Visualisasi Bahtera Nabi Nuh di tengah cobaan.
Sejarah kenabian mengajarkan umat manusia tentang siklus kekhilafan dan peringatan yang berulang. Salah satu kisah paling monumental yang menegaskan pentingnya moralitas dan ketakwaan adalah kisah Nabi Nuh Alaihis Salam. Diutus oleh Allah SWT, misi utama Nabi Nuh adalah sebuah panggilan mendesak untuk membenahi kerusakan moral yang telah merajalela di kalangan kaumnya.
Negeri tempat Nabi Nuh diutus telah tenggelam dalam kesesatan yang mendalam. Kekufuran bukan sekadar masalah keyakinan, tetapi telah meresap menjadi gaya hidup. Akhlak manusia di sana telah runtuh total. Mereka menyembah berhala-berhala yang mereka ciptakan sendiri—Wadd, Suwa', Yaghuts, Yauq, dan Nasr—sebagai tandingan kepada Sang Pencipta. Kemaksiatan dilakukan secara terang-terangan, dan nilai-nilai keadilan serta kemanusiaan telah terpinggirkan.
Dalam kondisi seperti inilah, Allah memilih seorang hamba-Nya yang saleh, Nabi Nuh, untuk menjadi juru peringatan. Tugasnya bukan hanya mengajak mereka beriman kepada tauhid, tetapi secara inheren, memperbaiki akhlak mereka yang bobrok. Karena tanpa keimanan yang benar, mustahil terpelihara akhlak yang luhur. Mereka sombong, meremehkan orang miskin, dan hidup dalam kezaliman yang sistematis.
Nabi Nuh mengemban amanah kenabian dengan kesabaran yang luar biasa. Sebagaimana diceritakan dalam Al-Qur'an, ia berdakwah kepada kaumnya siang dan malam, secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, selama rentang waktu yang sangat panjang—yakni sembilan ratus lima puluh tahun. Sepanjang periode dakwah ini, pesan yang terus diulang adalah ajakan kembali kepada fitrah, kepada ketaatan kepada Allah SWT, dan meninggalkan perbuatan tercela.
“Hai kaumku, sembahlah Allah; sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar,” seru Nabi Nuh. Seruan ini secara otomatis menuntut perubahan radikal dalam perilaku mereka. Bagaimana mungkin seseorang bisa menyembah Allah yang Maha Suci sementara ia terus menerus melakukan penindasan dan kebohongan?
Namun, respons yang diterima Nabi Nuh adalah penolakan yang keras. Kaumnya menuduhnya pendusta, gila, dan bahkan menuntutnya untuk mengusir orang-orang lemah yang telah beriman kepadanya. Mereka melihat iman sebagai aib, dan kesombongan sebagai kebanggaan. Inilah bukti nyata bagaimana akhlak yang buruk mengunci hati mereka dari kebenaran.
Kegagalan kaum Nuh untuk menerima pesan perbaikan moral dan tauhid hingga batas akhir yang ditentukan Allah menjadi titik balik sejarah. Ketika Nabi Nuh putus asa karena semua usahanya gagal mengubah mereka dari perbuatan maksiat dan kesyirikan, Allah kemudian memberikan wahyu untuk mempersiapkan azab.
Pesan dari kisah ini sangat jelas: Perbaikan akhlak adalah syarat mutlak diterimanya petunjuk ilahi. Seseorang tidak bisa mengklaim beriman sementara tindakannya merusak tatanan sosial, menindas sesama, dan menolak kebenaran. Azab banjir besar yang menimpa mereka adalah konsekuensi logis dari penolakan kolektif mereka terhadap ajaran perbaikan diri yang dibawa oleh Nabi Nuh.
Hanya mereka yang mau mengikuti petunjuk (termasuk keluarga Nabi Nuh, kecuali istrinya dan salah satu putranya yang ingkar) yang diselamatkan di dalam bahtera. Bahtera itu bukan hanya alat transportasi fisik dari banjir, tetapi simbol penyelamatan spiritual bagi mereka yang memilih untuk meninggalkan keburukan dan berpegang teguh pada ajaran yang membawa keselamatan dunia dan akhirat. Kisah Nabi Nuh adalah pengingat abadi bahwa integritas moral adalah pondasi dari hubungan yang benar dengan Tuhan dan sesama manusia.