah diterjemahkan menjadi etos hidup yang paling mulia. Seluruh aspek kehidupan beliau, dari cara makan, tidur, berbicara, hingga cara memimpin negara, menjadi tafsir praktis dan abadi dari Al-Qur'an. Bagi setiap Muslim, mengikuti sunnah Nabi adalah upaya untuk meneladani Al-Qur'an yang telah dihidupkan oleh beliau.